DERYL Sita mendorong tubuh gue menjauh. Napasnya naik turun, dan wajahnya tampak pias. Padahal gue cuma menyentuh ujung bibirnya saja, tapi reaksinya benar-benar nggak gue duga. Dia sepertinya masih agak trauma dengan sentuhan yang lebih intim. "Hai, Sayang. Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya gue hati-hati. Wajah ketakutannya membuat gue deg-degan. Gimana kalau dia histeris lagi? Gue perhatikan dia menarik napasnya pelan. Sita nggak histeris, matanya terpejam. "Deryl ... Lakukan sekali lagi," katanya. "Apa?" Gue lumayan kaget. Bukannya tadi dia nggak mau disentuh? "Iya, cium aku lagi." Alis gue menyatu. "Apa itu nggak masalah? Keringat dingin kamu keluar, Beb." "Aku harus melawan ketakutanku." "Tapi, apa enggak apa-apa. Aku takut nanti kamu—" "Aku nggak apa-apa. Lakukanlah.

