Memasuki ruangan dengan desain minimalis tersebut, Zavier tanpa meminta izin langsung duduk di kursi sofa tamu yang memang disediakan untuk tamu. Ajax tersenyum remeh lalu melepas jas abu-abu yang melekat di tubuh atletisnya. “Silakan duduk dimanapun kalian suka, anggap kantor sendiri,” ujar Ajax tanpa beban. Ares pun mengambil duduk disamping Zavier. Jika boleh jujur, suasana ini sangat membuatnya merasa sesak. Berada diantara dua bersaudara yang sedang berseteru, tetapi juga saling membutuhkan disaat yang bersamaan. Setidaknya untuk kali ini. Namun, demi tanggung jawabnya, ia harus berada disana apa pun kondisinya. Tak lama setelahnya, sekretaris Ajax datang membawakan tiga buah teh hangat untuk disajikan. Dibelakangnya muncul Kyran sambil membawa sebuah map yang langsung diletakkan

