RANDITA "Kamu mau coba kue brownies buatanku?" tanyaku menawarkan piring berisi kue brownies yang sudah aku potong-potong. "Aku suka banget sama brownies." Anggi mengambil sepotong, dan langsung mencicipinya. Aku menunggu dengan hati berdebar. Meskipun Deryl sudah menilai enak brownies-ku, kali saja 'kan dari lidah orang lain aku bisa mendapatkan nilai yang beda. "Gimana?" tanyaku nggak sabar. "Mantap banget kue ini, Ta! Kamu jual ya? Aku pesen dong." Mataku langsung berbinar. Jadi menurut Anggi kueku enak. Serius? "Jual? Ya nggak lah, Gi. Rasanya belum layak jual." "Nggak layak jual gimana? Ini sih layak banget. Rasanya udah kayak yang di bakery terkenal itu loh." Pujian Anggi terlalu berlebihan. Mana mungkin kueku bisa bersaing dengan bakery mahal? "Sayang! Sini deh!" Ang

