Pintu terbuka, bunda Tari terkejut melihat putrinya sendiri, “Ada apa, Sayang?” tanyanya yang segera mendapatkan pelukan dari Tari. Tak ada kata yang mampu dikatakan, Tari hanya ingin sebuah ketenangan malam ini, meski esok belum tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. “Ssssttttt! Masuk dulu, ya?” bunda Tari segera mengunci pintu, mengantar putrinya ke kamar, saat Tari memilih untuk tidur dengannya saja, bunda Tari pun mengabulkannya. Mengusap rambut putrinya dengan sayang, isak-kan itu mereda dan terganti dengan dengkur halus. Setelah Tari bisa ditinggal, dia pun segera menelepon Pandu. Pandu yang saat ini sedang membantu Rio mencapai ejakulasinya, dengan napas tersengal menerima ponsel yang diulurkan oleh Hendra padanya, “Iya, Bund?” tanyanya saat tahu bunda Tari yang menelepon.

