Pandu diam di kursi dengan bolpoin di tangan yang menopang dagu, “Wanita memang sepenuhnya sempurna, tapi kalau kamu dan Rizky menyukai wanita yang sama, ambil atau rebut dengan elegan, jangan membuat namamu atau bahkan nama orang tuamu malu, paham?” kalimat yang terlontar dari papanya, terus menggema di telinga. Pandu tidak pernah menyangka kalau papanya mengetahui semua ini, bahkan mungkin mamanya juga tahu, semua karena mamanya yang menyebut nama Tari, andai saja tidak. Hendra mendekat ke Pandu, segera duduk dengan menjatuhkan b****g dengan keras, membuat kursi berdecit menandakan kehadirannya. “Berengsek kalian.” desisnya membuat Pandu menoleh. Cukup terkejut, Hendra tiba-tiba seolah turun dari langit, “Ada apa?” tanyanya sambil merapikan rambut. “Rio membohongiku, semalam dia mene

