Chapter 05

1634 Kata
Anna masih memperhatikan anak muridnya saat pintu ruangan Zavier kembali di buka dari luar. Pemilik ruangan ini telah kembali hanya selang lima belas menit sejak ia keluar. Seulas senyum yang mengembang dari bibir Zavier serta tatapan lembutnya justru membuat Anna menundukkan kepala, sebisa mungkin tidak bertatapan dengan pria yang sesungguhnya tak sedikit pun memperhatikannya tersebut. “Bagaimana keadaanmu, Kiddo?” tanya Zavier menghampiri si gadis kecil yang memakan pisangnya dengan lahap. “Masih lapar, Paman dokter,” sahut Malika dengan tatapan merajuk. Zavier terkekeh seraya mengusap surai kumal anak itu, “Mau ini?” tawar Zavier sambil mengangkat satu kantung plastik berisi roti serta susuu kotak. Kedua netra gelap Malika berbinar dan ia mengangguk senang, “Mau, Paman dokter! Terima kasih.” “Hey!” Anna segera menghalangi gerakan Zavier yang memberikan roti itu pada muridnya. Meskipun hanya melalui pandangan mata, ia berusaha mengingatkan Zavier akan larangan yang mengikat mereka. Namun, Zavier segera melepaskan pegangan tangan tersebut dan benar-benar memberikan barang bawaannya pada Malika. Pria itu kemudian berbicara menggunakan bahasa Inggris pada Anna yang pastinya tidak diketahui artinya oleh Malika. “Apa kamu akan melaporkanku pada Ares?” tanya Zavier tenang dan tanpa ekspresi. “Bb-bukankah kita tidak diizinkan memberi mereka apa pun?” Anna balik bertanya. Terselip nada gugup dalam kalimatnya. “Lalu kamu akan tetap membiarkan mereka kelaparan?” Anna menghela napasnya panjang seraya menggeleng, “Aku juga ingin membantu, tetapi kita terikat kontrak ‘kan? Aku tidak akan bisa membayar pinaltinya kalau sampai melanggar.” “Kalau begitu posisi kita sama,” sahut Zavier seraya duduk di pinggir brankar dan berhadapan dengan Anna. “Lalu kenapa kamu masih melanggar kontrak?” tanya Anna penasaran. Tatapan Zavier menerawang keluar. Otaknya seperti sedang menggali memori-memori tidak menyenangkan yang tersimpan di kepalanya, “Aku pernah ada di posisi mereka, kebingungan besok harus makan apa, dan seringkali harus berpuasa.” Anna hanya menatap dokter muda itu sesekali dan kembali memusatkan perhatiannya pada Malika yang lahap memakan hidangannya. Wanita itu masih belum bisa menatap pria secara langsung dalam waktu yang cukup lama. “Jika saja bisa, aku justru ingin membantu mereka lebih banyak lagi. Bukankah seharusnya itu yang dilakukan para relawan? Tapi kenyataannya, kita justru begitu terikat pada kontrak,” cibir Zavier miris. “Aturan dibuat pasti ada alasan dibaliknya,” balas Anna lirih. “Alasan? Untuk melemahkan kaum yang sudah lemah ini maksudmu?” dengus Zavier. “Aa-aku tidak bermaksud demikian,” ungkap Anna membela diri. “Sudahlah, tidak ada gunanya membahas sistem disini,” pungkas Zavier seraya turun dari brangkar. Pria itu mengitari brangkar dan memeriksa infus yang masih terhubung dengan lengan Malika, “Pergilah makan siang! Masih ada setengah jam lagi sampai infus ini habis. Aku akan menjaganya.” Anna pun mengangguk dan berpesan pada Malika agar menunggunya. Zavier sendiri juga segera bersiap-siap untuk segera menerima pasien kembali. Sesekali ia juga mengajak Malika berbicara dan bercanda. Ia adalah salah satu relawan yang paling sering berinteraksi secara santai dengan penduduk lokal. ---o0o--- Hari-hari Zavier tetap berjalan seperti biasa, bekerja, membantu yang membutuhkan, bercengkerama dengan sesama relawan, lalu tidur. Sesekali para relawan akan membuat acara makan malam bersama untuk saling mengenal satu sama lain, tak terkecuali akhir pekan ini. Beragam jenis hidangan mulai dari olahan daging, sayuran, gandum, dan lainnya satu persatu memenuhi meja. Beragam minuman dingin untuk menyegarkan suasana juga tidak ketinggalan disiapkan oleh pengelola. Tepat pukul tujuh malam saat matahari baru terbenam, Zavier keluar dari kamarnya untuk menghadiri acara tersebut. Saat menutup pintu, ternyata ia berbarengan dengan Anna yang juga baru akan beranjak keluar. Keduanya saling menyapa sekenanya dan turun bersama-sama. “Sudah mulai betah atau malah sudah ingin pulang?” tanya Zavier basa-basi. “Kenapa sejak awal bertemu kamu selalu meremehkanku? Aku tidak selemah itu,” sahut Anna tidak terima. “Aku hanya bertanya, kenapa kamu menjawabnya seperti itu? Hidupmu terlalu penuh dengan keseriusan, Nona,” cibir Zavier. Wanita itu tidak menanggapi dan justru melangkah lebih cepat menuruni anak tangga. Sayangnya, karena terburu-buru menghindari Zavier, langkah Anna justru terpeleset dan hampir saja terjatuh berguling-guling. Untunglah refleks Zavier cukup baik dan ia segera merengkuh pinggang dan lengan wanita itu dan menahannya. “Perhatikan jalanmu! Kalau kamu sampai jatuh dan mati, aku akan menjadi tersangka utama, karena aku yang terakhir bersama denganmu,” peringat Zavier dengan nada sedikit tinggi. Bukannya berterima kasih, Anna justru kembali buru-buru menjauhkan tubuhnya dari rengkuhan pria itu. Tubuhnya terlihat gemetar dengan kepala menunduk. Zavier pikir itu adalah respon terkejut dari wanita itu. Namun, hingga beberapa saat menunggu, napas Anna tidak kunjung berangsur normal. “Hey, kamu tidak apa-apa, Ann?” tanya Zavier sambil mengibaskan tangannya didepan wajah wanita itu. “Anna?” Sekali lagi Zavier memanggil, tetapi tak juga mendapat sahutan berarti. Pria itu mengernyit heran dan semakin mendekati Anna. Ia mengulurkan tangannya, meraih bahu wanita itu yang kali ini tampak rapuh. Dari jarak sedekat ini, Zavier bisa melihat rasa ketakutan di wajah Anna yang biasanya selalu dipenuhi oleh ekspresi kesal terhadapnya. “Annalise! Ini aku, Zavier. Aku tidak akan menyakitimu,” ujar Zavier lebih lembut sambil sedikit mengguncang bahu wanita itu. Perlahan, napas Anna mulai berangsur normal dan tubuhnya yang tegang juga mulai melemas. Kelopak matanya berkedip dan tatapan matanya tak lagi kosong. Netranya kini bersirobok dengan Zavier yang tampak cemas dihadapannya. Pelan, wanita itu menangkis tangan Zavier di bahunya. “Apa yang begitu kamu takutkan?” tanya Zavier memastikan. Anna menggeleng lemah, “Tidak ada. Ayo cepat, semua orang sudah menunggu.” Wanita itu melangkah lebih dulu, sekali lagi meninggalkan Zavier yang masih menatapnya ragu. Lengan Anna terangkat bersamaan dengan bibirnya yang memanggil nama rekan sejawatnya, Daphne yang juga akan menuju halaman mes. Zavier melangkah pelan menuruni tangga sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi rambut halus, “Dia seperti memiliki trauma,” gumamnya. “Vier! Jalanmu lelet sekali seperti perawan,” tegur Robin di lantai dasar dan berhasil membuat Zavier memutar kedua bola matanya. “Cepatlah!” “Siapa yang bilang kalau perawan jalannya lelet? Tidak pernah lihat sprinter remaja perempuan?” cibir Zavier tidak terima. “Jangan terlalu serius! Kerutanmu bisa berkembang biak nanti,” balas Robin memimpin di depan Zavier. “Tidak pernah dengar istilah aging like a fine wine? Kalimat itu sangat cocok untukku, semakin tua semakin tampan meskipun berkeriput,” sahut Zavier percaya diri. “Mana ada keriput malah keren?” Robin berdecih. Saat keduanya saling lempar candaan garingnya, tiba-tiba Zavier merasakan kaos abu-abu yang dikenakannya ditarik oleh seseorang. Langkah pria itu terhenti dan ia membalik badannya. Seketika kedua netranya membola dan buru-buru menarik sosok yang dibelakangnya menjauh dari kerumunan para relawan. Robin yang melihat hal itu berusaha bersikap setenang mungkin dan menyembunyikan keberadaan Zavier. “Kenapa kamu kesini?” tanya Zavier begitu ia sampai di tempat yang tersembunyi. Anak berperawakan kumal itu menatapnya sendu, “Paman dokter ayo ikut aku! Ibu sakit, Paman. Badannya panas sekali dan terus muntah-muntah sejak pagi tadi,” ungkap anak itu cemas. “Rumah kamu dimana?” tanya Zavier tanpa basa-basi. “Di desa sebelah.” “Tunggu dulu disini sebentar, Paman ambil alat dulu,” pinta Zavier yang diangguki anak itu. Zavier buru-buru menghampiri Robin dan menyampaikan kabar tersebut. Berdasarkan kontrak, ia tidak seharusnya mengunjungi rumah warga diluar jam kerja seperti ini. Namun, naluri tidak bisa dibohongi oleh secarik kertas bertuliskan tinta hitam. Ia pun bekerjasama dengan dengan Robin untuk bisa absen dari kegiatan ramah tamah ini. “Ketua, sepertinya aku sedang tidak enak badan. Aku izin istirahat, ya,” pamit Zavier dengan memelaskan wajahnya. “Sungguh?” Ares si ketua terlihat sangsi. Pasalnya Zavier memang sudah terkenal suka membuat onar diantara semua rekan-rekannya. “Ya Tuhan, perutku melilit sekali. Permisi aku mau ke toilet,” kilah Zavier dengan wajah seolah-olah sangat kesakitan. “Bin, simpan jatah makanku! Akan kumakan setelah sembuh.” Setelah mengatakan kalimat itu pada Robin, Zavier yang memeluk perutnya sendiri segera berlalu pergi seperti terbirit-b***t. Akting kesakitannya sungguh meyakinkan dan semua rekannya tampak simpati, kecuali Robin dan satu orang lainnya, Anna. Tentu saja karena keduanya sampai beberapa menit lalu masih melihat Zavier yang segar bugar. Tanpa terduga, Anna beranjak dari posisinya dan menghampiri Ares. Wanita itu ikut-ikutan meminta izin untuk melihat kondisi Zavier dan sebelum Ares mengizinkan, Anna sudah lebih dulu berlari menyusul Zavier. “Kenapa pura-pura sakit? Kamu mau kemana?” tanya Anna saat berpapasan dengan Zavier yang sudah turun dari tangga membawa tas medisnya. Zavier berdecih, “Kuharap kamu tidak melaporkan kebohonganku pada Ares.” “Asal kamu memberitahuku mau kemana malam-malam begini,” tawar Anna. “Apa pedulimu?” “Hh-hanya,” wanita itu tergagap. Ia juga tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba menyusul Zavier. “Ada warga yang sakit, tapi kontrak tidak mengizinkanku memeriksanya diluar jam kerja. Jadi aku harus berbohong supaya bisa melihat keadaannya,” jelas Zavier tak ingin mengulur waktu. “Bb-benarkah? Dimana?” “Kamu mau membawa Ares memergokiku?” Zavier balik bertanya dan membuat Anna terkesiap. “Tidak! Aa-aku justru ingin ikut denganmu,” sahut Anna gugup. “Kenapa?” “Hanya ingin saja.” Zavier memutar kedua bola matanya malas. Alasan yang aneh. Namun, akhirnya ia membiarkan Anna mengikutinya setelah memastikan bahwa niat wanita itu memang sungguh ingin membantu. Lagipula, Zavier tidak ingin menunda lebih lama. Saat sampai di lantai dasar mes, ia kembali bertemu dengan Robin yang sudah membungkus jatah makanan milik Zavier. Bahkan Robin juga menambahkan miliknya untuk dibawa Zavier mengunjungi pasiennya. Kedua rekan dekat tersebut sangat kompak dalam hal ini. Anna sedikit menyesal karena tidak mengetahui cara kerja kedua pria itu. Jika saja ia tahu, Anna akan dengan senang hati memberikan jatah makan miliknya untuk dibagikan pada yang lebih membutuhkan. Akhirnya, malam itu Zavier dan Anna mengikuti si anak menuju desa sebelah dengan membawa sepeda kayuh secara diam-diam. Tidak mungkin Zavier mengendarai motor tuanya yang super berisik itu. Bisa-bisa misi mereka malam ini akan langsung ketahuan dan keduanya harus membayar denda pelanggaran kontrak. Zavier dan Anna mana punya uang sebanyak itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN