Penyelamat

754 Kata
"Gua juga ga tahu kenapa gua dijodohin!" teriak Rizka sambil melayangkan tangannya yang berbalut sarung tinju ke samsak yang padat di hadapannya. "Setidaknya lu kan bisa nolak, Riz!" bantah Roy, pacar Rizka. "Maksud lu, gua mau dijodohin gitu?!" Semakin kuat Rizka menghantam samsak itu hingga terayun 45°. "Kenapa lu ga nolak?" Roy terus menduga bahwa Rizka mengatasnamakan perjodohan itu hanya untuk mengakhiri hubungan mereka. "Gua mau nolak gimana lagi?! Ibu sama Ayah gua udah mutusin, lulus sekolah gua harus tunangan sama Teddy!" Rizka benar-benar kesal. Ia mendorong samsak itu dengan sekuat tenaganya dan berjalan melepas sarung tinju yang ia gunakan dengan cara menggigitnya, menghempasnya dan menggapai jaketnya. "Lulus? Ujian Nasional tinggal 6 bulan lagi, Riz! Terus gua gimana kalo lu tunangan sama dia?!" Roy pun ikut berteriak-teriak dibuatnya. Rizka meninggalkan Roy begitu saja. Tidak hanya Roy, dia pun juga merasa tersiksa dengan perjodohan itu. *** Sementara itu yang terjadi di rumah mereka. Rifka dan Rizki sedang makan berdua di meja makan. "Tumben, kok Rifki sama Rizka belum pulang ya?" ucap Rifka sambil terus menyantap makanannya. "Ayah sama Ibu juga. Katanya cuma ke rumah Uyut, tapi belum pulang sampai malam gini," Rizki menimpali obrolan adiknya itu. Mereka harus bersikap senormal mungkin di hadapan para pelayan yang sedang menunggu mereka makan. *** Rizka telah pulang terlebih dahulu. Rifki yang baru menyelesaikan latihannya pulang sendiri hari ini. Mengendarai motornya di jalanan. Tak sengaja ia bertemu Sarah. Ya, jalanan itu menuju rumah Sarah. Ia sempat mengurangi kecepatan motornya. Namun, segera ia menariknya kembali. "Rifki!" teriak seorang wanita paruh baya membuat Rifki menghentikan laju motornya secara mendadak. Itu adalah Lea, Ibu Sarah. Rifki turun dari motornya dan melepas helmnya, tersenyum ramah pada Lea dan menyalimnya tanpa perintah. "Malam Tante," sapanya ramah. "Mampir dulu yuk ke rumah Tante. Kamu habis latihan?" Lea yang telah lama mengenal kedua orangtua Rifki pun begitu ramah dengannya. "Iya Tante," jawab Rifki tak bisa menolak. Sekedar sikap menghargai tawaran dari Lea saja. Dia memang tak menyukai Sarah tapi bukan berarti dia juga harus membenci orangtuanya. Rifki cukup lama berada di rumah Lea. Mereka mengobrol tentang perjodohan dan tanggal pertunangan antara Rifki dan Sarah. Tiba-tiba Lea mengingat sesuatu yang ia lupakan yakni anak gadisnya. "Kok Sarah belum balik juga ya? Padahal tadi Tante cuma nyuruh dia ke warung. Udah 2 jam loh ini," ucap Lea panik. "Mungkin sebentar lagi." Rifki mencoba menenangkannya. Semakin lama menunggu, semakin larut malam dan Sarah belum juga kembali. "Dewaaa! Dewaaa!" teriak Lea memanggil anak sulung hasil pernikahannya sebelum bersama Rega, Ayah Sarah. Dewa menghampiri ibunya dengan malas. "Sarah udah dari tadi belum pulang! Cari dia!" perintahnya. "Dari kapan?" tanya Dewa yang malah ikut duduk di sebelah Rifki. "Dari jam 7 tadi! Sekarang udah jam 9!" jerit Lea. "Kenapa baru bilang?!" bentak Dewa berdiri. "Cepat cari dia!" perintah Lea lagi. Dewa berlari mengambil helmnya dan bergegas mencari adiknya itu. "Rifki bantuin cari Sarah, Tante." Segera Rifki menyalim Lea dan melajukan motornya menjauh dari rumah itu. Tidak, Rifki tidak benar-benar ingin mencari Sarah. Itu hanyalah alasan yang ampuh menyelamatkannya dari obrolan yang menjengkelkan tentang pertunangannya. Nyari Sarah? Bodo amat! Yang hilang kan anak elu, bukan anak gua. Batin Rifki tertawa jahat mengingat kebohongannya. Sarah melintas tepat di hadapan Rifki. Untungnya Rifki menghentikan laju motornya secara mendadak. Jika tidak, mungkin gadis itu sudah tewas malam ini. Rifki segera mematikan mesin motor dan melepas helmnya. Baru saja ia hendak memaki Sarah. Namun, isak tangisan Sarah menghentikan niatnya itu. 3 orang pria berlari menghampiri Sarah. Tangisan Sarah semakin menjadi. Rifki menariknya naik ke atas motor dan melaju dengan sangat cepat membawa Sarah menjauh dari pria yang mengejarnya. Rifki ingin bertanya apa yang terjadi. Namun, Sarah yang tak kunjung berhenti menangis membuat Rifki mengunci rapat mulutnya itu. Wajah Sarah yang menempel di pundak Rifki semakin menunjukkan bahwa Sarah ketakutan. "Gua disuruh Ibu lu ..." "Lu sama ama mereka!" bentak Sarah membuat bibir Rifki terkatup rapat sebelum kalimatnya selesai. Kejut klakson di belakang mereka memberi pertanda bahwa Dewa menyuruh Rifki menghentikan laju motornya. Rifkipun menuruti Dewa. "Ketemu di mana?!" tanya Dewa yang langsung menghampiri adik perempuannya itu. Sarah masih menangis hingga tersedu-sedu. "Di jalan," jawab Rifki singkat. Sarah langsung menarik tangan abangnya menjauh dari Rifki dan meminta abangnya untuk segera pulang. "Makasih, Rif," ucap Dewa menyalakan motornya. "Ga perlu Bang!" bentak Sarah. Rifki benar-benar tak mengerti akan apa yang terjadi. Dia memang tak ingin mencari gadis itu. Tetapi, dia malah muncul di hadapan Rifki. Rifki juga tak tahu apa yang terjadi padanya. Tetapi, Sarah terlihat sangat ketakutan dan marah padanya. Sebenarnya apa yang terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN