“Apa itu suara Rio?” tanya Hendra. Pandu segera mencekal tangan Rio erat, membuat empunya menyadari kalau dirinya tengah telepon, dan kini diam tak lagi bermanja padanya, “Bukan, aku di rumah. TV-nya kumatikan dulu.” Dengan sengaja menjauhkan ponselnya, “Diamlah dulu.” Pandu berdesis ke Rio. Dia tak ingin Hendra tahu kalau dirinya di rumah Rio saat ini. Rio mengangguk, “Maaf.” Menjawab juga dengan suara yang teramat pelan. Pandu pun menjauh dari Rio, “Dari mana kita tadi?” tanyanya ke Hendra. Tatapannya tetap ke Rio agar dia tahu kalau Rio akan mengganggunya lagi, dan bisa mencegah. “Gym di Bali sangat kondusif, aku mungkin lebih sering di Surabaya, dan ada hal yang lebih penting lagi,” Hendra menarik napas dalam, dia tak mungkin menyembunyikan yang satu ini dari Pandu, “aku akan tingg

