Chapter 04

1423 Kata
Waktu telah menunjukkan hampir tengah hari dan belum sedikit pun Zavier beristirahat. Pasien silih berganti datang dengan keluhan yang seragam. Namun, selain pengobatan ia tidak bisa memberikan bantuan lain pada mereka. Bukan bermaksud pilih kasih terhadap Omari, tetapi ini seperti kebiasaan Zavier untuk memberikan bantuan dana pada siapa pun pasien pertamanya hari itu. Meskipun tidak banyak, minimal hal itu bisa sedikit mengobati rasa kasihan di hati Zavier. Kegiatan ini sudah bukan lagi rahasia umum di kalangan pegawai klinik dan mereka semua bungkam atas tindakan heroik Zavier. Bahkan beberapa dari mereka juga mulai tergerak untuk diam-diam membantu, tidak terkecuali Robin, rekan terdekat Zavier. Untunglah orang bahu-membahu menutupi satu sama lain saat penanggung jawab mulai terlihat curiga. Robin memasuki ruangan Zavier setelah mengetuk pintu kayu pembatas ruang. Ia berdiam disana beberapa saat, menunggu rekan kerjanya itu menyelesaikan pemeriksaannya. “Ada apa?” Tanya Zavier kemudian. “Waktunya istirahat, ayo makan siang,” ajak Robin santai. Zavier mengangkat sebelah alisnya tampak ragu, “Tidak biasanya kamu mengajakku makan siang bersama,” cibirnya. “Jasmine dan Iris sedang mengambil obat ke kota,” sahut Robin sambil menyunggingkan senyum lebar dan memamerkan barisan gigi putihnya. Sudah Zavier duga, ia hanyalah cadangan untuk Robin yang otaknya setiap detik hanya dihuni oleh para wanita. Jasmine dan Iris adalah rekan sesama relawan mereka yang berprofesi sebagai perawat, sementara Robin sendiri adalah seorang ahli gizi. Hanya ada dua orang dokter di klinik ini. Satu adalah Zavier sebagai spesialis pengobatan darurat dan satu lagi adalah dokter Leonard yang merupakan spesialis anak. “Ayo!” “Ada menu apa hari ini?” Tanya Zavier mengikuti langkah Robin di depannya. Kedua pria seumuran itu berjalan bersama menuju ruang istirahat. UN memang selalu memberikan jatah makan tiga kali sehari untuk semua relawan, sehingga mereka tidak perlu repot memasak apalagi membeli makanan untuk mengisi perut. Belum sampai di ruang istirahat, indra pendengar kedua pria itu mendengar suara langkah terburu dari luar klinik dibarengi dengan suara berisik. Tak lama kemudian keduanya melihat Oliver yang membopong seorang gadis kecil yang tampak lemah diikuti seorang perempuan dewasa dibelakangnya. Tanpa aba-aba, Zavier segera mengarahkan Oliver untuk membawa gadis kecil itu keruangannya. Setelah membaringkan anak itu, Oliver segera berpamitan dan membiarkan rekannya yang menunggu. Gerak cekatan Zavier memeriksa si gadis kecil tak sedikit pun luput dari perhatian perempuan yang tak lain adalah Anna tersebut. Ekspresi cemas tampak membingkai indah wajah yang kulitnya mulai kemerahan akibat terpapar terik matahari dengan suhu yang cukup tinggi. “Dia baik-baik saja ‘kan?” Tanya Anna terdengar gemetar saat Zavier sepertinya sudah selesai memeriksa dan melangkah menjauh dari brangkar. Pria tiga puluh tahun itu tak langsung menjawab. Ia justru berjalan keluar ruangan dan memanggil seseorang. Anna berdecak kesal karena pertanyaannya diabaikan oleh dokter muda tersebut. “Hey, aku bertanya padamu!” seru Anna terdengar menuntut. Zavier kembali mendekat kearah brangkar setelah mengambil peralatannya. Ia kemudian memasangkan infus pada tubuh si gadis kecil yang begitu lemah. “Kadar gulanya sangat rendah, makanya dia pingsan,” jelas Zavier tenang. “Kalau begitu, Malika akan baik-baik saja ‘kan setelah ini?” Tanya Anna lagi tanpa mengurangi rasa cemasnya. “Hanya sementara. Dia akan tetap lemah jika tetap tidak makan,” jawab Zavier sambil mengatur laju tetesan infus dihadapannya. Setelah itu ia duduk dipinggir ranjang dan menatap gadis kecil itu kasihan. Lengannya terangkat dan ia merapikan anak rambut diwajah anak itu. “Maksudmu?” “Anak ini kelaparan, karena itulah kadar gulanya turun drastis.” “Ya Tuhan!” Anna terkesiap. Rasa bersalah segera menghantuinya saat mengingat ia tidak memenuhi keinginan anak muridnya itu tadi yang meminta makanan padanya. Namun, kontrak yang dimilikinya begitu mengikat dan Anna masih anak baru yang belum mengetahui keadaan Faradia secara penuh. Tak lama kemudian pintu ruangannya diketuk dari luar. Setelah Zavier mengizinkan, sosok dibaliknya pun segera merangsek masuk. Robin datang membawa satu nampan berisi satu gelas air gula dan dua buah pisang. “Apa tidak ada makanan yang lebih lembut untuk dicerna?” Tanya Zavier segera setelah melihat makanan padat yang Robin bawa. Saat sedang bekerja seperti ini, ia dan Robin memang selalu menggunakan bahasa formal. “Kemarin blendernya rusak, Dok, belum diperbaiki. Pisang ini juga sudah cukup lembut,” sahut Robin seraya meletakkan makanannya diatas meja. Rekan Zavier itu kemudian mendekati brangkar dan ikut melihat keadaan si gadis kecil yang masih tertidur. Sebuah helaan napas terdengar dan raut prihatin segera menghiasi wajahnya. Setelah itu ia menatap Anna yang tak sedikit pun mengalihkan perhatian dari anak muridnya yang tergolek lemah. “Bu guru sudah makan siang?” Tanya Robin lembut. “Eh, kita belum kenalan ‘kan? Nama saya Robin, ahli gizi di klinik ini,” lanjutnya seraya mengulurkan tangan. Zavier memutar kedua bola matanya. Rekannya itu benar-benar totalita saat menggoda para wanita. Jika si A tidak ada, maka si B pun akan digombalinya. Jika si B juga tidak bisa, ia akan mencari si C dan begitulah seterusnya. “Anna,” sahut wanita itu singkat dan tanpa menjawab pertanyaan Robin yang lain. Ia bahkan tidak membalas uluran tangan pria itu dan tetap menundukkan pandangannya. “Kapan Malika akan bangun, Dok?” “Entahlah,” Zavier menjawab sambil mengedikkan bahunya. “Kalau kamu masih sibuk, tinggalkan saja dia disini! Aku akan menjaganya.” “Tidak! Aku akan tetap disini, dia muridku,” sanggah Anna sambil mengusap surai kumal Malika. “Kalau begitu ikutlah Pak Robin makan siang, kita gantian menjaganya,” usul Zavier yang berhasil mengalihkan perhatian Anna. “Kalian duluan saja,” bantah wanita itu. Zavier mengedikkan bahunya, “Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau dia bangun, berikan air gula dan pisang itu untuknya!” Anna mengangguk singkat, sementara Zavier dan Robin beranjak keluar. Sayup-sayup wanita itu mendengar percakapan kedua pria itu yang justru membuatnya berdecak. “Kenapa dia hanya menanggapi ucapanmu sementara padaku begitu acuh?” Tanya Robin. “Karena aku lebih tampan,” sahut Zavier percaya diri. Jauh dalam lubuk hati Anna sebenarnya juga mengakui pesona dokter muda tersebut. Secara fisik, tidak ada cela untuk Zavier. Bahkan jika diperhatikan secara seksama, Zavier yang katanya sering kesulitan secara ekonomi itu wajah dan perawakannya tampak seperti seorang aristokrat yang uangnya tak lagi berseri. Anna menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pemikiran aneh yang hadir tidak tepat tersebut. Ia harus kembali fokus pada tujuan utamanya datang ke tempat ini, menyembuhkan dirinya sendiri seperti janjinya pada sang kakak. Alexa. Baru saja Anna teringat kakaknya, ponsel yang berada di saku celana denimnya bergetar. Sebuah pesan masuk datang dari sang kakak yang berada nun jauh di belahan bumi lain. Alexa Bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja ‘kan? Apa sudah bisa beradaptasi di tempat baru? Anna tersenyum membaca pesan beruntun tersebut. Tanpa pikir panjang, ia pun segera menghubungi sang kakak meskipun ia harus mengeluarkan biaya lebih untuk sambungan telefon internasional. Jaringan internet di desa pinggiran ini memang sangat buruk, bahkan bisa dikatakan hampir tak pernah ada selama beberapa hari Anna berada di tempat ini. “Anna,” sapa kakaknya antusias. “Ada apa, Lex? Dua hari lalu aku sudah sampai di-,” ujar Anna tak sampai selesai. “Sudah aku bilang jangan menyebut dimana lokasimu!” Potong Alexa cepat. Anna merutuki bibirnya yang hampir keceplosan. “Apa masih berbahaya?” Tanya wanita itu seraya kembali memperhatikan anak muridnya yang masih tertidur pulas. “Entahlah, tapi apa salahnya berjaga-jaga. Mantanmu sangat gila,” jawab Alexa sambil mendengus. “Dan aku beruntung bisa terlepas darinya,” kekeh Anna. “Ya, setelah hampir mati dipukuli dan dihancurkan mentalnya oleh bocah itu,” ketus Alexa. “Ngomong-ngomong, dia sudah menikah, tetapi masih kerap menemuiku untuk menanyakan keberadaanmu. Kasihan sekali perempuan yang menjadi pasangannya sekarang. Semoga dia cepat sadar dan tidak sebodoh kamu.” “Aku sudah pintar, buktinya bisa kabur,” sahut Anna membela diri seraya tergelak. “Tapi benar katamu, Lex. Semoga saja wanita itu, siapa pun dia bisa segera menyadari kesalahannya! Atau setidaknya bajingann itu yang bertaubat dan mengubah sikapnya pada perempuan. “Sudah, jangan membicarakan racun itu!” seru Alexa mengakhiri. “Lalu, bagaimana keadaanmu disana, Ann? Suka?” Tanya Alexa lagi. “Aku belum bisa mengatakan suka atau tidak, tapi yang pasti aku belajar banyak dari tempat ini,” ungkap Anna jujur. Pembicaraan itu terus berlanjut hingga beberapa menit. Tak selama biasanya mengingat panggilan internasional cukup mahal. Bersamaan dengan Anna yang mengakhiri panggilannya, Malika terbangun dari tidur nyenyaknya. Anna segera membantu anak muridnya tersebut dan melakukan intruksi seperti yang diberikan Zavier sebelumnya. Selama menemani Malika memakan pisangnya, Anna tak sedikit pun mengalihkan pandangan sendunya dari anak itu. Jauh dalam lubuk hatinya ia sangat bersyukur telah memiliki kehidupan yang lebih baik daripada anak sekecil ini, meskipun perjalanan hidupnya juga tidaklah lempeng-lempeng saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN