SITA Deryl melarikanku ke rumah sakit. Aku yang tak berdaya pasrah saja saat perawat dan para dokter menanganiku di ruang penanganan. Di situlah aku tahu bahwa aku memang mengandung. Ya, kekhawatiranku menjelma jadi nyata. Namun, bersamaan dengan itu dokter mengatakan bahwa janinku yang mungkin baru sebesar kacang polong nggak bisa diselamatkan. Aku mengalami keguguran dan harus dikuret. Aku harus apa? Bahagia atau sedih? Mengetahui kenyataan aku hamil dari hasil pemerkosaan sekaligus kehilangan janin itu. Bukannya aku memang tak pernah menginginkan dia ada di perutku? Lalu apa yang membuat air mataku jatuh sekarang? Entahlah. Mungkin dia merasa tidak diinginkan. Jadi, memilih pergi sebelum organnya terbentuk sempurna. Aku jahat banget nggak, sih? Sungguh, aku nggak sengaja membuatnya

