Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai mereka tiba di rumah si anak yang meminta pertolongan. Zavier segera mengikuti anak itu masuk kedalam rumah yang kondisinya terlalu sederhana, bahkan ruang tamu pun merangkap menjadi ruang serbaguna, termasuk sebagai ruang makan hingga dapur yang tanpa sekat.
Anak itu menunjukkan kamar yang hanya dibatasi oleh gorden pintu usang. Didalam sana terbaring seorang wanita paruh baya yang begitu lemah diatas ranjang kayu tua yang lusuh serta apek. Terbiasa dengan kondisi desa sekitar mesnya selama satu tahun terakhir membuat Zavier tak lagi rikuh.
“Sejak kapan ibumu sakit?” tanya dokter muda itu pada si anak yang terlihat sangat mencemaskan ibunya.
“Kemarin, Paman Dokter,” jelas anak itu. “Ibu bisa sembuh ‘kan?”
“Paman periksa dulu, ya?”
Zavier pun segera melakukan pemeriksaan menggunakan alat-alat yang cukup terbatas, karena itu hanyalah milik pribadi. Lagipula, jenis penyakit yang menyerang warga sekitar biasanya cukup seragam, karena itulah Zavier bisa dengan cepat memberikan diagnosisnya serta segera memberikan perawatan pada wanita itu.
“Beliau sakit apa?” tanya Anna yang baru masuk kedalam rumah setelah melihat-lihat kondisi lingkungan sekitar.
“Kemungkinan flu perut. Seharusnya ada pemeriksaan lebih lanjut, tapi peralatanku terbatas. Beliau juga seharusnya diberi infus, supaya lebih cepat pulih,” jelas Zavier masih tanpa mengalihkan perhatian dari wanita paruh baya tersebut.
“Apa itu artinya ibu tidak akan sembuh, Paman dokter?” tanya si anak semakin khawatir.
Zavier mengalihkan perhatiannya pada anak itu dan menatapnya sambil tersenyum lembut, “Tentu saja bisa. Besok bawalah ibumu ke klinik supaya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik!”
Permintaan Zavier tidak segera disanggupi anak yang malah menunduk sedih tersebut. Jemari kecilnya yang tampak kotor tersebut saling bertaut dan ia terlihat gusar.
“Kenapa?” tanya Zavier lagi.
“Ii-itu, aku tidak bisa membawa ibu sendirian, Paman Dokter. Ayah sedang bekerja di kota, kakak juga dari kemarin masih belum pulang,” jawab anak itu.
“Memangnya kakak kemana?” kali ini Anna yang menyuarakan rasa penasarannya.
“Ikut mandor panen di kebun yang jauh.”
“Ya sudah, kalau begitu biar besok paman-paman di klinik yang menjemput. Kamu tidak perlu khawatir,” putus Zavier menenangkan.
“Terima kasih, Paman,” balas anak berusia sekitar delapan tahun itu terdengar sangat tulus.
Zavier mengusap kepala anak itu perlahan, “Apa kamu dan ibumu sudah makan?”
Si anak menggeleng pelan.
Dokter muda itu pun mengisyaratkan pada Anna untuk memberikan makanan yang mereka bawa dari mes. Tanpa banyak bertanya Anna melakukannya, bahkan membantu anak itu untuk menyiapkan makanan tersebut sebelum bisa dinikmati. Pada saat yang bersamaan, Zavier mulai mengeluarkan obat-obatnya yang jumlahnya terbatas itu.
Selesai dengan semua pekerjaannya, Zavier pun pamit bersama dengan Anna. Tidak ada bayaran yang Zavier terima, hanya ucapan terima kasih tulus yang tersampaikan dari bibir mereka. Ini bukanlah pertama kalinya Zavier mendapatkan respon seperti ini, tetapi ia tidak pernah mengambil pusing. Ia bukannya tidak membutuhkan uang atau bayaran, siapa pun pasti menginginkan imbalan sesuai dengan jasa yang sudah mereka berikan. Namun, untuk seorang Zavier, bisa membantu sesama yang membutuhkan saja sudah membuat jiwa sosialnya bahagia.
“Apa kondisi seperti ini sering terjadi?” tanya Anna selama perjalanan kembali ke mes.
Keduanya mengendarai sepeda kayuh bersisian, menembus gelapnya malam di jalanan yang sepi. Jika saja Anna sendirian harus melintasi jalanan ini, sudah bisa dipastikan jika ia akan sangat ketakutan, berbeda dengan Zavier yang sudah sangat terbiasa melakukannya.
“Paling tidak seminggu sekali pasti ada saja kasus seperti ini,” jawab Zavier terus menyejajarkan posisi sepeda mereka.
“Kasus yang sama?”
“Ya. Gangguan pencernaan, kurang gizi, keracunan, beban kerja yang terlalu tinggi hingga kelelahan, penyakit-penyakit itulah yang paling banyak kutemui satu tahun ini.”
“Lalu, apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya?” selidik Anna penasaran.
“Mencari relawan seperti kita. Tapi anehnya setelah sampai disini kita malah dilarang mengunjungi mereka diluar jam kerja,” jelas Zavier terdengar prihatin.
“Apa tujuan mereka melakukan hal ini?” gumam Anna yang masih terdengar di telinga dokter muda disampingnya.
“Kalau kamu bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?” sahut Zavier mencoba lebih santai dan berhasil membuat Anna berdecih. “Yang kutahu, pemerintah sebenarnya sudah mengucurkan dana untuk meningkatkan kesejahteraan para buruh di perkebunan ini. Tapi sepertinya terlalu banyak tikus di sistemnya. Semakin ke level bawah, dana menjadi semakin langsing,” lanjutnya memberikan gambaran.
“Apa kita tidak bisa membantu sama sekali?”
“Kamu sungguh peduli pada mereka?” Zavier balik bertanya dengan sangsi.
“Selalu saja meremehkanku,” dengus Anna kesal.
Zavier tertawa kecil. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu Anna ia selalu menganggap jika wanita itu terlalu rapuh dan manja untuk berada ditempat sekeras Faradisa. Pikir Zavier, Anna akan menyerah pada kondisi sulit ini dan mengajukan pembatalan kontrak setelah masa percobaan ini berakhir.
Pikiran itu tercipta bukan tanpa alasan. Sudah banyak rombongan relawan datang silih berganti dan sebagian besar dari mereka memilih mundur daripada harus bertahan di neraka berkedok surga ini. Hanya mereka-mereka yang tangguh secara fisik dan mental saja yang mampu bertahan.
“Selain terikat kontrak dengan UN, kita juga tidak memiliki hak suara untuk menyampaikan keluhan pada pemerintah,” ujar Zavier memberi keterangan.
Anna menghela napasnya yang mulai kelelahan setelah mengayuh sepeda beberapa menit ini, “Kasihan sekali orang-orang disini. Apalagi kondisi lingkungannya juga sangat buruk.”
“Sudah melihat semuanya?” tanya Zavier memastikan dan dibalas anggukan wanita itu.
“Tadi, saat kamu memeriksa ibu itu aku berkeliling. Fasilitas sanitasi didesa ini sangat tidak layak digunakan,” ungkap Anna.
“Ya. Belum lagi dengan bayaran buruh yang sangat rendah dan bahan baku makanan layak konsumsi yang sulit diperoleh, kesehatan mereka menjadi semakin buruk,” tambah Zavier.
Semenjak malam itu, Zavier dan Anna menjadi semakin sering berbagi cerita serta keluhan mereka terhadap tempat yang katanya bernama surga ini. Tak hanya di mes dengan posisi kamar yang berhadapan, hampir setiap hari Zavier bertemu dengan Anna yang mengantarkan anak didiknya berobat ke klinik. Tugas itu sebelumnya diemban oleh Oliver, senior Anna sesama guru.
“Aku seperti petugas EMT sejak datang kesini, bukan lagi guru yang sibuk mengajar di sekolah,” keluh Anna seraya menerima sekaleng minuman dingin dari tangan Zavier saat keduanya tengah menunggui anak murid Anna yang masih terbaring diatas brangkar.
“Sudah menyesal sekarang?” Canda Zavier lalu menyesap minumannya.
“Kamu sungguh-sungguh meremehkanku,” dengus Anna kesal. “Aku adalah perempuan yang memegang teguh komitmen. Kalau aku sudah berniat, maka aku akan menyelesaikannya sampai akhir.”
“Oke, kita lihat sampai kapan kamu akan bisa berbicara seperti itu,” balas Zavier sambil terkekeh.
“Mau bertaruh?” Anna yang kesal berkata secara spontan.
“Apa?” tanya Zavier tampak tertarik.
“Kalau aku bisa bertahan sampai akhir, semua gajimu menjadi milikku. Tapi kalau aku menyerah sebelum kontrakku selesai, akan kuberikan semua gajiku untukmu,” ungkap Anna tanpa pikir panjang.
Zavier tertawa tanpa menanggapi usulan tersebut. Ia bahkan hanya menggelengkan kepala tak habis pikir atas aksi spontan rekan sejawatnya tersebut.
“Menang ataupun kalah, kamu tetap tidak akan mendapatkan apa-apa, Bu Guru,” ujar sebuah suara yang baru saja memasuki ruangan Zavier, Robin.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya heran. Sering datang ke klinik membuatnya juga semakin mengenal para tenaga medis ini. Anna bahkan sampai terbiasa dengan gombalan-gombalan Robin yang sudah terkenal diantara semua relawan tersebut.
“Bagaimana bisa?” tanya Anna penasaran.
“Vier, profesinya saja dokter spesialis, tetapi dia sama saja gembelnya dengan warga sini,” sahut Robin sambil terkekeh.
“Setidaknya aku tidak punya hutang lagi dan hatiku puas bisa membantu mereka semua,” timpal Zavier bangga.
“Sungguh kamu tidak punya uang? Lalu bagaimana taruhan kita?” tanya Anna bernada protes.
“Aku tidak pernah setuju bertaruh denganmu,” balas Zavier sambil mengedikkan bahunya dan dibalas dengusan wanita itu.
“Bagaimana kalau aku yang menggantikan taruhan itu?” tawar Robin sambil menaik-turunkan kedua alisnya bersemangat.
“Lebih baik tidak bertaruh daripada anda mengelabuhi dan menggodaku, Tuan penjahat berkedok pahlawan,” balas Anna mencibir.
Zavier tertawa mendengar ejekan tersebut, sementara Robin sendiri mendengus kesal. Hal itu karena nama belakang Robin yang tak lain adalah Hood tersebut. Atas dasar itulah Robin sebisa mungkin selalu menghindari menyebut nama lengkapnya, Robin Hood.
“Ada apa menyusul kemari? Sekarang masih jam kerja,” tanya Zavier pada Robin.
Saat ini memang belum waktunya istirahat, ia dan Anna hanya menikmati waktu senggang sambil menunggu murid wanita itu kondisinya pulih. Mumpung sedang sepi pasien kata Zavier.
Raut jenaka Robin seketika berubah serius dan ia pun segera menghampiri Zavier yang saat ini duduk di kursi kerjanya, “Apa kamu baru membuat kekacauan lagi?” tanyanya.
“Memangnya kapan aku tidak membuat kekacauan?” Zavier balik bertanya.
Robin menghela napasnya panjang, “Siang ini saat jam makan siang Ares ingin bertemu denganmu.”
“Sepertinya aku harus mempersiapkan telingaku mendengar ceramah panjangnya lagi,” gumam Zavier sambil mengangguk beberapa kali.
“Apa kamu akan dihukum?” tanya Anna tanpa rasa bersalah.
Ia malah sudah bersiap untuk membalas ucapan-ucapan Zavier yang selalu meremehkannya.
“Anda tidak seharusnya setenang ini, Bu Guru,” sahut Robin lebih dulu. “Dari yang kudengar, kamu juga akan ikut diinterogasi. Ares melihat kalian mengunjungi warga di luar jam kerja!”
“Dang it!” rutuk Zavier dan Anna bersamaan.