“Kapan sebenarnya kontrak anda akan berakhir?” tanya Ares sambil mengetuk jemarinya diatas meja.
Sosok dihadapannya yang tak lain adalah Zavier itu tersenyum simpul, “Apa anda merasa sayang kalau saya pergi dengan cepat?” ia balik bertanya dengan nada ramah seperti pada teman sendiri. Lagipula, usia Ares memang lebih muda darinya.
Ares mendengus seraya berdiri dari posisinya. Ia melangkah ke sisi jendela yang menampakkan pemandangan di luar mes. Sinar senja keemasan membuat suasana begitu hangat. Dari posisinya saat ini ia bisa melihat beberapa relawan tengah menikmati istirahat sorenya dengan beragam kegiatan. Di jalanan depan mes, hilir mudik para buruh yang akan kembali pulang ke rumah juga tak luput dari perhatian Ares.
“Entah sudah berapa kali saya menutupi pelanggaran yang sudah anda lakukan, Dokter Zavier. Surat peringatan sepertinya juga sudah tidak lagi mempan untuk anda,” ungkap Ares masih memunggungi dokter berusia tiga puluhan tersebut.
“Anda masih tetap bisa bungkam, Ketua. Tak perlu melaporkan pada UN dan kita bisa bersama-sama membantu warga seperti yang memang seharusnya relawan lakukan, bukan?” tawar Zavier berusaha, meskipun ia sendiri juga akan tahu bagaimana hasilnya.
“Posisi saya tidak sekuat itu untuk bisa menutupi setiap pelanggaran anda, Dokter,” sahut Ares dengan senyum mirisnya. “Lagipula, saat anda mengunjungi keluarga buruh bernama Omari tadi malam, perwakilan UN sendiri yang memergoki anda. Jadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa, Dokter.”
Zavier menghela napasnya kasar. Ia yang sudah cukup akrab dengan Ares itu pun ikut beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ketua relawan tersebut.
“Apa itu artinya saya akan dipecat dan harus membayar denda?” tanya Zavier tenang.
Namun, jauh dalam lubuk hatinya ia juga was-was. Uang darimana lagi yang harus ia gunakan jika sampai terkena penalti? Sementara gajinya selama disini saja sudah habis digunakan untuk membantu para warga.
“Apa itu yang anda harapkan?” Ares balik bertanya.
“Tentu saja tidak,” sahut Zavier cepat. “Saya memang dokter, tetapi dokter gembel kalau kata Pak Robin. Mana bisa saya membayar penalti?”
Kedua pria yang usianya hanya terpaut dua tahun itu terkekeh bersamaan. Ares meskipun terkesan kaku, tetapi sebenarnya ia memang mengetahui setiap tindak-tanduk yang Zavier lakukan. Seperti yang dikatakannya juga tadi, bukan hanya satu dua kali Ares pura-pura tidak mengetahui aksi heroik yang Zavier dan beberapa rekannya lakukan. Termasuk Anna yang akhir-akhir ini mulai ikut mengekor pada setiap tindakan Zavier.
“Anda tahu ‘kan jika sangsi tetap harus diterapkan?” tanya Ares yang diangguki oleh dokter spesialis pengobatan darurat tersebut. “Ya meskipun saya tahu jika sangsi itu tidak akan membuat anda jera, bahkan semakin mempengaruhi relawan lainnya.”
Zavier tersenyum simpul hingga matanya tampak menyipit. Sebelah tangannya juga menepuk bahu Ares santai.
“Jadi, hukuman apa yang kali ini akan saya jumpai?” tanya Zavier tenang.
“Penahanan gaji. Bulan ini anda tidak akan mendapatkan bayaran apa pun, Dokter Zavier,” jelas Ares terdengar penuh sesal.
Rutukan tanpa suara tercipta dari bibir tebal Zavier. Bagaimana ia bisa melanjutkan aksi berdarmanya jika gaji saja tidak bisa dikantongi? Jangankan memberi uang secara cash setiap pagi seperti yang selalu dilakukannya, membeli obat-obatan untuk keadaan darurat diluar jam kerja saja mungkin Zavier tidak akan bisa. Haruskah Zavier mengambil dari apotek klinik? Namun, pemikiran itu hanya akan berada dalam imaginasinya saja. Zavier tidak akan melakukannya. Terlalu banyak pihak yang akan dirugikan.
Tak bisa melakukan protes, pada akhirnya Zavier hanya menghela napasnya panjang. Ia hanya perlu memutar otak untuk membuat kantong dan dompetnya tetap terisi lembaran yang bisa membuat mata berwarna hijau tersebut. Setelah urusannya dengan Ares selesai, dokter itupun pamit undur diri. Dibalik pintu itu sudah ada Anna yang menunggu giliran eksekusinya. Zavier hanya tersenyum datar seraya berlalu meninggalkan wanita itu lebih dulu naik ke lantai dimana kamarnya berada.
---o0o---
Ini adalah akhir pekan. Hari libur yang membuat setiap relawan bisa melakukan apa pun selama tidak melanggar kontrak. Beberapa diantara mereka memutuskan untuk berjalan-jalan, bersantai dibawah sejuknya pendingin udara, atau bahkan bersiap untuk pergi ke kota seperti yang akan Zavier lakukan.
Pria itu terlihat kasual dengan kaos pendek fit body berwarna coklat tua dilengkapi jaket bomber bercorak militer, serta celana denim panjang dan sepatu kets. Suhu udara memang sangat panas, tetapi memakai pakaian tertutup rasanya juga cukup wajib dilakukan agar kulit tidak secara langsung terpapar oleh sinar ultraviolet. Sebagai kelompok kulit putih, cuaca di Faradisa perlahan-lahan bisa membahayakan kulitnya.
“Nanti aku titip buah-buahan. Apa sajalah, tapi kalau ada aku mau semangka atau melon. Pokoknya yang banyak airnya. Ah, jangan lupa juga susuu segar, yoghurt, dan oatmeal,” ujar Robin terdengar memerintah disamping Zavier yang menyiapkan motornya. “Oh ya, aku juga ingin udang besar!”
“Itu berat, pergi saja sendiri! Aku malas membawanya,” tolak Zavier jujur.
“Jika saja kondisiku memungkinkan, aku juga akan pergi sendiri,” dengus Robin yang hari ini memang terlihat agak pucat. “Sepertinya obat yang kamu berikan tidak manjur untukku! Kamu membuat badanku semakin meriang, Sobat!”
Zavier memutar kedua bola matanya malas, “Titipanmu terlalu banyak! Mana uangnya! Aku tidak menerima bon, gajiku sudah habis sampai bulan depan.”
Robin berdecak seraya mengambil isi dompetnya. Padahal ia sudah berniat untuk berkata ‘pakai uangmu dulu’ seperti biasanya. Eh malah Zavier sudah lebih dulu memalaknya. Akhirnya Robin pun mengulurkan beberapa lembar uang puluhan dollar pada rekan cek-cok sekaligus sahabat terbaiknya tersebut.
“Apa kamu mau ke kota?” tanya seorang wanita yang juga sudah rapi dengan pakaiannya. Anna.
Robin tersenyum lebar. Siapa pun wanita yang ditemuinya memang selalu bisa membuat wajahnya berekspresi seperti itu. Apalagi hari ini Anna juga terlihat lebih cerah dan segar. Ah, setiap hari wanita itu juga cerah dan segar seperti ini. Robin saja yang selalu merasa kagum. Berbeda dengan rekannya, Zavier yang justru memandang Anna secara lekat dari atas ke bawah tanpa banyak berkomentar.
“Aku numpang, ya?” pinta Anna saat Zavier tak juga menanggapi pertanyaannya.
“Mau kemana memangnya, Bu Guru?” tanya Robin dengan suara seraknya.
“Aku bosan dengan makanan di mes, jadi ingin belanja juga. Tadinya aku mau minta diantarkan yang lainnya, berhubung kamu juga mau ke kota, tidak ada salahnya bareng ‘kan?” racau Anna.
“Kebetulan sekali, Bu Guru. Pak Dokter Zavier yang gembel ini juga mau ke supermarket. Tujuan kalian sama,” cetus Robin bersemangat. “Ah, kalau saja aku tidak sakit. Aku akan dengan senang hati mengantarmu, Bu Guru!”
Sekali lagi Zavier memutar kedua bola matanya malas, “Sudah sana masuk ke kamar! Jaga suhu udaranya jangan terlalu dingin dan istirahatlah!”
Robin mencibir, “Tidak bisa melihat orang usaha saja,” dengusnya. “Bu Guru, aku sedang sakit. Bisakah Bu Guru sedikit peduli padaku?”
Anna tersenyum kecil, tetapi tidak juga menanggapi kalimat rengekan pria dewasa yang bercosplay sebagai bayi tersebut.
“Jangan hiraukan dia, ayo pergi kalau mau menumpang!” seru Zavier cepat. “Bisa duduk dibelakang sendiri ‘kan?”
Anna mengangguk seraya melakukan instruksi Zavier. Ia duduk di jok belakang motor pria itu meskipun agak kesulitan.
“Tumben kamu tidak banyak mencibir dan langsung mengizinkanku ikut,” ujar Anna penasaran.
“Setidaknya kamu bisa bermanfaat nanti untuk membawakan pesanan penjahat berkedok pahlawan yang sedang sakit itu,” jelas Zavier sambil menunjuk Robin dengan dagunya.
Sosok yang ditunjuk itu hendak melayangkan rasa tidak terima, tetapi urung ia lakukan. Robin justru lari terbirit-b***t sambil menutup telinganya saat Zavier mulai menghidupkan motor tua super berisik itu.
Anna yang baru sekali ini dibonceng Zavier menggunakan motor tersebut pun cukup terkejut pada awalnya. Wanita itu bahkan sempat merutuk saking kagetnya. Sepertinya daftar belanjaan Anna akan bertambah. Ia akan membeli earplug untuk menyelamatkan gendang telinganya sepulang dari kota nanti.