Kembar Bukan Berarti Sama
Pagi itu, Rizka dan Rifki mengendap-endap mendorong motor masing-masing menuju pagar rumahnya untuk berangkat sekolah. Harusnya mereka menjemput Teddy dan Sarah untuk berangkat sekolah bersama. Mereka berdua memang tidak pernah menginginkan perjodohan itu terjadi. Secepat mungkin, mereka harus membuat perjodohan itu dibatalkan oleh Ibu dan Ayahnya.
"Dorong motornya! Cepat!" jerit Rifki menghardik adiknya itu. Rizka dengan bersusah payah mendorong motornya menuju pagar. Para security hanya memerhatikan pola tingkah mereka.
"Rizka! Rifki!" teriak Fauziah dari dalam rumah.
"Ibu ibu ibu!" Dengan cepat mereka menyalakan motornya dan menarik full gasnya. Security kalang kabut membuka pintu gerbang dan seketika mereka melewatinya dan melaju sangat kencang.
"Kelakuan anak! Astagfirullah!" Fauziah masih memerhatikan bayang-bayang anaknya yang sudah pergi dari depan pintu rumah.
"Bu, Rizki sama Rifka berangkat dulu." Rizki mencium punggung tangan ibunya, Rifka pun sama.
"Iya, hati-hati ya." Fauziah masih merasa kesal dengan kelakuan kedua anak kembarnya yang nakal.
Rizki dan Rifka berboncengan menaiki motor menuju sekolah. Rifka memang tak pandai mengendarai motor. Poin tambahan untuk Rizki membonceng wanita yang ia sukai sejak kecil itu.
Rizki tahu bahwa perasaan ini adalah dosa. Namun, semakin ia mencoba menghapus perasaan itu, kehadiran Rifka yang selalu ia jumpai setiap hari semakin menyirami benih perasaan tersebut.
Terlebih lagi saat Rizki mengetahui bahwa Rifka juga mencintainya. Bagai pupuk yang tepat untuk menanam rasa cinta. Mereka terus menyirami dan memupuknya hingga tumbuh dan berbunga saat ini.
Mereka terus tersenyum sepanjang jalan, ditambah tangan Rifka yang melingkar di perut Rizki. Rizki memang tak sekeren Rifki, sang kembar tertua. Tetapi, Rifka tetap menyukai sosok Abangnya itu.
***
Di sekolah, Rifki bertemu dengan Sarah, wanita yang akan dijodohkan dengannya. Sarah tengah terduduk di parkiran. Isi tasnya berhamburan ke sana kemari. Sarah begitu ketakutan saat mengetahui kehadiran Rifki. Rifki yang hanya melirik sekilas dan berlalu menuju kelasnya membuat Sarah mengucap rasa syukur, setidaknya Rifki tak turut mengganggunya di waktu sepagi ini.
"Lu kenapa, Sar?" tanya Rizka yang baru sampai dengan sigap mengemasi barang-barang Sarah yang berhamburan.
"Ga apa-apa, makasih." Sarah menyandang tasnya dan meninggalkan Rizka. Kehadiran Rifki yang baru sampai dan Sarah yang terduduk di lantai, membuat Rizka mengepal tangannya menahan kesal pada Rifki. Ia berpikir bahwa Rifki kembali menindas Sarah. Rizka berlari menyusul abangnya yang sialan itu.
Rizka menghentikan langkahnya di depan pintu kelas. Teddy si pria gemulai yang dijodohkan padanya itu sedang merentangkan tangan agar Rizka tak bisa masuk ke dalam kelas. Rizka mencoba untuk masuk, namun Teddy tak membiarkannya. Teddy terus merentangkan tangannya lebih lebar, selebar lapangan bola. He he ga dong, lu kata dia emaknya incredible family yang tangannya bisa melar?
"Apa sih, Ted?!" Rizka berdecap kesal.
"Rizka harus klarifikasi tentang perjodohan kita! Teddy ga bisa jawab semua pertanyaan anak-anak di sini. Teddy juga ga mau ya kalau kita sampai nikah. Ga kebayang deh gimana bentuk anaknya kalo emaknya kayak Rizka!" Teddy memang cerewet dan sok kecantikan. Meski dia terlahir dengan burung permanen, tetap saja jiwa dan batinnya disponsori oleh bunga-bunga dan boneka beruang merah muda.
"Gua juga najis banget sama lu!" bantah Rizka menerobos masuk.
"Pokoknya Rizka harus klarifikasi!" Teddy mengetuk-ngetuk kepalanya dengan pulpen yang di atasnya memiliki per spiral dengan gambar beruang merah muda.
"Lu apa in lagi si Sarah?!" Rizka menggebrak meja Rifki. Rifki hanya meliriknya malas tanpa jawaban.
"Serunya apa sih gangguin anak orang?!" bentak Rizka pada Abangnya itu.
"Gua ga gangguin dia. Pas dengar kalimat lu, jadi terinspirasi buat gangguin dia," balas Rifki.
"Jadi siapa yang gangguin dia tadi di parkiran?" tanya Rizka.
"Mana gua tahu." Rifki berbaring di atas meja.
"Gua ga mau perjodohan kita terjadi," gumam Rifki pelan.
"Gua juga ga mau." Rizka menarik kursi, duduk di sebelah Rifki dan turut berbaring.
"Apa pun yang terjadi! Kita harus buat perjodohan ini dibatalin!" tegas Rifki penuh semangat menatap adik perempuannya yang juga seumuran dengannya itu.
***
Sore hari sepulang sekolah, dirumah hanya ada Rifka dan Rizki. Karena Rizka dan Rifki sedang berlatih boxing. Sedangkan kedua orangtua mereka pergi mengunjungi Nyonya Isabel yang berstatus Buyut si kembar.
Rifka yang sedang menonton televisi merasa terganggu akan kehadiran Rizki yang terus menyandarkan kepalanya di pundak Rifka. Salah-salah para pelayan di rumah mereka bisa melihat kejadian tidak wajar yang terjadi pada saudara kembar itu.
"Menjauhlah!" perintah Rifka pada abangnya itu. Rizki menjauhkan kepalanya dan menatap tegap televisi di hadapan mereka.
"Rumah sedang sepi, haruskah kita melakukannya sebelum mereka kembali?" bisik Rizki sambil terus menatap televisi.
"Apa ada pelayan di depan tangga?" Rizka ikut berbisik. Niat b***t mereka kembali muncul untuk melakukan hal keji dan tak seharusnya dilakukan oleh sepasang remaja yang belum menikah terlebih lagi mereka adalah saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama dan hari yang sama.
Rizki melirik ke arah tangga sebentar. "Yuk!" ajaknya setelah mengetahui posisi aman tengah berpihak kepada mereka.
Rifka dan Rizki segera berlari memasuki kamar Rifka dan langsung melumat bibir satu sama lain saat pintu kamar tersebut telah tertutup dan terkunci sempurna. Mereka juga melakukan hal yang sudah biasa menurut mereka, namun tabu untuk semua orang. Rizki juga menjamahi setiap lekuk tubuh adiknya itu dan merebahkannya di atas kasur. Tanpa menunda-nunda waktu lagi, mereka b********h tanpa rasa bersalah.
Rizki segera keluar dari kamar itu saat telah merasa lelah. Rifka masih terkulai lemas di sana. Perlahan ia mengangkat tangannya dan mengenakan pakaiannya kembali dan kembali terbaring di atas kasur lalu tertidur.
Jika kalian bertanya kenapa mereka seberani itu melakukannya. 'Terbiasa' itulah jawabannya. Jangan tanyakan kapan pertama kali mereka melakukannya.