Keesokan harinya Anna mulai mengekplorasi lokasi sekitar mesnya tinggal. Ia berkeliling bersama rekan-rekan relawan barunya, menggunakan sepeda kayuh yang memang disediakan oleh pengelola mes.
Lokasi ini tak terlalu buruk jika melihat kondisi infrastruktur jalan yang masih sangat alami. Mungkin tak akan lama lagi pemerintah akan mengaspalnya mengingat pembangunan di Faradisa sedang masif-masifnya. Perkampungan bernama Elmas ini hanya tinggal menunggu gilirannya tiba.
Kehadiran relawan di wilayah ini adalah atas permintaan pemerintah kota Faradisa. Tenaga medis dan pengajar disana masih belum memadai dan jumlahnya terbatas. Begitulah klaim dari pemerintah. Sebagian besar penduduk Faradisa berprofesi sebagai pegawai pemerintahan, kantoran, pabrik, hingga petani di kebun zaitun dan kurma di pinggiran kota.
Lokasi sekolah tempat Anna akan mengajar esok hari bersebelahan dengan fasilitas kesehatan yang berupa klinik tak terlalu besar. Kedua bangunan ini memiliki desain khas padang pasir yang temboknya dilapisi tanah untuk menghalau panas. Halamannya ditumbuhi beragam jenis kaktus, serta pohon akasia.
“Sepertinya aku akan membeli kipas angin portable di kota,” komentar Daphne yang sama seperti Anna, tidak tahan panas. “Disini terlalu panas.”
“Ya, kamu benar. Aku titip satu,” balas Anna lirih seraya kembali berjalan mengelilingi bangunan sekolah.
Saat sampai di halaman belakang sekolah, ia bisa melihat kebun kurma sebagai pembatas Faradisa dengan gurun Kuolema. Beberapa warga lokal tampak sedang memanen buah khas padang pasir tersebut. Anna yang menyukai dunia fotografi pun segera mengambil kameranya lalu membidikkan lensa untuk mengambil gambar-gambar sekitar. Ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga, pikirnya.
“Tolong hapus fotonya!”
Anna sedikit berjengkit saat tiba-tiba ketua tim sekaligus penanggung jawab mes, Ares telah ada disampingnya. Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu tidak diketahui kapan datangnya dan kini tengah memandang Anna dengan datar.
“Kenapa?” Tanya Anna penasaran.
“Apa kamu tidak membaca kontrak? Tidak boleh mengabadikan gambar secara pribadi selama menjalani program disini,” jelas Ares.
Tanpa diduga, pria itu mengulurkan segelas jus jeruk dingin yang sangat cocok dinikmati saat cuaca sedang terik seperti ini.
“Ah, maaf. Aku kurang teliti,” balas Anna seraya menyimpan kameranya. “Akan kuhapus dan terima kasih minumannya.”
“Bagaimana kamu bisa lolos menjadi relawan disini? Kulihat kamu tipe pendiam dan itu tidak terlalu dibutuhkan disini,” tanya Ares seraya mengajak Anna kembali melihat-lihat sekitar gedung sekolah.
“Aku mendaftar melalui sekolah TEFL, mereka yang merekomendasikanku pada program ini dan aku lolos,” cerita wanita itu jujur.
“Semoga kamu betah berada disini,” balas Ares dengan senyum simpulnya.
“Terima kasih.”
Ares adalah orang kedua yang meragukan kemampuan bertahannya. Seulas senyum miris tercipta dari bibir Anna. Ia yakin akan bisa menaklukkan tantangan ini. Sebelum terjebak dalam sebuah hubungan toxic selama bertahun-tahun, ia adalah seorang jurnalis yang tidak mengenal takut. Bahkan ia akan dengan senang hati membuat liputan dari daerah-daerah rawan bahaya. Hanya saja ia terpaksa harus berhenti dari pekerjaan itu sejak sang mantan kekasih melarangnya bekerja. Mimpinya pupus sudah sejak saat itu dan kini adalah waktunya untuk merajut kembali mimpi-mimpi yang tercecer tersebut.
“Oh ya, bolehkah aku meminta tolong?” Tanya Anna agak ragu.
“Katakan!” Ares memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Anna.
“Pintu kamarku sulit untuk dibuka, tadi pagi saja aku sampai kesulitan keluar karena kuncinya yang tersangkut. Bisakah pengelola memperbaikinya?”
Ares mengangguk paham, “Baiklah, nanti aku akan memberitahu bagian servis. Maaf atas ketidaknyamanannya.”
“Tidak apa-apa.”
=====
Keesokan paginya, Anna terbangun oleh suara ribut diluar kamar. Wanita itu mengerjabkan mata beberapa kali seraya meraih ponselnya diatas nakas. Tampak waktu masih menunjukkan pukul enam pagi yang mana ia tak terbiasa bangun sepagi ini. Anna kembali mencoba memejamkan matanya selama beberapa saat, namun netranya kembali terbuka sempurna tak lama kemudian.
“Sial, aku lupa harus berbagi kamar mandi,” rutuknya seraya menyibak selimut.
Wanita itu segera turun dari atas ranjang dan mencepol rambut blondenya asal. Setelah itu ia mulai mencari-cari peralatan mandinya sebelum keluar dan antre untuk membersihkan diri. Untung saja kemarin sore pintu kamarnya telah dibenahi seperti yang Ares janjikan, sehingga Anna tak perlu lagi berperang dengan pintu kayu itu untuk sekedar keluar masuk.
“Good morning, sleepy head,” sapa seorang pria yang telah lebih dulu mengantre di depan kamar mandi.
Itu adalah Zavier yang dua hari lalu membantu Anna membuka pintunya. Pagi ini meskipun dengan muka bantal serta rambut bagaikan sarang burung, Zavier masih tampak berkharisma.
Anna membalas sapaan itu dengan sekedar mengangguk.
“Apa aku yang terakhir?” Tanya Anna yang tak melihat ada orang lain yang antre dibelakangnya.
“Sepertinya begitu,” jawab Zavier terkekeh.
Anna menghela napas panjang dan mengerucutkan bibir. Ia melihat jam dinding yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit yang berarti dua puluh menit lagi air akan dimatikan. Rasa gelisah dan gugup pun menyerang Anna seketika.
“Nanti tolong cepatlah, waktu kita tidak banyak, Tuan,-” Anna menggantungkan kalimatnya karena ia bingung harus memanggil tetangga kamarnya itu dengan sebutan apa.
“Zavier, panggil aku Zavier saja, Annalise,” ujar pria itu sambil mengulurkan sebelah tangan.
Anna mengernyit heran dan tak segera menyahut uluran tangan tersebut. Ia tak yakin bagaimana bisa pria bernama Zavier itu bisa mengetahui namanya.
“Aku melihat nama yang tertulis di kopermu dua hari lalu. Annalise, itu namamu, bukan?” Tanya Zavier.
Barulah setelah itu Anna membalas uluran tangan Zavier, “Anna saja sudah cukup.”
“Baiklah, Anna. Tapi aku tidak yakin apakah aku bisa cepat, karena biasanya aku adalah yang terakhir,” kekeh Zavier dengan senyum miringnya.
“Hey! Kamu pria, masa’ tidak bisa mandi cepat?” Protes Anna.
“Lain kali bangunlah lebih cepat,” sahut Zavier seraya memasuki kamar mandi yang pintunya baru saja terbuka. Suara kekehan pria itu segera menghilang begitu pintu ditutup.
“Pergilah ke kamar mandi di sebelah, Zavier suka berlama-lama didalam sana,” ujar wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Terima kasih,” balas Anna lega.
Kedua wanita itupun segera berpisah dan benar saja, kamar mandi di ujung koridor lainnya telah kosong. Sebelum airnya benar-benar berhenti mengalir, Anna bergegas untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk memulai hari pertamanya mengajar di sekolah.
=====
Setelah semua relawan siap, mereka semua berangkat menuju tempat kerja masing-masing. Jika sebagian besar dari mereka memilih menggunakan fasilitas bus agar tidak kepanasan dan terkena debu jalanan, Zavier yang berprofesi sebagai dokter itu sekali lagi menggunakan motor yang satu tahun ini telah ia klaim sebagai miliknya. Tentu saja dengan Robin yang mengekor di jok belakangnya, karena mereka bekerja di fasilitas kesehatan yang sama.
Sekitar lima menit kemudian, mereka telah sampai di pusat kesehatan bersamaan dengan bus yang mengantarkan tiga relawan pendidik, salah satunya Anna yang tanpa sengaja bertatapan dengan Zavier saat pria itu memarkirkan motornya. Anna buru-buru menyusul kedua rekannya dan tampak kesal pada Zavier setelah membuatnya hampir terlambat jika tidak menemukan kamar mandi lainnya tadi pagi.
“Kamu kenal guru itu?” Tanya Robin yang ternyata juga melihat sikap kesal Anna.
“Penghuni baru kamar depan,” jawab Zavier seraya mengambil tas medisnya dan memasuki gedung pusat kesehatan.
“Oh, ya? Sudah berkenalan?” Tanya Robin antusias.
“Namanya Annalise dan hanya mau dipanggil Anna,” jelas Zavier.
“Cantik, secantik orangnya,” guman Robin tertarik.
“Perempuan terus isi otakmu,” dengus Zavier.
“Seperti kamu tidak saja,” cebik Robin. “Bedanya, kamu hanya terpaku pada satu orang, dan aku suka berkelana.”
Zavier menoyor dahi rekannya tersebut lalu segera menutup ruang kerjanya dengan agak keras. Hari baru dimulai, tetapi pasien yang Zavier dan Robin tangani sepertinya selalu sama. Para pekerja perkebunan zaitun ataupun kurma dari kalangan bawah yang sebagian besar menderita kekurangan gizi. Sangat kontras dengan kondisi kota yang glamor dan penuh kemewahan. Zavier dan para relawan yang sudah lama tinggal di Faradisa tahu penyebabnya, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Kota ini benar-benar menerapkan sistem kapitalisme yang sangat sempurna, hingga hampir tidak ada celah untuk memperbaikinya. Miris memang, tapi begitulah adanya.