Matahari sudah terbit sejak beberapa jam yang lalu, namun gadis cantik dengan tubuh seksinya masih saja enggan untuk keluar dari selimut hangat nya. Mata indahnya sudah sejak tadi terjaga, manatap kosong ke langit kamarnya sambil mengingat kembali setiap kata yang kemarin dengan lantang di ucapkan dady nya di hadapan ratusan tamu undangan. Otak nya berpikir keras mencoba mencari sisi positif dari keputusan yang sengaja di ambil oleh dady nya tanpa bertanya dan memikirkan tentang perasaannya.
"Tidak... tidak ada hal positif yang bisa di ambil dari keputusan aneh itu. Ini masa depanku, kehidupan yang harus aku jalani nanti. Aku tidak mungkin menikah dengan abang, orang yang sudah aku anggap sebagai kakak ku sendiri. Tidak... aku tidak bisa." gumam Mika.
Beberapa menit kemudian pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok Natasya yang berjalan masuk menghampirinya.
"Mika minta maaf mom. Mika tidak mungkin menikah dengan abang. Mika menyayangi abang hanya sebagai kakak saja, tidak lebih." jelas Mika dengan wajah permohonannya.
"Mommy mengerti perasaan kamu sayang karena dulu mommy juga dijodohkan dengan daddy kamu. Awalnya mommy menolak perjodohan itu, karena saat itu mommy sama sekali tidak mencintai daddy, melainkan mencintai pria lain. Tapi, apa kamu pernah mendengar kalau setiap orang tua memiliki feeling yang kuat dalam melihat menantu yang cocok untuk menjadi pelindung putri nya ?"
"Mungkin saat ini, itu yang daddy kamu rasakan. Daddy mungkin merasa tenang kalau nanti meninggalkan kamu pada pria yang tepat menurut pandangan nya. Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk putri mereka. Sejujurnya, mommy juga setuju dengan keputusan daddy, karena menurut mommy hanya Rendy yang bisa menjagamu dengan baik. Coba pikirkan kembali, sayang." jelas Natasya panjang lebar berharap Mika bisa membuka hatinya untuk Rendy dan menerima perjodohan ini.
Namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Mika, dia hanya diam mendengar penjelasan mommy nya itu.
"Ya sudah, kamu siap - siap ya sayang, kita sarapan bersama. Daddy sudah menunggu di meja makan. O iya, hari ini mommy akan ikut bersama daddy ke Korea." ujar Natasya berharap Mika akan membuka suara. Namun lagi - lagi Mika hanya diam lalu menganggukan kepalanya.
Biasanya Mika akan merengek ikut saat mendengar nama negeri ginseng itu, mengingat dia sangat menyukai fashion dan terutama drama korea selatan. Merasa tidak berhasil membujuk putri kesayangannya itu, Natasya pun beranjak keluar dari kamar Mika.
"Apa dia sudah bangun ? Bagaimana keadaannya ?" tanya Alex saat Natasya bergabung bersamanya di meja makan.
"Dia baru saja bangun, sebentar lagi pasti turun. Sayang, apa mungkin kita terlalu memaksakan keinginan kita pada nya ? Dia terlihat sangat tertekan." ujar Natasya yang merasa bersalah.
"Aku rasa dia hanya butuh waktu untuk berpikir. Entah mengapa, aku merasa kalau ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi pada keluarga kita. Itu sebabnya, aku ingin segera menikahkan Mika dengan Rendy agar kalau kita pergi nanti, aku sudah tenang meninggalkannya."
"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, keluarga kita akan baik - baik saja." balas Natasya sambil menggenggam erat kedua tangan suaminya itu.
Obrolan mereka kemudian teralihkan saat melihat Mika yang berjalan menghampiri mereka. Mika kemudian mengambil tempat di samping mommy nya.
"Kamu masih marah sama daddy ?" tanya Alex karena biasanya Mika selalu duduk di samping nya. Bahkan hari ini, tidak ada ucapan selamat pagi dari putri kesayangan nya itu.
"Mika hanya ingin daddy mengerti kalau Mika tidak bisa menikah dengan abang. Mika menyayangi abang hanya sebagai kakak, tidak lebih. Mika tidak mencintai nya, dad."
Perdebatan antara anak dan ayah itu pun dimulai.
"Banyaknya waktu yang kalian habiskan bersama nanti, akan membuat cinta itu tumbuh dengan sendiri nya."
"Mika lebih memilih mengorbankan mimpi Mika untuk jadi angel nya victoria secret dan mengikuti keinginan mommy dan daddy untuk mengelola Perusahaan, daripada harus menikah dengan abang. Tolong dad, mengertilah dengan perasaan Mika."
"Kamu hanya butuh waktu untuk berpikir, sayang. Suatu saat nanti kamu pasti akan berterima kasih dengan keputusan daddy ini."
"Sebaiknya masalah ini kita tunda dulu, kita bicarakan nanti saat kembali dari korea. Tidak baik berdebat di depan meja makan." ujar Natasya mencoba menengahi perdebatan ayah dan anak itu. Karena sampai kapan pun, tidak ada di antara mereka yang akan mengalah. Mereka kemudian melanjutkan sarapan pagi dalam keadaan hening karena masing - masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Saat menjelang siang, Rendy sudah siap di depan mobil menunggu Alex dan Natasya yang akan segera berangkat ke Korea. Dia sengaja menunggu di luar rumah karena tidak ingin memperkeruh suasana di dalam sana. Tidak lama kemudian Alex, Natasya dan Mika keluar dari dalam rumah.
"Selamat siang, biar saya bawa kopernya pak" ucap Rendy lalu mengambil satu koper besar yang Alex bawa kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Rendy kemudian membukakan pintu mobil untuk Alex dan Natasya. Tadinya dia mengira kalau Mika juga akan ikut bersama mereka karena dia sangat tahu betul kalau Mika sangat menyukai negeri ginseng itu.
"Biar saya saja yang menyetir, Ren. Mika tidak ikut, jadi tolong kamu temani dia di rumah." ucap Alex yang membuat Rendy sedikit heran karena selama ini dia belum pernah melihat Alex membawa mobil sendiri. Biasanya kalau bukan dirinya, pasti ada sopir yang akan mengantar Alex kemana saja.
"Baik pak." jawab Rendy sambil menundukan kepala.
"Sayang, mommy pergi ya. Jaga dirimu baik - baik . I love you." ucap Natasya sambil memeluk dan mencium seluruh wajah anak kesayangan nya itu.
"Kemarilah sayang, daddy sangat menyayangi kamu." kini giliran Alex yang memeluk dan mencium lama kening putrinya itu.
"Mika juga sangat menyayangi daddy." balas Mika sambil mengeratkan pelukannya. Natasya tersenyum bahagia melihat anak dan suaminya itu.
"Ren, titip Mika ya. Tolong jaga dia dengan baik." ucap Alex kemudian memeluk Rendy.
"Pasti pak, saya pasti akan menjaga nona Mika dengan baik. Bapak dan ibu tidak perlu khawatir." balas Rendy.
Setelah selesai berpamitan, Alex dan Natasya segera pergi dari sana meninggalkan Mika dan Rendy yang terlihat kaku satu sama lain.
"Abang... kenapa Mika merasa kalau tadi itu seperti perpisahan untuk selamanya. Apa kali ini daddy dan modmy akan pergi dalam waktu yang lama ?" akhirnya Mika memulai percakapan dengan Rendy.
"Mungkin hanya perasaan nona saja, sesuai jadwal harusnya bapak dan ibu hanya satu minggu berada disana." jawab Rendy mencoba menenangkan kekawatiran Mika, padahal sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Itu karena selama dia bekerja pada Alex baru kali ini Alex memeluknya erat saat ingin melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Ayo masuk non, ada yang ingin abang bicarakan."
"Mika juga ingin bicara dengan abang soal keputusan daddy kemarin."
Mika dan Rendy memilih duduk di gazebo yang ada di dekat kolam di dalam rumah itu. Saling berhadapan, akhirnya Mika memutuskan untuk berbicara lebih dulu.
"Apa sebelumnya abang sudah tahu tentang keputusan daddy ?"
"Beberapa hari yang lalu sebelum nona pulang dari London, ibu dan bapak mengajak abang untuk makan malam bersama. Disana bapak meminta abang untuk menikahi nona dalam waktu dekat ini. Alasannya, karena bapak merasa hanya abang yang bisa menjaga dan membahagiakan nona." jelas Rendy.
"Lalu abang setuju ?"
"Abang tidak bisa menolak apapun permintaan bapak, non. Nona pasti tahu alasannya."
"Tapi abang juga tahu kan, kalau Mika tidak mencintai abang. Mika menyayangi abang hanya sebagai kakak, tidak lebih. Apa selama ini tidak ada wanita yang abang cintai ?"
"Kalau pun ada, abang pasti akan mengorbankannya. Bagi abang, permintaan bapak adalah perintah yang harus abang jalankan. Apa pun itu."
"Mika mencintai orang lain, bang." jawab Mika jujur.
Tanpa Mika sadar, ucapannya itu membuat hati Rendy merasakan sakit yang teramat sangat. Seakan ada sebuah batu besar yang berada didalam sana. Dadanya terasa sesak namun sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan itu.
"Abang tahu ini tidak adil untuk nona, abang juga tidak ingin menyiksa nona dengan pernikahan ini. Tanpa pernikahan pun, abang akan berusaha untuk selalu menjaga dan membahagiakan nona. Mungkin seiringnya waktu, bapak bisa mengerti dan mengalah."
"Terima kasih karena sudah mau mengerti dengan perasaan Mika. Abang memang yang terbaik, Mika sayang abang." ucap Mika kemudian memeluk Rendy.
"Seandainya aku memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan cinta ini, tapi aku terlalu takut kehilangan kamu. Lebih baik mencintaimu dalam diam daripada melihatmu menjauh dari ku." batin Rendy lirih.
Rendy kemudian melepas pelukan itu ketika ponsel di saku celananya berdering. Dia melihat aneh ke layar ponselnya saat mendapati nama 'Bapak' disana.
"Harusnya sudah berangkat." gumam Rendy saat melihat jam di tangannya. Dia kemudian segera menjawab panggilan telepon itu.
"Halo pak, ada yang bisa Rendy bantu ?"
Sayangnya, bukan suara Alex yang menjawab pertanyaan Rendy.
"Selamat malam, apa benar ini dengan keluarganya bapak Alex Hartawan ?"
"Iya benar. Saya Rendy, orang kepercayaan Pak Alex."
"Selamat malam Pak Rendy, kami dari kepolisian ingin menginformasikan kalau Pak Alex mengalami kecelakaan lalu lintas. Kami menemukan mobil beliau berada di dasar jurang."
Untuk beberapa detik Rendy diam. Dia kemudian menoleh pada Mika.
"Dimana kejadiannya pak ?"
"Baik... saya segera kesana sekarang." jawab Rendy saat polisi itu menyebut lokasi kejadian kecelakaan tersebut.
"Siapa bang ? Ada apa dengan daddy ?" tanya Mika penasaran, sejak tadi dia merasa ada yang aneh dengan percakapan Rendy di telepon itu.
"Bapak dan ibu mengalami kecelakaan. Tadi itu pihak kepolisian yang menelepon abang." jawab Rendy jujur. Mika yang terkejut mendengar hal itu, tidak sanggup menahan tangisnya.
"Tenanglah, mereka pasti baik - baik saja." ucap Rendy sambil memeluk Mika, mencoba menenangkannya.
"Abang harus segera kesana, sebaiknya nona tunggu di rumah saja."
"Tidak... tidak mau, Mika mau ikut dengan abang."
"Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang."
Rendy dan Mika pun segera pergi dari sana menuju ke lokasi kejadian dengan menggunakan salah satu mobil sport yang terparkir di garasi rumah.