Satu
Aluna mematap bangunan megah di hadapannya. Enam tahun sudah berlalu tidak ada yang berubah dari rumah ini. Masih tampak megah dan dingin. Tidak ada kehangatan di dalamnya.
Supir membukakan pintu mobil untuk Aluna. Sudah ada beberapa pelayan yang menyambutnya. Seorang wanita setengah baya menghampirinya. Tampak menatap haru pada dirinya.
"Astaga non Luna sudah besar. Cantik sekali" Mbak Tari. Wanita yang dulu merawatnya sejak bayi. Enam tahun tidak bertemu ada rasa haru dalam hati Mbak Tari melihat anak majikannya sudah tumbuh dengan baik dan cantik.
Luna memeluk erat wanita yang sudah ia anggap Ibu sendiri itu. Wanita yang dulu selalu ada untuk merawat dan melindunginya.
"Kangen mbak" ucap Luna setelah melepas pelukannya. Luna melihat 4 orang pelayan lainnya, Ia hanya tersenyum ramah pada mereka. Luna masih asing dengan mereka. Mungkin mereka mulai kerja saat Luna sudah pergi dari rumah ini.
****
Luna sudah ada di dalam kamarnya yang dulu. Kamar ini masih sama persis seperti dulu tidak ada yang dirubah.
Luna melihat mbak Tari yang sedang menyusun pakaiannya dari koper ke dalam lemari.
"Waktu Tuan bilang Non akan kembali, Mbak seneng banget. Tiap hari Mbak bersihin kamar Non biar sewaktu-waktu kalo Non pulang kamarnya selalu bersih" jelas Mbak Tari dengan tangan yang masih cekatan menyusun pakaian.
"Mbak emang terbaik" Luna memberikan kedua jempolnya pada Tari.
"Non istirahat aja dulu nanti makan siang Mbak bangunkan. Masih suka masakan Mbak 'kan?" Luna tentu saja mengangguk.
"Pengen sup buatan Mbak. Enggak ada yang bisa saingin punya Mbak. Oma yang jago masak aja kalah" jelas Luna.
Setelah Mbak Tari pamit Luna hanya berbaring di atas kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan sendu.
"Gue kembali" hati kecilnya berbicara.
****
Sore hari Luna duduk bersandar di kasur dengan laptop di pangkuan menayangkan sebuah film. Ada juga beberapa cemilan yang tadi di buatkan oleh Mbak Tari.
Tok tok tok
Pintu kamarnya di ketuk. Luna menyahut menyuruh masuk saja. Malas beranjak pintunya juga tidak dikunci.
"Non" kepala Mbak Tari menyembul di pintu.
"Iya Mbak?"
"Tuan Gabriel sudah datang" mendengar nama Ayahnya disebut Luna hanya melengos cuek.
"Enggak mau, mbak. Males"
"Bilangin aja Mbak, Luna udah tidur kecapekan dijalan" ucap Luna acuh kembali melanjutkan tontonannya.
"Jangan begitu Non. Enggak sopan begitu ke orangtua apalagi ini Papa nya Non sendiri. Papanya kangen loh" jelas Mbak Tari memberi pengertian pada gadis remaja itu. Mengelus lembut rambut Luna.
"Sudah mbak, tinggalkan saja dia" suara seseorang menginterupsi mereka. Gabriel masuk mendekati ranjang putrinya.
"Baik tuan" setelah Mbak Tari keluar Luna membuang muka malas menatap pria yang ia sebut Papa itu.
"Gimana kabar kamu" tanya Gabriel dengan nada datar. Luna mendengus mendengarnya.
"Begitu sikap kamu bertemu Papa kamu yang sudah lama tidak kamu temui" Gabriel yang mudah emosi terpancing melihat sikap acuh Luna.
"Sekarang udah ketemu 'kan? So, Papa mau bicara apa" ucap Luna masih cuek.
"Fredy berikan padanya" Gabriel tahu jika dilanjutkan ia hanya akan emosi. Jadi ia alihkan pembicaraan itu.
Dengan malas Luna menerima paper bag dari Fredy asisten Gabriel.
"Itu seragam sekolah kamu. Besok kamu sudah bisa mulai sekolah. Untuk peralatan lainnya sudah Papa sediakan disana" Luna mengikuti arah yang ditunjuk Gabriel. Di atas meja belajarnya sudah terdapat tumpukan buku peralatan sekolah lainnya.
"Aku baru aja sampe, Pa. Harus besok banget gitu? Kan minggu depan bisa"
"Bisa kamu jangan membantah, Aluna" Luna mendengus malas mendengar nada perintah itu.
"Bes..."
"Luna capek mau tidur" Luna menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Gabriel menghela napas lemah. Ia harus bisa memperbaiki hubungannya dengan putrinya itu. Sudah cukup jauh jarak mereka. Gabriel akan mencoba merekatkan hubungan Ayah anak ini. Meskipun sepertinya akan sulit karena Luna semakin besar semakin mirip dengan Dia.
"Tidur yang nyenyak. Selamat malam" Luna mendengar gumaman itu setelah itu terdengar suara pintu tertutup dengan perlahan. Luna juga sempat merasakan usapan di puncak kepala dari balik selimutnya.
Yang benar saja tadi Papanya yang melakukan itu?
****
Pagi hari Luna sudah siap dengan seragam sekolahnya. Saat turun melewati ruang makan sudah ada Gabriel disana. Sendiri di meja makan yang luas itu.
"Luna sarapan" ucap Gabriel saat melihat Luna hanya melewati begitu saja meja makan.
Namun, Luna menulikan telinga tak mendengarkan ucapan Gabriel.
"Aluna Papa bilang sarapan. Duduk disini" ucap Gabriel tegas.
Mbak Tari berjalan mendekati Luna. Menuntun anak majikannya itu agar mau ikut sarapan. Luna hanya diam saja menunggu Mbak Tari menyiapkan sarapannya.
"Hari ini Papa antar kamu ke sekolah. Dan lain hari jika Papa senggang Papa yang akan antar kamu sekolah" Gabriel membuka pembicaraan setelah beberapa saat hening. Luna hanya mengangguk malas bersuara.
Penjelasan dari sang Oma bahwa Papa nya itu meminta Luna kembali ke rumah ini. Ingin memperbaiki hubungan Ayah Anak mereka. Luna hanya mengiyakan. Malas sebenarnya kembali ke rumah ini.
****
Diperjalanan menuju sekolah hanya ada keheningan. Gabriel sudah beberapa kali mencoba membuka pembicaraan. Tapi Luna yang malas berbicara hanya diam atau membalas seadanya saja.
Sampai disekolah, sekolah sudah mulai ramai. Ingat akan kata nasihat Mbak Tari, saat turun dari mobil Luna pamitan pada Gabriel mencium tangan Papanya itu. Tapi, jika diperhatikan jelas kaku sekali interaksi mereka.
Luna diperintah Gabriel untuk mencari ruang kepala sekolah. Namun saat sedang mencari dimana ruang kepala sekolah tiba-tiba jalannya dihadang oleh 3 orang gadis seumurannya.
"Minggir" ucap Luna tajam. Ada kekagetan dari wajah 3 orang itu tapi cepat berganti dengan wajah marah karena luna sudah berani melawannya.
"Udah berani lo sama gue" salah satu wanita itu mendekati Luna tangannya terangkat mengarah ke rambut Luna tapi dengan cepat Luna tahan.
"Denger ya Jeanet" Luna sekilas melirik nametag gadis dihadapannya itu.
"Gue enggak ada urusan sama lo. Jadi, jangan ganggu gue! Ngerti lo badut" Luna menghempas tangan Jeanet lalu pergi dari sana.
"Awas lo Ala" teriak Jeanet. Luna hanya menyeringai menunjuk jari tengahnya yang membuat Jeanet dan dua temannya bertambah kesal.
"s****n si Ala udah berani dia sama gue" Jeanet mendengus kesal melihat kepergian Luna. Tangannya terasa perih merasakan cengkraman tangan Luna.
"Jeanet ini PR lo" dari arah belakang Jeanet dan kedua temannya kaget melihat orang yang tadi mereka lihat kembali ada di belakang mereka tiba-tiba.
Jika ini Ala lantas yang tadi siapa?
****
Tok tok tok
Luna mengetuk pintu kepala sekolah. Setelah ada sahutan dari dalam Luna masuk.
"Selamat pagi, Pak" sapa Luna ramah.
"Pagi Ala. Ada apa?" Pak Tito mengira Luna adalah Ala salah-satu siswi disekolah ini yang sering mengharumkan nama sekolah akan kepintarannya.
"Saya Luna, Pak. Siswa baru" Pak Tito sampai harus berdiri menghampiri Luna. Ia yakin tak salah lihat yang didepannya ini adalah Ala.
Luna yang diperhatikan seperti itu kesal juga.
"Kamu mirip Ala" ucap Pak Tito. Luna tahan untuk tidak mendengus kesal.
"Perlu saya telpon Papa saya supaya Bapak percaya. Papa saya yang suruh saya temui Bapak" jelas Luna.
"Kamu anak Pak Gabriel?" Tanya Pak Tito. Luna hanya mengangguk.
"Sebentar" Luna diam memperhatikan kepala sekolah itu menelpon seseorang hingga setelah itu seorang wanita berseragam guru masuk ke ruangan itu.
"Loh, Ala kenapa ada disini? Bukannya bel sudah bunyi"
"Bu Fani, ini Luna anak Pak Gabriel" jelas Pak Tito.
"Tapi dia mirip sekali Ala pak" ucap Bu Fani melihat Luna lekat. Benar-benar mirip anak didik kesayangannya itu.
"Emang muka saya sepasaran itu, ya?" Luna kesal juga disama-samakan dengan orang yang dipanggil Ala itu.
"Luna kenalkan ini bu Fani yang akan jadi wali kelas kamu. Atas permintaan Pak Gabriel kamu masuk di kelas favorite di sekolah ini"
"Ck. Orang itu"
"Bu Fani mohon antarkan Luna ke kelas"
Setelah berpamitan Luna mengikuti Bu Fani keluar menuju kelas barunya.
****
Di kelas 12 IPA 1 sedang berlangsung pelajaran kimia. Ala buru-buru mencatat materi yang ada di papan tulis saat wali kelasnya masuk membawa seorang yang katanya akan jadi anak baru di kelas itu. Ala tak terlalu memperhatikan. Ia sedang serius mencatat sebelum materi itu dihapus oleh guru mata pelajarannya.
"Kok mirip banget sama Ala"
Tapi celetukan seorang teman kelasnya mengalihkan fokus Ala. Ala kini menatap ke depan kelas. Berdiri di depan sana sorang siswi yang... Astaga kenapa bisa mirip dengan dirinya?
Setelah perkenalan singkat Bu Fani pamit undur diri dan pelajaran kembali di lanjutkan. Tapi Ala jadi tidak fokus. Dengan rasa penasaran yang besar Ala terus menatap pojok kelas. Disana ada gadis seusianya dan wajah mereka sangat mirip. Dan Ala tahu gadis itu pun sama bingungnya seperti dirinya.
****