Berubah

977 Kata
Siang itu Risa dan Bima dikejutkan oleh kehadiran seorang preman di depan rumah mereka. Ia sedang duduk di depan pintu. "Ada apa ya, Mas?" tanya Risa para preman tersebut sambil memegangi lengan suaminya. "Ibu! Kenapa pulangnya lama?!" bentak Teddy dengan gemulainya. Sontak Bima menepuk pundak anaknya itu karena terkejut. "Ayah! Teddy sakit..." Teddy hendak menangis. "Ini Cah Lanang Ibu?!" jerit Risa menjamahi pipi anaknya itu. "Teddy udah bisa tinju, Bu. Teddy juga disuruh Roy pakai baju ini biar keliatan Rockeeeer!" jerit Teddy penuh semangat. "Rocker apa kayak gini? Tadi kita kira kamu preman," bantah Bima. "Ini Rocker, Yah. Ayah ga tahu trend sih," gerutu Teddy. "Laki tuh pakai jas, rambutnya disisir rapi. Kalo kayak gini? Mirip berandalan kamu, Teddy," jelas Bima penuh sabar agar anaknya tak marah. "Tapi Jesika suka kalo Teddy pakai baju kayak gini," ucap Teddy menekuk wajahnya. "Jesika? Siapa?" Bima merasa asing dengan nama itu. "Jesika itu pacar Teddy." Kalimat itu membuat kedua pasang bola mata yang ada di hadapan Teddy terbelalak saling menatap. *** Rifki membonceng Sarah dan membawanya pulang. Tangan Sarah melingkar sempurna di perut Rifki. Ia masih menangis dan terus menangis. Menyadari hal tersebut, Rifki membawa Sarah ke sebuah tempat sepi, sangat sepi. Sarah tak berniat turun dari motor Rifki karena takut akan terjadi sesuatu yang tak ia inginkan lagi. Rifki menatap lekat wajah Sarah. Sarah hanya tertunduk diam menahan isak tangisannya yang kini telah membuatnya pilek. Sarah memberanikan diri untuk melirik wajah Rifki yang sedari tadi berbalik menatapnya. Rifki menggerakkan alisnya sebagai isyarat bahwa ia menyuruh Sarah turun. Namun Sarah kembali tertunduk dan tak menuruti perintah itu. "Turun," ucap Rifki mengejutkan Sarah. Dengan cepat ia menuruti perintah Rifki. Sarah benar-benar tak bisa membantah ataupun melawan. Ia hanya sendiri di sini. Mungkin saja Rifki ingin membalas perbuatan Sarah yang sudah berani merendahkan harga dirinya di depan Dewa pada malam hari itu. Rifki menarik tangan Sarah dan berjalan menyusuri pohon-pohon besar yang sudah kering. Sarah semakin enggan menuruti Rifki lagi. Kemana dia akan dibawa dari pria itu? Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Imajinasi Sarah semakin liar jika membayangkan betapa kejamnya pria yang sedang bersamanya itu. Mungkin saja Rifki akan memperkosanya di tempat ini. Bahkan, Bisa saja Rifki akan membunuhnya. Sarah menghentikan langkah kakinya. Rifki pun ikut terhenti. Ia kembali menatap wajah Sarah dan Sarah kembali tertunduk diam. Rifki kembali menarik tangannya namun Sarah mulai semakin memiliki keberanian untuk menolak. "Ma—mau ke mana?" tanya Sarah tergagap. "Ke mana?" Rifki mengernyitkan keningnya. "G—gua ma—mau balik!" tegas Sarah masih dengan nada takut. Rifki melirik wajah Sarah sekilas dan kembali menarik tangan Sarah semakin masuk ke dalam hutan kering tersebut. Mereka sampai di sebuah danau yang juga sudah mengering. Sarah tak berani bersuara lagi. Ia hanya terdiam menuruti perintah Rifki. Sarah terdiam tak mengerti. Mengapa Rifki membawanya ke tempat ini? Apa yang Rifki inginkan? Rifki yang semulanya hanya terdiam, kini mulai mengeluarkan suaranya. "Kenapa lu ga teriak?" tanya Rifki. Sarah menatapnya tak mengerti. Kenapa juga ia harus berteriak di tempat ini? Sarah baru mengerti. Kenapa ia dibawa ke tempat ini? Karena Rizka selalu menemaninya menangis di tempat ini sewaktu kecil. Danau ini berada tepat di belakang rumah Teddy waktu mereka masih berusia 8 tahun. Sekarang semuanya telah kering dan sepi. Sarah berjalan dan melihat sekitar danau kering itu. Saat ia merasa telah lumayan jauh dari Rifki, ia pun berteriak, "AAAAAARRGHHHHHH!!!" Teriakan itu membuat Rifki menoleh dan segera berlari menghampiri Sarah. Mungkin saja sesuatu terjadi padanya. Namun, pelarian itu terhenti setelah mendengar teriakan Sarah yang berikutnya. "SALAH GUA APA SIH?!" Rifki berdiri dari kejauhan, menatap gadis yang sedang memakai jaketnya itu. "BANG DEWAAA!" Sarah mulai ingin menangis. "GUA CAPEK SEKOLAH!! GUA CAPEK PURA-PURA BIASA AJA!! GUA JUGA CAPEK SAMA KEHIDUPAN INI!!!" Sarah menangis dan tersedak liurnya sendiri. "Kenapa gua ga kayak orang lain?!" ucapnya pelan. "Gua juga mau berantem. Gua juga mau nindas orang. Gua juga mau jadi preman jalanan yang tanpa dosa!" jeritnya sambil menangis, terduduk di tanah. "Hhheeeeeeeggh hegh hegh!!" Sarah menangis hingga meraung. Rifki berdiri di belakang Sarah. Air matanya menetes. Segera ia mengusapnya. Sangat tidak lucu jika Sarah melihat Rifki yang selemah ini. Rifki berjongkok dengan satu kaki, menatap punggung Sarah yang masih gemetar dengan mulutnya yang terus meraung. Rasa sesak yang berada di dalam d**a Rifki, membuat kepalanya tersandar di punggung itu. "Heeeeeegh hegh hegh ... Gua juga mau jadi orang jahat, Rif!" jerit Sarah dalam tangisannya. "Tapi kenapa gua ga bisa kayak elu?! Kenapa gua ga bisa kayak Rizka?! Kenapa gua lemah kayak gini?! Dengan gampangnya tubuh gua dipegang-pegang dari oraaaang!!" Tangisan Sarah semakin menjadi. Rifki melingkarkan tangannya, memeluk Sarah dari belakang. Air mata Rifki mengalir dan membasahi punggung jaket yang ada di tubuh Sarah, saat mendengar racauan tersebut. Maaf. Harusnya Rifki memohon maaf kepada Sarah. Tetapi, lagi-lagi lidahnya terlalu gengsi untuk mengemis ampunan. "PACARAN JANGAN DI SINI, WOI!!" teriakan itu mengejutkan mereka. Dengan cepat Rifki melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Rifki terus mencoba mengalihkan wajahnya dari tatapan Sarah. Tentu ia tak ingin Sarah melihat mata lemah yang Rifki miliki. "SARAH!!" teriakan itu berasal dari Rizka yang menghampiri mereka. "Pantesan gua liat ada motor ijo-ijo kayak tae sapi, motornya Abang Tercinta gua ternyata," ejek Rizka sambil cengengesan. Tiba-tiba air mukanya berubah saat melihat mata merah milik Sarah. "Lu kenapa, Sar?!" bentak Rizka menghampiri sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi Kakak Iparnya itu. "Lu apain dia, Rif?!" tunjuknya pada Rifki. "Woi, jawab. Kenapa pada diem-dieman?" oceh Rizka. "Banyak masalah, Riz," jawab Sarah dengan suara serak. "Serius, lu ga diapa-apain dari Rifki, kan?!" Rizka memang sudah kenal seperti apa Abangnya itu. "Ga kok, Rifki yang bawa gua ke sini. Gua juga udah lupa ini di mana. Udah berubah soalnya," ucap Sarah sambil menahan pileknya. "Semua bisa berubah tanpa lu sadari," ucap Rifki berlalu meninggalkan mereka berdua. "IYA, KAYAK PERASAAN LU SAMA SARAH, KAN?!" teriak Rizka mengejek saudara kembarnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN