Deryl tertawa, ngakak. Dan saat itu mataku melihat Anggi berdiri di dekat partisi antara ruang tengah dengan ruang tamu. Aku memukul keras-keras lengan Deryl. "Tuh, Anggi udah balik." Tawa Deryl terhenti. Dia lalu melepas pitingannya pada kepalaku. "Eh, sayang. Habis dari mana sih?" Anggi bergerak mendekat. "Dari beli ini, keluar." Anggi meletakkan sebuah bungkusan ke meja. "Kalian lagi becanda apaan sih? Asik banget kelihatannya, sampe nggak sadar aku datang." "Ini nih, si Dolita. Masa ngatain aku bau ketek. Aku emang baru bangun tidur. Tapi sebelum itu kan aku mandi dulu. Iya kan, Sayang?" Deryl bangkit dari duduknya, lalu meraih pinggang Anggi dan mendaratkan ciuman pada pipi pacarnya itu. "Ta, itu aku beli rujak buah. Kali aja kamu mau. Kan orang hamil biasanya suka." Aku te

