SITA Aku nggak lama bedrest di rumah sakit. Hanya dua hari dokter sudah mengizinkanku pulang. Papa datang saat aku sedang siap-siap untuk pulang. "Jadi pulang?" tanya papa. "Kok kamu sendiri? Deryl nggak jemput?" "Dia lagi nyelesein administrasi, Pa," jawabku. Aku beringsut perlahan duduk di tepi ranjang. Papa mengambil kursi dan duduk di sana. Helaan napas panjangnya membuat kedua alisku menyatu. "Sita, papa minta maaf," ucap papa dengan suara beratnya. "Semua yang terjadi sama kamu adalah kesalahan papa yang nggak becus menjadi ayah. Sebagai ayah, papa sudah gagal menjaga kamu." Nadanya terdengar sedih di telingaku. Ya, aku tahu perasaan papa. Dia pasti merasa gagal. Tapi sungguh, aku tidak menyalahkan papa sama sekali. Aku wanita dewasa yang sudah tahu artinya menjaga diri. "Pap

