Matahari telah tergelincir ke arah barat saat Zavier dan Anna kembali ke mes. Tidak hanya sepanjang perjalanan, bahkan setelah sampai di area parkir pun Anna hanya mengucapkan terima kasih atas tumpangan yang Zavier berikan padanya, lalu beringsut memasuki bangunan mes.
Zavier yang tak ambil pusing akan hal itu pun hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh. Kedua tangannya sibuk mengangkat belanjaan pesanan Robin. Cukup kesulitan karena ia juga harus membawa bungkusan paket yang tadi diambilnya di kantor pos. Pada saat inilah Zavier menyuarakan gerutuannya berkat kebaikan hati semua orang yang tak mengulurkan tangan membantunya dan malah hanya tersenyum simpul seakan mencemooh kesusahaannya. Untung saja kamar Robin berada di lantai dasar, sehingga Zavier tak perlu repot-repot membawanya naik-turun tangga mes.
“Terima kasih, Sobat! Kamu benar-benar hartaku yang paling berharga,” ujar Robin dengan nada memuja, tetapi pandangannya sama sekali tidak melihat Zavier yang mendengus.
“Manis sekali lidahmu, pantas saja banyak wanita yang terkecoh,” cibir Zavier yang dibalas tawa kecil tanpa dosa Robin. “Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”
Robin menghela napasnya panjang, “Tempat ini biasanya sangat panas, tapi hari ini terasa begitu dingin.”
Zavier memutar kedua bola matanya malas. Tentu saja dingin untuk seseorang yang sedang terserang demam dan flu seperti Robin. Ada-ada saja rekan sekaligus sahabatnya tersebut.
“Itu apa?” tanya Robin begitu melihat bungkusan paket Zavier.
“Kiriman dari dunia luar, aku minta dibelikan alat-alat baru,” jelas Zavier enteng.
Setelah mengatakan hal itu, Zavier beranjak naik ke lantai dimana kamarnya berada. Tak lupa ia juga berpesan pada Robin untuk banyak beristirahat dan mengkonsumsi obatnya secara teratur. Zavier memang tipe yang cukup cerewet pada kesehatan orang-orang terdekatnya, termasuk pada pasiennya. Namun, justru hal itulah yang membuat Zavier begitu disukai oleh orang-orang selain kebiasaannya berderma.
Hal pertama yang Zavier lakukan setelah sampai di kamarnya adalah meraih remote pendingin udara dan menyalakan mesin yang mampu mengalirkan udara sejuk tersebut. Setidaknya mesin itu bisa menenangkan kulit Zavier setelah terpapar sinar matahari diluar sana.
Setelah melepas jaketnya, Zavier meraih cutter untuk membuka bungkusan paketnya. Seperti yang sudah pria itu katakan pada Robin, isinya adalah peralatan tempurnya yang baru. Ada stetoskop, tensimeter, pen light, bahkan sebuah buku kumpulan jurnal ilmiah yang juga sempat ia minta pada temannya di luar Faradisa.
Merasa alat-alat yang diterimanya sempurna tanpa ada kerusakan, Zavier pun segera menyimpannya dengan aman. Setelah itu ia mengambil buku kumpulan jurnalnya dan membawanya ke sudut baca yang nyaman. Baru saja Zavier membuka sampulnya, sebuah amplop terjatuh dari dalam buku tersebut. Dahinya mengernyit sambil meraih amplop tersebut. Ia juga mengurungkan niatnya membaca buku dan malah fokus memperhatikan amplop putih tanpa tulisan apapun diluarnya.
Tak ingin menebak-nebak isinya, Zavier membuka amplop tersebut. Didalamnya ternyata berisi beberapa lembar kertas foto lengkap dengan selembar surat.
“Berengsek,” umpatnya begitu melihat foto-foto yang diterimanya.
Zavier menghirup napasnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Dihempaskannya foto-foto itu keatas meja lalu ia meraup wajahnya. Bahkan setelah setahun berlalu tanpa mengetahui sedikit pun kabar dari masalalunya, hati Zavier masih bergedup kencang saat melihat wajah wanita itu. Amanda. Satu-satunya wanita yang pernah mematahkan dirinya.
“Apa hebatnya wanita yang sudah meninggalkanku itu sampai-sampai aku harus sekesal ini hanya dengan melihatnya?” batin Zavier menertawakan dirinya sendiri dengan miris.
Pria itu kemudian membuka surat yang menyertai foto-foto kiriman temannya tersebut. Tidak banyak yang bisa dibaca, tetapi sekali lagi berhasil membuat Zavier mengumpat kesal.
[Lihatlah, Amanda sama sekali tidak bahagia setelah kamu menghilang dari hidupnya, Vier. Aku juga yakin kamu pun masih memiliki rasa yang sama. Pulang dan rebutlah dia dari suaminya yang jahat itu!]
Zavier segera melipat surat tersebut dan memasukkannya kembali kedalam amplop, begitu juga dengan foto-foto Amanda. Tak perlu dua kali melihatnya. Tidak ada gunanya. Zavier adalah pria berprinsip sekaligus keras kepala.
“Buanglah penghianat pada tempatnya,” gumam Zavier seraya berjalan menuju tempat sampah yang ada dikamarnya.
Belum sempat Zavier menjatuhkan amplop tebal tersebut kedalam tempat sampah, pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia pun mengurungkan niatnya dan terlebih dahulu membuka pintu. Dahinya segera tertekuk hingga membantuk kerutan saat mendapati Anna berdiri dibaliknya dengan tatapan tajam.
“Ada apa?” tanya Zavier datar. Suasana hatinya masih buruk dan ia tidak ingin menutupinya.
“Apa kamu senggang?” Anna balik bertanya.
“Apa aku terlihat senggang?” pertanyaan yang dibalas dengan pertanyaan lain.
Anna berdecih, “Aku masuk,” ujarnya seraya melewati tubuh jangkung Zavier yang berada ditengah pintu.
“Aku tidak pernah mengizinkanmu masuk,” protes Zavier seraya menutup kembali pintu kamarnya dan menyusul Anna yang kini sudah nyaman duduk di sudut baca kamar Zavier.
“Aku tidak meminta izin darimu,” sahut Anna tak acuh.
“Ini namanya pelanggaran privacy, Nona Annalise Lousa Winch,” balas Zavier dengan nada tidak bersahabat.
Anna menaikkan sebelah alisnya. Sejak awal ia sudah mendengar nada sinis dalam setiap kalimat yang Zavier ucapkan, tetapi ia baru memastikannya saat melihat wajah kesal dokter muda itu. Meskipun selama ini Zavier sering meremehkannya, Anna tidak pernah melihat Zavier bersikap setidak ramah ini. Niat awalnya mengunjungi Zavier pun sepertinya harus ia tahan dulu. Tidak akan baik menyampaikannya saat keadaan Zavier sedang tidak baik seperti ini.
“Ada masalah?” tanya Anna sambil menatap intens Zavier.
“Kamu masuk ke kamarku tanpa izin adalah masalahku,” sindir Zavier.
Pria itu juga melempar amplop ditangannya keatas meja. Lemparannya yang cukup keras membuat penutup amplop terbuka dan isinya sedikit keluar. Tidak bermaksud lancang, tetapi Anna bisa langsung melihat isinya begitu saja.
Zavier tidak peduli dan justru membuka jendela kamar hingga udara kering gurun menampar wajahnya. Tak berhenti disana, ia yang suasana hatinya sedang buruk itu meraih bungkus rokok serta pemantik yang sejatinya sangat jarang ia sentuh tersebut. Hanya pada saat-saat sangat buruk saja ia menyentuhnya.
Belum sempat api dari pemantik membakar ujung rokok, batang nikotin itu diambil paksa dari bibirnya dan terbang jatuh keluar. Jendela yang awalnya terbuka lebar dihadapannya itu juga segera tertutup dengan cepat. Anna lah pelakunya dan kini kedua relawan berbeda jenis kelamin itu saling tatap dengan pandangan yang sama intensnya. Zavier tampak marah.
“Aa-aku alergi asap rokok,” ungkap Anna dengan terbata seraya menundukkan pandangannya. Ia juga beringsut menjauhi Zavier. Ditatap setajam itu dengan aura kemarahan yang memuncak membuat nyali Anna menciut. Selain itu, ingatan buruk di kepalanya juga kembali menyeruak.
Zavier yang menyadari respon takut Anna pun sebisa mungkin menenangkan dirinya. Ia sadar jika tidak seharusnya melampiaskan kekesalannya pada Anna yang tidak tahu apa-apa. Setelah beberapa menit keduanya saling diam dan Zavier berhasil mengendalikan dirinya, ia segera menghampiri Anna yang duduk dipojok baca dengan kepala menunduk.
“Maaf, aku tidak seharusnya bersikap seperti itu padamu,” ujar Zavier terdengar menyesal.
“Tidak, aa-aku yang salah sudah mengganggu privacymu,” balas Anna tanpa mengangkat wajahnya.
Sekali lagi Zavier mencoba mengatur emosinya. Tidak sulit karena ia memanglah sosok yang sangat jarang marah pada kesehariannya, kecuali jika dipancing seperti tadi.
“Ss-siapa wanita ini?” tanya Anna memberanikan diri sambil menunjuk foto Amanda diatas meja.
Zavier yang kembali diingatkan pun mendengus, “Bukan siapa-siapa.”
“Aa-apa hubungannya dengan pria ini?” Anna kembali bertanya dan mengabaikan jawaban Zavier sebelumnya sambil menunjuk sosok pria disamping Amanda.
“Kata orang suaminya, tapi aku juga tidak tahu,” jawab Zavier masih dengan nada kesal.
Tanpa disengaja, pria itu melihat Anna terhenyak. Dahinya kembali berkerut, tidak memahami reaksi wanita itu.
“Apa kamu mengenalnya?” tanya Zavier menyuarakan rasa penasarannya.
Anna mengangguk cepat, “Dd-dia, ww-wanita itu dalam bahaya.”
Kali ini Zavier mulai tertarik dengan kalimat Anna. Bukan karena mereka membahas tentang Amanda dengan suaminya yang sama sekali tidak Zavier pedulikan, tetapi kenyataan bahwa Anna mengenal suami Amanda. Zavier tahu jika ia dan Anna memang berasa dari kota yang sama sebelum datang ke Faradisa, sehingga tidak heran jika pada satu titik ada seseorang yang sama-sama mereka kenali.
“Kenapa kamu berkata begitu? Kenapa kamu juga terbata dan terlihat ketakutan?” tanya Zavier.
“Aa-aku, aku lari dari dia,” ungkap Anna yang masih belum jelas dan meninggalkan tanda tanya besar di benak Zavier. “Orang itu yang selalu membuatku ketakutan seperti ini.”