Zavier meletakkan tasnya diatas meja. Setelah membasahi kedua tangannya dengan alkohol, ia berjalan kearah pojok ruang kerjanya, mengambil snelli putih yang tergantung di dalam lemari kayu. Setelah pakaian khas para tenaga kesehatan itu melekat sempurna di tubuh atletisnya, Zavier mengalungkan stetoskop di lehernya. Belum sempat menarik kursi untuk duduk di meja kerjanya, suara pintu diketuk mengalihkan perhatiannya.
“Silakan,” ujar Zavier seraya tersenyum simpul pada sosok berkulit gelap agak dengan pakaian yang sangat sederhana dihadapannya.
Kontras dengan warna kulitnya, pria muda yang baru masuk tersebut terlihat pucat dan kesakitan. Baru saja sampai, pasien sudah mulai berdatangan. Namun, dengan profesional Zavier mempersilakan pasiennya tersebut untuk duduk di mejanya.
“Aku baru sampai, bisakah kamu menungguku bersiap-siap sebentar?” Tanya Zavier ramah.
Satu tahun berurusan dengan warga sini membuat Zavier sudah terbiasa berbicara santai dengan mereka. Selain kepribadiannya yang memang mudah bergaul, pasien Zavier memang hanya itu-itu saja. Ia sudah hafal sebagian besarnya, seperti pemuda bernama Omari yang hari ini menjadi pasien pertamanya.
“Silakan, Dok,” balas Omari terdengar lemah.
“Kamu sendirian?” Tanya Zavier berbasa-basi.
“Ya,” jawab Omari sambil mengangguk.
“Coba ceritakan padaku apa keluhanmu!” pinta Zavier yang sudah mengeluarkan tensimeternya.
“Seperti biasa, Dok, hanya kelelahan. Berikan saja obat seperti biasanya,” jelas Omari.
Zavier tersenyum simpul lalu meraih tangan Omari dan membelitkan manset di lengan atasnya. Sejenak keduanya tak lagi berbicara dan Zavier fokus mengukur tekanan darah Omari. Seperti yang Zavier duga, pemuda itu tekanan darahnya cukup rendah.
“Sudah sarapan hari ini?” Tanya Zavier sambil melepaskan manset.
“Hanya beberapa butir kurma sisa sortiran kemarin,” jawab Omari.
Zavier mengangguk singkat lalu meminta Omari berbaring diatas brankar, “Disuntik vitamin, ya? Kurma memang baik untuk memulihkan stamina, tapi yang kalian makan itu adalah sisa, Omari. Kualitas paling buruk dari yang terburuk,” ujar Zavier yang terselip nada getir dalam kalimatnya.
“Terserah Dokter Vier saja,” balas Omari menurut.
Dokter spesialis pengobatan darurat itu melanjutkan pekerjaannya sampai menuliskan resep untuk Omari. Tentu saja resep itu hanyalah untuk obat-obatan generik yang gratis saja dan tersedia di klinik.
“Aku tidak bisa menyarankan kamu untuk beristirahat lagi? Setidaknya sampai demammu hilang,” tawar Zavier prihatin sebelum pasiennya keluar ruangan.
Omari menggeleng singkat, “Kalau aku tidak bekerja, besok keluargaku bisa tidak makan sama sekali, Dok.”
“Apa bantuan dari pemerintah belum turun?”
Pemuda berambut afro pendek itu menghela napasnya panjang, “Kami tidak terdaftar sebagai penerima dana, Dok.”
Zavier sedikit terhenyak, “Bagaimana bisa?”
“Entahlah, hanya beberapa orang kerabat mandor perkebunan saja yang terdaftar.”
Dalam hati Zavier merutuki sistem Faradisa yang memang sudah sangat bobrok ini. Para kerabat mandor tentu saja orang-orang yang lebih beruntung daripada para buruh sekelas Omari. Namun, seolah pasrah dengan keadaan, tak ada yang memprotes hal itu. Karena apa pun yang mereka utarakan, semua seperti sia-sia di telinga dan mata pemerintah.
Zavier merogoh saku kemejanya dan ia mengambil selembar uang sepuluh dollar dan mengulurkannya pada Omari, “Ambil dan istirahatlah hari ini! Simpan tenagamu untuk besok.”
Omari membelalak lalu menggeleng kuat, “Tidak! Tidak perlu dokter Vier.”
“Apa ini terlalu sedikit?” Zavier memaksa.
“Bukan seperti itu,” Omari tampak salah tingkah. “Gaji Dokter Vier saja tidak banyak, mana mungkin aku menerimanya.”
“Memang tidak banyak, tapi setidaknya aku tidak perlu bingung besok harus makan apa.”
“Tt-tapi, bukankah Dokter juga tidak diizinkan memberi kami apa pun?” Tanya Omari ragu sekaligus takut.
Zavier terkekeh lalu meletakkan uangnya di tangan Omari, “Tidak ada yang mengawasi di ruanganku dan kamu tidak akan melaporkanku pada Ares ‘kan, Omari?”
Omari menggeleng kuat, “Tidak, Dokter! Aku tidak akan berbicara apa-apa pada siapa pun.”
“Baguslah! Jadi, terima saja dan ini adalah rahasia kita!”
“Kk-kalau begitu, terima kasih, Dokter Vier. Semoga Tuhan membalas kebaikan Dokter Vier berlipat-lipat,” balas Omari terharu.
“Amin.”
Selepas kepergian pemuda yang sejatinya masih lebih muda darinya tersebut, Zavier menghela napasnya panjang. Sesuai dengan kontrak, ia dan relawan lain memang memiliki banyak larangan dari pemerintah Faradisa, salah satunya adalah dilarang memberikan makanan apalagi uang seperti yang baru saja dilakukannya. Entah maksudnya untuk apa, hal itu tidak tertulis jelas di dalam kontrak, hanya saja sangat mengikat.
Disaat-saat seperti ini, ia sangat berharap memiliki uang yang jauh lebih banyak serta kekuasaan yang lebih besar supaya bisa membantu orang-orang seperti Omari. Namun, apa mau dikata? Ia hanya relawan yang sampai beberapa bulan lalu masih harus mencicil student loannya, meskipun sekarang sudah benar-benar lunas. Hanya saja, seperti kata Omari, gaji sebagai relawan juga tidaklah besar.
Mengenal orang-orang kelas bawah di Faradisa membuat Zavier banyak merenungi nasibnya. Ia selalu bisa mengucap syukur tanpa batas karena merasa jauh lebih beruntung daripada mereka. Meskipun ia masih harus meminjam dana pemerintah dalam bentuk student loan untuk menyelesaikan pendidikannya, paling tidak hal itu juga menjadi bekalnya untuk menyambut masa depan. Berbeda dengan mereka yang ada di tempat ini. Bisa sekolah sampai lulus pendidikan dasar saja sudah cukup beruntung. Zavier benar-benar belajar banyak dari tempat ini.
---o0o---
Sementara itu, di gedung sekolah yang bersebelahan dengan klinik Zavier, Anna dan Daphne cukup terkejut, karena tak banyak siswa yang harus mereka ajar. Mungkin hanya sekitar sepuluh anak yang datang dengan pakaian seadanya, tampak kumal, rambut cukup gimbal kemerahan karena terik matahari, serta tubuh yang kotor.
“Apa mereka murid kita?” Tanya Daphne tak menyangka. Wanita itu tampak tercengang.
“Kalian masih memiliki waktu untuk membatalkan kontrak dan kembali pada peradaban,” canda salah seorang relawan senior bernama Luna.
“Apakah ini keadaan yang normal?” Tanya Anna memastikan.
“Begitulah,” jawab Luna sambil mengedikkan bahunya. “Sebenarnya ada empat puluh murid yang terdaftar di sekolah ini untuk semua jenjang, tetapi selama aku mengajar disini, paling banyak hanya setengah yang bisa datang secara rutin. Lainnya hanya semaunya.”
Anna dan Daphne mengangguk paham.
“Tak banyak pekerjaan disini, tetapi cukup sulit karena anak-anak tak pernah dilatih untuk berpikir keras sejak kecil, sehingga mereka cukup kesulitan untuk menerima ilmu pengetahuan baru,” jelas Rocky.
“Ayo bekerja! Hari pertama ini sebaiknya kalian berdua melihat saja dulu sambil beradaptasi,” ajak Oliver.
Kelimanya pun segera beranjak dan memanggil para murid untuk berkumpul. Sepuluh anak dalam rentang usia tujuh hingga sebelas tahun itu dibagi menjadi tiga kelompok belajar.
Kondisi yang tak pasti dari anak-anak ini membuat jenjang pendidikan disana sulit untuk diterapkan. Pekerjaan ini pun bagaikan sebuah tempat kursus dibandingkan sebuah sekolah. Untuk menyetarakan dengan jenjang pendidikan formal, nantinya saat usia mereka sudah cukup akan dilakukan ujian kompetensi seperti halnya kejar paket. Sayangnya, tak semua industri atau sekolah lanjutan mau menerima ijazah kejar paket dan ini adalah masalah lain yang harus relawan hadapi.
Sebenarnya para relawan ingin menyampaikan keberatannya, karena anak-anak ini pada dasarnya juga memiliki hak pendidikan dan pengakuan yang sama dengan anak-anak dari sekolah formal lain. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak karena memang bukan ranah para relawan untuk menyampaikan protesnya pada pemerintah.
“Hai, siapa nama kalian? Nama saya Ms. Anna,” tanya Anna saat ia diizinkan oleh Luna memperkenalkan diri pada tiga murid yang diajarnya.
Ketiga murid berambut ikal hampir gimbal tersebut saling berpandangan bingung. Anna pun segera menyadari kesalahannya dan ia kembali mengulang pertanyaannya menggunakan bahasa lokal yang hanya sedikit diketahuinya. Anna memang pernah belajar bahasa lokal satu bulan sebelum keberangkatannya ke Faradisa.
“Kellan,” jawab anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun.
“Amadi, Miss,” sahut anak laki-laki lain yang lebih tua.
“Malika,” jawab anak gadis yang seumuran dengan Kellan.
“Nama kalian bagus,” balas Anna dengan mata berbinar.
“Miss Anna guru baru kami?” tanya Amadi.
“Ya, selama dua tahun kedepan, saya akan menjadi guru kalian. Jadi, Ms. Anna harap kalian bisa semangat ke sekolah, supaya kita bisa lebih mengenal lagi,” jawab Anna antusias.
“Miss Anna, apa Miss Anna punya makanan? Kami lapar,” tanya si gadis dengan wajah cemberut. “Haus juga.”
Anna menatap Luna dengan wajah berkerut. Luna pun memberikan sedikit penjelasan bahwa anak-anak ini tak jarang datang ke sekolah hanya untuk meminta makanan dari para pengajar, tanpa berniat untuk benar-benar belajar.
Saat hendak memberikan anak-anak itu makanan, Luna menghalangi gerakan Anna. Mengenai apa alasannya, Luna tak berani berkata banyak. Ia hanya mengisyaratkan agar Anna kembali membaca kontrak kerjanya untuk alasan mengapa ia tak diizinkan memberi anak-anak ini makanan, kecuali sedang diinstruksikan oleh UN. Anna pun menatap kasihan pada ketiga anak yang tampak kelaparan tersebut.
“Ya Tuhan, bagaimana bisa anak-anak ini sampai kelaparan di negeri yang kaya seperti ini?” gumam Anna miris.