Chapter 01
“Ayo akhiri hubungan ini,” ucap seorang wanita dengan setelan formal dan kacamata bulat membingkai bola mata hitamnya yang bersinar.
Pria tampan dihadapannya terhenyak, tetapi segera tertawa, menganggap kalimat itu adalah lelucon. Tanpa pria itu sadari, si wanita sedang sangat serius bahkan tak sedikit pun terdengar nada candaan dari kalimatnya.
“Besok aku akan bertemu keluarga pria yang dijodohkan denganku. Jika kami setuju, mungkin dua minggu lagi kami akan segera bertunangan dan bulan depan kami akan menikah,” lanjut wanita itu.
BRAKK
Si pria memukul meja hingga membuat beberapa pengunjung lain di kafe ini terkesiap.
“Bercandamu keterlaluan Amanda!” Geram si pria.
“Tidak! Aku serius, Zavier,” balas wanita bernama Amanda itu tegas. “Tujuh tahun bersama denganmu tidak akan membawaku kemana-mana.”
“Apa maksudmu?” Tanya Zavier mulai terpancing emosi.
“Kamu tahu apa yang keluargaku inginkan, Zavier. Sebuah ikatan pernikahan, karena aku tidak akan selamanya muda. Usiaku sudah lebih tiga puluh, tetapi kamu masih belum berpikir untuk melamarku, karena kamu memang tidak berniat melakukannya,” jelas Amanda.
Zavier menyugar rambutnya kesal, “Aku sedang berusaha, Amanda! Lagipula pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan mudah. Aku perlu stabil secara ekonomi, sedangkan kamu tahu sendiri jika aku masih harus membayar student loan, tapi aku tidak akan lama, Amanda.”
“Tidak, Zavier! Keputusanku sudah bulat. Aku akan menerima perjodohan itu dan kita akhiri semuanya sampai disini,” tegas Amanda.
Zavier berdecih, “Kamu bahkan tidak mencintainya, bagaimana bisa kamu menikahinya?”
“Cinta? Itu adalah fantasi untuk anak-anak muda. Di usiaku, semua itu tidak ada gunanya,” balas Amanda seraya beranjak dari tempat duduknya. “Kalau kamu sanggup, datanglah ke pernikahan kami. Tapi kuharap kamu tidak ada disana dan mengacaukan semuanya. Selamat tinggal, Zavier!”
Present
Satu tahun telah berlalu sejak saat itu, kalimat-kalimat tajam serta tanpa belas kasihan Amanda masih terpatri jelas dihati Zavier. Ia sudah berlari sejauh ini, tetapi bayang-bayang itu tetap menghantuinya. Begitulah rasanya patah setelah diterbangkan dengan indah selama bertahun-tahun bersama.
“Sialan,” desis Zavier sambil menyugar rambutnya dengan kasar.
Kalimat itu menarik perhatian sosok disampingnya, seorang pria seumuran Zavier yang sedang menyesap es kopinya di tengah cuaca super panas. Robin menatap sekilas rekannya tersebut, lalu tersenyum meremehkan.
“Kenapa lagi?” Tanya Robin kemudian.
“Tidak ada,” jawab Zavier.
“Teringat masa lalu?” Tebak Robin yang telah mengetahui sebagian besar kisah hidup Zavier.
“Aku tidak pernah ingin mengingatnya,” gumam Zavier seraya beranjak dari teras tempat keduanya beristirahat.
“Hey, mau kemana?” Robin melangkah cepat, menyusu Zavier yang menuju area parkir.
“Mes,” jawab Zavier singkat lalu membuka kunci stang motornya.
Seketika netra Robin bersinar dan ia segera duduk di jok belakang motor Zavier dengan semangat. Si empunya kendaraan menatap tidak suka pada rekan seprofesinya tersebut yang justru membuat Robin tertawa tanpa dosa.
“Turun!” Perintah Zavier.
Robin menggeleng kuat, “Tidak mau!”
Pria itu justru menyamankan posisinya dan meminta Zavier untuk segera menyalakan mesin motor. Namun, Zavier enggan menurutinya dan membuat Robin mendengus kesal. Udara sudah sangat terik dengan sinar matahari yang menyengat, tetapi pria itu malah tidak segera bergegas.
“Ayolah, Vier! Bukan cuma kamu yang mau melihat anak-anak, baru. Aku juga mau ketemu,” rajuk Robin yang sayangnya ditanggapi Zavier dengan sebuah kernyitan heran.
“Anak baru apa?” Tanya Zavier tidak paham.
“Ck, tidak perlu pura-pura lupa. Hari ini ‘kan relawan baru akan tiba di Mes,” jelas Robin.
“Lalu apa hubungannya denganku? Bukan kita juga penanggung jawabnya,” Zavier mengedikkan bahu.
“Memang bukan, Sobat! Tapi tidak ada salahnya mencuci mata dengan orang-orang baru. Siapa tahu ada gadis cantik yang bisa mengisi kepalamu,” seloroh Robin.
Zavier memutar kedua bola matanya jengah, lalu menghidupkan mesin motornya. Ah bukan, motor itu sebenarnya adalah fasilitas dari PBB yang diberikan untuk para relawan yang bertugas di tempat ini dan Zavier hanya memanfaatkannya.
Motor usang itu mengeluarkan suara nyaring yang saat di gas membuat semua orang ingin mengumpat saking berisiknya. Namun, Zavier justru menyukainya karena itu berarti ia bisa tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa perlu repot-repot harus menanggapi ucapan orang lain yang ada dibelakangnya.
Zavier membonceng Robin di belakang seperti biasa, melalui jalanan perkampungan yang belum beraspal dan hanya berlapis tanah keras yang berdebu. Tidak akan becek, karena curah hujan di tempat yang berdampingan dengan gurun ini sangat rendah. Dalam satu tahun terakhir Zavier berada disana, hanya beberapa kali ia merasakan segarnya air yang turun dari langit.
Faradisa, begitulah nama kota ini yang artinya adalah serpihan surga. Saat pertama kali datang, Zavier pikir tempat ini memang seperti potongan surga dengan keindahannya yang khas gurun pasir. Tata letaknya begitu teratur dengan banyak jenis bunga menghiasi sepanjang jalan dari bandara menuju lokasi mes relawan. Taman-taman kota menjadi tempat favorit warga Faradisa menghabiskan waktu di siang hari yang terik. Gurun Kuolema yang berarti kematian dalam bahasa Finland itu adalah alasan betapa panasnya Faradisa di sepanjang tahun.
=====
Sementara itu, di bandara Faradisa baru saja turun sekumpulan relawan baru yang tampak bersemangat. Satu diantara mereka terlihat lebih banyak diam sambil mengamati kondisi sekitar yang sangat berbeda dari negara dimana ia berasal.
Setelah melalui proses imigrasi, rombongan itu segera dibawa menuju mes di pinggiran kota menggunakan bus fasilitas dari PBB. Seperti yang Zavier rasakan, mereka semua cukup kagum saat melihat kondisi Faradisa yang terlihat nyaman dengan caranya sendiri.
Namun, pemandangan indah itu berangsur hilang saat bus relawan mulai memasuki pinggiran kota. Benar kata pepatah, bahwa setiap tempat selalu memiliki dua sisi dan disinilah sisi lain itu, sangat berkebalikan dengan gemerlapnya pusat kota dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Bahkan jalanan yang mobil lalui juga masih berbahan tanah yang berdebu.
“Baiklah, semuanya! Mulai hari ini kalian akan tinggal di mes yang telah disiapkan oleh PBB. Ada tim lain yang sudah sejak satu tahun lalu tinggal di komplek ini dengan berbagai profesi. Semoga kalian betah selama dua tahun kedepan,” ujar pemandu yang ada dikursi depan.
Seorang wanita berambut terang ikut turun bersama sembilan rekannya yang lain dengan lelah. Mereka terdiri dari lima orang tenaga pendidik dan lima orang lagi merupakan tenaga kesehatan. Nantinya mereka akan disebar di beberapa sekolah dan fasilitas kesehatan yang tersebar di seluruh pinggiran kota. Wanita itu sendiri menjadi bagian dari tenaga pendidik yang dalam kontrak akan mengajar di sekolah rakyat tak jauh dari mes.
“Panas, ya,” bisik wanita bernama Daphne pada wanita berambut terang.
Wanita berambut terang itu menunjuk kearah gurun dengan menggunakan jari telunjuknya, lalu mengikuti yang lain menuju pendopo mes. Daphne menatap kesal rekan satu negaranya itu, karena ini bukan pertama kalinya ia diabaikan sejak mereka berkenalan dua minggu lalu.
“Anna, tunggu aku!” Pekik Daphne mengejar rekannya yang ternyata bernama Anna tersebut.
“Ini kunci kamar kalian. Fasilitasnya tidak selengkap di negara asal kalian, tetapi masih layak untuk ditinggali. Setiap lima kamar memiliki satu kamar mandi, jadi diharapkan kalian bisa berbagi dengan yang lainnya tanpa perlu berebut. Mulai pukul tujuh pagi sampai tujuh malam air akan mati karena air bersih cukup langka disini, manfaatkan sebaik-baiknya,” terang Ares sang penanggung jawab relawan. “Apakah ada yang ingin ditanyakan?”
“Kapan kami akan mulai bekerja?” Tanya salah seorang yang berambut Afro.
“Lusa, karena ini masih hari Sabtu. Dua hari ini kalian bisa mulai menyesuaikan diri,” jawab Ares.
“Apakah tempat kerja kami jauh?” Tanya Daphne.
“Tidak, tetapi setiap berangkat dan pulang akan ada bus yang menjemput. Kalau pun kalian ingin berkeliling, ada motor dan juga mobil fasilitas PBB yang bisa digunakan secara bergantian,” jelas Ares dengan menunjuk pada beberapa kendaraan bermotor yang terparkir di halaman mes. “Ada lagi?”
“Apakah makanan disediakan?” Tanya seorang lain yang berhijab.
“PBB hanya menyediakan beras, roti, mi instan serta sereal dan s**u. Jika kalian mengingankan makanan lain, bisa berbelanja ke kota,” jawab Ares. “Baiklah jika tidak ada lagi, silakan menuju kamar masing-masing dan selamat beristirahat.”
Pria berusia tiga puluhan itu segera pergi dan menutup diskusi secara sepihak, karena tak ingin berlama-lama. Padahal masih banyak yang para relawan baru itu ingin tanyakan.
Tersampir ransel serta tas selempang di bahu Anna. Tangannya pun menarik koper berukuran dua puluh inchi yang penuh dengan berbagai barang. Ia lelah dan ingin segera beristirahat.
“Kamarmu dimana?” Tanya Daphne pada Anna.
Diliriknya gantungan kunci kamar yang bertuliskan angka 302 dan segera gadis itu mengumpat. Tubuhnya sudah lelah, barang bawaannya banyak, ia ingin segera beristirahat, tetapi kamarnya berada di lantai tiga. Perlu diingat, bangunan mes ini tidak memiliki lift ataupun elevator. Satu-satunya cara naik keatas hanya melalui tangga, sambil membawa semua barangnya.
Daphne menepuk bahu rekannya tersebut dan tampak prihatin, “Kamarku di lantai satu. Aku akan membantumu setelah meletakkan barangku.”
“Tidak perlu,” sahut Anna yang akhirnya bersuara. “Kamu juga lelah, istirahatlah! Aku bisa sendiri.”
Daphne hendak menyangkal, tetapi Anna sudah lebih dulu berjalan didepannya dan mengangkat sendiri barang-barangnya. Meskipun agak kesulitan, Anna tetap bisa melakukannya seorang diri. Daphne tersenyum simpul, lalu menuruti ucapan Anna. Ia menuju ke kamarnya sendiri dan segera beristirahat.
“Huh, akhirnya!” Seru Anna lega seraya mengusap peluh yang bercucuran setelah sampai di anak tangga paling ujung.
Wanita itu kembali menarik gagang kopernya sambil memperhatikan angka yang tertera didepan pintu. Dapat! Untung saja kamarnya tak terlalu jauh dari tangga sehingga mobilitasnya bisa lebih mudah.
Baru saja berucap lega, Anna kembali merasa kesal saat pintu kamarnya sulit dibuka. Ia sampai beberapa kali mencocokkan angka yang ada digantungan kunci dengan yang tertera di pintu. Sama, tetapi sulit sekali dibuka.
“Aaarrggghh! Aku lelah, mau istirahat!” Pekik wanita itu kesal hingga menendang pintu kayu tersebut.
“Apa dengan ditendang pintu itu akan terbuka?”
Suara bariton dari arah tangga mengalihkan perhatian Anna. Netranya menangkap sosok pria matang bertubuh tinggi proporsional, kulitnya coklat mengkilat akibat peluh, irisnya abu kehijauan, rambutnya berwarna hitam, pun dengan bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya yang tegas. Sejenak Anna tampak terpaku, namun segera menundukkan pandangannya saat pria itu berjalan semakin dekat. Ia tampak terintimidasi oleh pria itu.
“Kamu penghuni baru kamar ini?”
Ia adalah Zavier yang baru saja sampai di mess. Melihat seorang perempuan muda kesulitan dengan pintunya, ia pun berinisiatif untuk membantu Anna membuka pintu kamarnya.
“Ya,” jawab Anna singkat.
Brakk
Setelah diberikan dorongan yang cukup kuat, pintu itupun terbuka. Anna mengangguk berterima kasih.
“Penghuni sebelum kamu suka mabuk dan merusak pintu. Sebaiknya kamu minta pengelola untuk memperbaikinya,” saran Zavier berusaha sopan meskipun nadanya datar.
“Terima kasih informasinya,” balas Anna masih dengan menunduk.
“Berapa lama kontrakmu?” Tanya Zavier berbasa-basi.
Anna menghela napasnya lelah. Ia ingin segera masuk ke kamar dan merebahkan diri, tetapi pria asing ini malah terus mengajaknya berbicara.
“Dua tahun,” jawab Anna singkat dan tak ingin basa-basi.
Seulas senyum menyeringai dari bibir Zavier yang dua puluh lima centi lebih tinggi dari Anna tersebut. Tatapannya tampak meremehkan. Bahkan saat ini ia bersandar pada kusen dengan kedua tangan yang terlipat diatas perut.
“Good luck!” Serunya dengan nada menyepelekan.
“Maksudmu?” Anna mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada pria dihadapannya.
“Tidak ada, hanya memberikan semangat untuk rekan baru,” balas pria itu dengan mengedikkan bahunya cuek.
Anna yang kelelahan segera berpamitan dan memasuki kamarnya. Tak lupa ia menutup dan mengunci pintu kamarnya dengan rasa kesal.
Sementara diluar, Zavier masih tampak menyeringai, “Annalise Louisa Winch. Kita lihat, berapa lama kamu akan bertahan di neraka ini,” ujarnya seraya berbalik dan menuju kamarnya sendiri yang berhadapan dengan kamar Anna.
“Surga apanya? Disini lebih mirip dengan neraka dunia,” gumam Zavier tepat sebelum hilang dibalik pintu.
Lelah setelah setengah hari merawat pasien yang rata-rata berasal dari kalangan bawah, Zavier menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Tangannya meraih remote AC yang terletak sembarangan diatas kasur. Setelah bunyi bip, udara dingin dan segar segera menjalar di seluruh ruangan. Meskipun tidak bisa menyiram tubuh lelahnya dengan air akibat aliran air yang mati di siang hari, udara sejuk AC sudah cukup menenangkan kulit Zavier yang terbakar panas matahari. Perlahan, pria itu mulai terlelap.