SITA "Ternyata aku nggak semandiri seperti yang aku pikir, ya, Pa. Dalam keadaan kayak gini, nyatanya aku masih butuh pertolongan papa." Aku tersenyum miris. "Hei, kamu anak papa. Meskipun kamu mandiri dan jauh dari papa tetap saja kita ini ayah dan anak. Kamu bisa minta tolong apa pun sama papa. Itu udah jadi kewajiban papa sebagai orang tua." Papa merangkul pundakku dari samping. "Terima kasih, ya, Pa. Udah jadi orang tua yang pengertian dan nggak pernah maksain kehendak pada anak-anaknya. Papa memang the best." Aku beringsut memeluk papa. Mungkin aku memang harus memikirkan untuk membantu papa di perusahaannya. Papa tidak akan muda terus, sementara Faraz, anak itu kadang memang susah diatur. "Ada apa nih? Pake acara peluk-pelukan segala." Suara tengil milik Faraz terdengar. Dia

