“Nona, kita sudah sampai,” ujar sopir di bangku depan, menyadarkan Lorenza dari lamunan. Gadis itu terperanjat. Mobil yang ditumpanginya telah sampai di pelataran rumah sakit kembali. Buru-buru Lorenza melipat kertas di tangannya lalu menyimpan benda itu di saku belakang celana denim ketatnya. Tanpa banyak berkata, ia meraih tas berisi pakaian ganti untuk sang ayah dan turun dari mobil. Langkah gadis itu terhenti di depan pintu ruang rawat saat Zavier lebih dulu muncul dibaliknya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa, Lorenza tersenyum lebar yang mungkin tampak bodoh untuk orang-orang. “Kamu terlalu lama, Daddy sudah tidur lagi,” ujar Zavier memberitahu. “Aku ketiduran sebentar tadi, Kak,” kilah gadis itu dengan senyum tanpa dosanya. Zavier memutar kedua bola matanya malas. “Simpan dulu

