Setibanya di pusat kota, Zavier tidak langsung membawa Anna ke supermarket untuk berbelanja. Ia memilih untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu karena akan memberatkan keduanya jika kemana-mana sambil membawa barang belanjaan. Tujuan pertama pria itu adalah bank. Mengingat selama sebulan kedepan ia tidak akan mendapatkan gajinya, Zavier terpaksa harus mengorek tabungannya yang dengan rendah hatinya ia sebut tidak seberapa itu. Padahal sesungguhnya ia tidaklah semiskin itu karena memiliki sumber penghasilan lain yang pasif.
“Kupikir dokter super hero ini benar-benar gembel,” seloroh Anna saat ia dan Zavier menunggu giliran.
“Sangsi apa yang kamu dapatkan untuk pertama kali? SP?” tanya Zavier mengabaikan komentar wanita yang lima tahun lebih muda darinya tersebut.
Anna mengangguk singkat, “Berapa kali pelanggaran sampai kita akan dipecat dan harus membayar penalti?”
“Tidak tahu,” jawab Zavier sambil mengangkat kedua bahunya singkat. “Dalam satu tahun ini aku sudah dipanggil hampir lima kali dan belum dipecat, tapi baru kali ini tidak mendapatkan gaji,” lanjutnya.
“Berarti aturannya tidak seketat yang kukira,” gumam Anna.
“Mau mencoba sampai sejauh mana mereka bertoleransi?” tanya Zavier terdengar menantang.
Anna menggeleng pelan, “Tidak, terima kasih. Masih banyak yang ingin kulihat disini dan tidak munafik jika aku juga masih membutuhkan pemasukan meski tidak seberapa.”
Zavier berdecih, “Sudah kuduga. Untung saja aku tidak berharap banyak kamu benar-benar akan membantuku.”
Tepat setelah itu nomor antrian Zavier dipanggil. Pria itu menjauh, meninggalkan Anna yang belum sempat melemparkan protes atas sikap Zavier yang lagi-lagi meremehkannya.
Meskipun kerap kali dicandai sebagai gembel oleh teman-teman terdekatnya, tetapi hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan Robin pun tahu pasti akan hal itu.
Selama menjalani pendidikannya dulu, Zavier merupakan mahasiswa yang aktif dalam menelurkan karya-karya ilmiah bersama rekan-rekan serta profesornya. Beberapa karya tersebut diunggah pada situs berbayar yang menggunakan sistem berlangganan. Memang hasilnya penjualannya tidaklah sangat besar, tetapi cukup untuk menambah pundi-pundi dollar dalam rekeningnya. Belum lagi Zavier juga pernah menerbitkan beberapa buku kesehatan yang hingga hari ini masih terus terjual laris diluar sana.
Bahkan selama satu tahun di Faradisa Zavier juga sambil mengumpulkan data-data untuk bukunya yang akan datang. Semoga saja caranya menyamarkan Faradisa dalam buku tersebut bisa membuatnya lolos dari aturan ketat yang mengikatnya selama berada di tempat ini.
Mumpung sedang di pusat kota yang jaringan internetnya cukup lancar, Zavier dan Anna juga menyempatkan diri untuk menghubungi dunia luar. Selain itu, Zavier juga menuju kantor pos untuk mengambil paket yang dikirimkan untuknya sebelum lanjut menuju supermarket yang ada di pusat perbelanjaan. Titipan Robin sudah melambai-lambai untuk segera dibawa pulang ke mes.
“Tadi kamu bilang ingin lama disini ‘kan?” tanya Zavier basa-basi sambil mendorong troli disamping Anna.
“Ya,” jawab wanita itu singkat.
“Boleh kutahu kenapa?” tanya Zavier melanjutkan. “Seperti yang kamu tahu, aku kerap kali meragukanmu dan itu bukan tanpa alasan. Banyak relawan yang menyerah bahkan sejak beberapa jam mereka menginjakkan kaki di kota ini. Tapi kamu malah ingin terus berada disini.”
“Desa-desa di pinggiran Faradisa sangat tertutup dari dunia luar, sulit dilacak,” jawab Anna seraya mengambil beberapa kotak susuu segar dan meletakkannya di troli.
Zavier mengernyit penasaran, “Apa kamu sedang kabur dari seseorang atau kelompok?”
Anna tersenyum simpul tanpa menatap Zavier ataupun menjawab pertanyaan itu. Langkah kakinya terus menyusuri rak-rak supermarket yang cukup tinggi di kanan-kirinya.
Merasa jika pertanyaan tersebut membuat Anna tidak nyaman, Zavier kembali menutup mulutnya. Kakinya hanya mengikuti langkah Anna dan otaknya mengeliminasi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya cukup penasaran tersebut.
“Yang bisa kukatakan hanya aku bukanlah penjahat yang harus bersembunyi dari pihak berwajib. Aku lari dari masalalu yang merantai kakiku,” ungkap Anna kemudian setelah keduanya cukup lama terdiam.
“Kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku kalau tidak nyaman,” balas Zavier terdengar sungkan.
“Kamu sendiri, kenapa memutuskan datang kesini?” Anna balik bertanya. “Jangan bilang kalau mau jadi super hero, ya! Aku tidak akan percaya.”
Zavier tertawa kecil, “Yah, padahal aku baru saja mau mengatakan seperti itu,” balasnya yang membuat Anna memutar kedua bola matanya malas. “Robin yang membawaku kemari.”
Untuk sesaat Anna tidak menimpali, ia ingin mendengar kalimat lanjutan Zavier, tetapi pria itu tidak kunjung menambahkan alasannya.
“Sesimple itu?” tanya Anna memastikan.
“Sesimple itu,” balas Zavier membeo seraya mengambil beberapa kantong beras berukuran kecil dan memasukkannya kedalam troli.
“Kenapa tidak memilih bekerja di rumah sakit besar dengan penghasilan tetap yang besar?”
Bibir Zavier mengerucut tampak berpikir sesaat, “Aku suka tantangan,” kilahnya. “Dan aku sama sekali tidak menyesal telah datang kesini. Tempat ini meskipun sistemnya sangat kacau, tetapi memberikanku banyak pelajaran hidup. Salah satunya adalah tentang bersyukur.”
Pengakuan itu selain sebuah kejujuran juga merupakan cara Zavier untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tidak ingin terlalu banyak membicarakan alasannya datang ke kota ini. Mungkin ia sama seperti Anna yang tidak nyaman jika harus membicarakannya. Lagipula, Zavier tidak ingin menambah julukannya sebagai pria lemah jika sampai ada yang tahu bahwa kedatangannya kesini adalah usahanya untuk sembuh dari patah hati. Cukup Robin saja, orang lain tidak perlu tahu.
---o0o---
Selesai dengan barang belanjaannya, Zavier dan Anna yang tak lagi memiliki tujuan pun beniat kembali ke mes. Berbeda dengan jalur yang dilewati saat berangkat tadi, kali ini Zavier memilih jalur yang agak memutar. Anna sama sekali tidak melayangkan protes. Bagaimana mau melayangkan protes jika suaranya saja kalah keras dari berisiknya suara mesin motor yang mereka tunggangi? Lagipula, Anna juga bisa sambil melihat-lihat kota dari sudut pandang yang belum ia lihat sebelumnya.
Tanpa terduga, Zavier ternyata memang memiliki tujuan lain saat melalui jalanan ini. Ia membawa Anna melewati area perkebunan kurma yang cukup rapat. Meskipun saat ini adalah akhir pekan, ternyata para buruh masih banyak yang bekerja dibawah terik matahari. Satu hal yang membuat Anna terkesiap, banyak anak muridnya di sekolah yang ia temukan ikut bekerja ditempat ini. Hatinya tersentuh. Anak-anak itu masih terlalu muda untuk melakukannya.
Saat wanita itu masih terpaku menatap anak-anak, motor yang dikemudikan oleh Zavier berhenti tak jauh dari para buruh yang masih bekerja. Mereka yang mengetahui jika sosok yang berkunjung itu adalah Zavier segera menyambutnya. Anna yang masih bungkam terus memperhatikan interaksi mereka dalam diam.
Zavier tanpa canggung menyapa para buruh tersebut. Ia bahkan memeluk anak-anak yang terlihat kumal. Senyum cerah mereka membuat siapa pun akan merasa simpati.
“Apa kabar kalian semua?” tanya Zavier ramah. Selalu ramah.
“Hari ini cukup baik, Dokter,” sahut salah satu buruh pria paruh baya.
“Syukurlah,” balas Zavier dengan senyum lebarnya. “Sudah waktunya istirahat ‘kan? Makanlah dulu ini meskipun tidak seberapa.”
Satu persatu dari para buruh dan anak-anak itu mengucapkan terima kasih dengan netra berbinar. Padahal yang Zavier lakukan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, tetapi mereka sudah bisa begitu heboh dan kegirangan, seperti mendapatkan sebuah harta karun yang sangat berharga.
Semua orang tampak menikmati makan siang yang Zavier bawakan. Tak hanya itu, Zavier juga membagikan beras serta beberapa bahan makanan lain untuk mereka. Sebagian besar barang belanjaan Zavier tadi segera berpindah tangan hingga membuat tangannya kini tampak hampa. Namun, senyum bahagia justru semakin lebar terpatri di wajahnya.
“Kalian semua ingat peraturan yang kita sepakati ‘kan?” tanya Zavier saat membagikan bahan makanannya.
“Ini rahasia diantara kita,” sahut para buruh dan anak-anak itu bersamaan.
Senyum Zavier serta tawa orang-orang itu mampu menghantarkan gelenyar hangat pada hati Anna. Ternyata bebagi memang semenyenangkan ini. Padahal Anna hanya melihat saja sejak tadi.
“Seharusnya kamu memberitahuku kalau ingin membagi makanan pada mereka, aku juga bisa membantu,” tegur Anna lirih yang hanya didengar oleh Zavier.
“Bukannya tadi kamu bilang tidak ingin mendapatkan teguran lagi?” Zavier memastikan dengan sebelah bibir yang tersungging.
Anna mendengus. Pria itu sekali lagi meremehkannya. Namun, Zavier memang benar. Anna sendiri yang mengatakan tidak ingin mendapat masalah lagi. Sungguh hati nurani dan logika Anna sedang berperang sekarang. Apalagi setelah melihat anak muridnya yang bekerja cukup keras membantu ekonomi keluarga mereka. Hati Anna seperti tersayat melihat pemandangan yang baru sekali ini dilihatnya. Anak-anak seharusnya masih menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan, tapi kenyataannya disini justru sebaliknya.