DERYL Gue mondar-mandir di depan ruang IGD. Menggigit kepalan tangan dengan gusar. Tadi itu Sita terlihat sangat kesakitan. Darah terus-terusan mengalir. "Bang, Kak Sita gimana?" Gue menoleh dan mendapati Faraz setengah berlari menghampiri gue. Dia juga sama, cemas. "Masih ditangani dokter di dalam." "Kak Sita kenapa bisa masuk RS, Bang?" "Sepertinya dia terjatuh di kamar mandi." Seorang perawat yang tadi membawa Sita ke dalam IGD keluar. Dia tampak bergegas. "Sus, gimana keadaan calon istri saya tadi?" tanya gue menahan perawat itu pergi. "Iya, Mas. Mbak-nya pendarahan hebat. Janinnya nggak bisa diselamatkan. Jadi, kami mengambil langkah kuret." Gue dan Faraz sontak terkejut. Kaki gue malah nggak berasa napak bumi sekarang. "Maksud suster, dia hamil?" tanya Faraz mem

