Di salah satu club malam terbesar di Jakarta, dua orang pria tampan baru saja melangkah masuk ke ruangan VIP. Kali ini mereka datang khusus untuk merayakan keberhasilan mereka atas misi balas dendam yang sukses mereka kerjakan. Ya, mereka adalah Dafa dan Doni. Setelah memastikan kematian Alex dan Natasya, mereka langsung merayakannya dengan mendatangi club malam ini. Dan seperti biasa, pria gemulai yang sering di panggil 'mami' itu dengan cepat menghampiri mereka saat mengetahui keberadaan Dafa di salah satu ruangan VIP.
"Selamat malam tuan Dafa, apa malam ini kau ingin bermain ? kebetulan aku punya yang baru yang belum pernah kau sentuh." pria gemulai itu memberi tahu Dafa dengan suara manjanya. Sengaja merayu Dafa karena kalau berhasil, sudah pasti dia juga akan mendapatkan bayaran yang besar dari Dafa.
"Bawa dia kesini." jawab Dafa dingin.
Pria gemulai itu sudah sangat mengenal Dafa yang tidak ingin memakai wanita jalang yang sama setiap kali datang ke club.
"Siap tuan. Semoga tuan Dafa puas dengan pelayanannya."
pria gemulai itu pun segera keluar dari ruangan itu dan memanggil salah satu jalang yang dia janjikan pada Dafa. Saat wanita jalang yang dimaksud masuk ke ruangan itu, Doni yang sangat mengerti apa yang akan dilakukan bosnya itu pun segera pamit keluar dari sana. Dia lebih memilih memesan minuman dan menikmati alunan musik yang di mainkan oleh disc jockey ternama di luar ruangan itu, daripada harus menyaksikan adegan seks yang dilakukan bosnya secara live.
"Lakukan sekarang." perintah Dafa pada wanita jalang yang bersamanya saat ini.
Mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dafa, jalang itu segera membuka seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya kemudian mendekati Dafa yang sedang duduk santai di sofa. Dafa melipat kedua tangannya dan menaruhnya di belakang kepalanya. Kakinya sengaja dibuka lebar dan dengan gerakan matanya, dia menyuruh jalang itu berjongkok di antara kedua kakinya.
Jalang itu pun segera melakukan pekerjaan nya. Dengan gerakan sensual, perlahan dia membuka celana jins yang di gunakan Dafa. Saat berhasil mengeluarkan 'milik' Dafa, jalang itu segera mengoralnya. Mulai dari menjilat, mencium pucuk nya kemudian mengulumnya mulai dari tempo pelan sampai cepat hingga akhirnya Dafa memegang dan menekan kepala jalang itu, tanda dia mencapai klimaknya.
Anehnya, saat mencapai klimaks, dia malah membayangkan wajah Mika yang sedang berada di bawanya saat ini. Membayangkan wajah cantik dan tubuh seksi Mika, membuat 'milik' Dafa semakin mengeras. Dafa kemudian berdiri dari sofanya dan mengangkat tubuh jalang itu kemudian menyandarkannya di dinding. Masih dengan 'milik' nya yang berdiri tegak, Dafa kemudian mengangkat satu kaki jalang itu dan memasukan 'milik' nya ke dalam 'milik' jalang itu. Memompanya dengan kasar dan semakin cepat hingga akhirnya dia mengeluarkan 'milik' nya dari dalam sana dan memuntahkan cairan bening dan kental di tubuh jalang itu.
Setelah merasa puas, Dafa kemudian memakai celananya lagi lalu kembali duduk di sofa.
"Jangan pernah kembali di hadapan aku lagi, apalagi bersandiwara meminta tanggung jawab dari aku. Kecuali...kalau kamu ingin aku melenyapkan dirimu saat itu juga." ujar Dafa dengan tatapan tajamnya.
Dafa kemudian mengeluarkan segepok uang berjumlah seratus juta rupiah untuk jalang itu.
"Terimakasih, dan jangan khawatir, aku pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi. o iya, sepertinya wanita yang bernama Mika sangat berarti di hidup anda, tuan. Tadi anda menyebut namanya berulang kali bahkan saat anda mencapai klimaks." balas wanita jalang itu seraya mengambil uang bayarannya kemudian beranjak keluar dari ruangan itu.
Dafa tidak mempedulikan perkataan jalang itu. Baginya, dia hanya penasaran saja bagaimana rasanya mencicipi tubuh seksi Mika. Dia kemudian segera keluar dari sana dan bergabung dengan Doni yang sedang asik duduk sendirian di meja bar sambil menikmati minuman yang di racik oleh salah satu bartender disana.
"Kau ingin bermain dengan salah satu diantara mereka ?" tawar Dafa saat melihat Doni yang sedang asik menyaksikan beberapa wanita yang berada di atas lantai dansa, sedang meliuk - liukan tubuh seksi mereka dengan hanya menggunakan panties berenda menutupi 'milik' mereka. Ya, mereka adalah penari striptis di club itu yang dengan senang hati akan melayani setiap pelanggan yang berani membayar mahal.
"Tidak bos, terima kasih. Aku hanya ingin menikmati dance mereka saja." tolak Doni jujur.
"Sepertinya kau benar - benar mencintai Karin." tebak Dafa sambil meminta segelas chivas pada bartender disana.
"Aku berniat menjadikannya istri, bos."
"Kalau begitu kau harus berusaha keras meyakinkan Lifia terlebih dulu karena dia tidak akan dengan mudah memberikan sahabat baiknya pada pria manapun." ujar Dafa lalu menegak habis minumannya.
Tak berapa lama, datang seorang wanita dengan pakaian seksinya mendekati Dafa dan Doni. Menggunakan mini dress ketat yang memperlihatkan setengah payudaranya yang besar, wanita itu dengan berani mengecup bibir seksi Dafa.
Dia adalah Sintia Gunawan, anak dari pria paruh baya yang berjasa atas kesuksesan Dafa saat ini. Sintia sangat tergila - gila pada Dafa bahkan terobsesi untuk menjadi satu - satunya wanita yang Dafa cintai.
"Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padaku malam ini. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, sayang." ujar Sintia yang saat ini dengan gaya sensualnya sedang memainkan jari telunjuknya di d**a Dafa.
"Singkirkan tangan kotormu itu, bitch." geram Dafa dengan tatapan membunuhnya.
Sialnya, Sintia tidak pernah merasa takut dengan Dafa. Malah Sintia semakin menggoda Dafa dengan menurunkan tangannya menuju 'milik' Dafa.
"Dia bangun, sayang." balas Sintia sambil membalas tatapan tajam Dafa dengan tatapan sayunya. Bahkan wanita itu sengaja memajukan wajahnya dan mendesah tepat di telinga Dafa.
"Bukankah pernah aku katakan kalau aku tidak pernah sudi menyentuh jalang yang sama untuk kedua kalinya ? Menyingkirlah... kau merusak mood ku malam ini." ujar Dafa sambil mencengkeram kuat tangan Sintia.
Dengan kasar, Dafa menghempas tangan Sintia lalu melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu, diikuti Doni di belakangnya.
"Aawwhhh." ringis Sintia saat tubuhnya hampir saja tersungkur di lantai.
"Aku tidak akan pernah berhenti mengganggumu Dafa Dominic Johanson... kau milikku... selamanya hanya milikku." teriak Sintia kesal.
Sintia bahkan tidak peduli dengan tatapan menghina dari orang -orang yang mendengar teriakannya.
Sebelum melaju pulang dengan mobil sport mereka masing - masing, Doni menghampiri Dafa sambil menunjukan berita yang ada di layar ponselnya.
"Beritanya sudah naik bos, sebentar lagi pasti viral." ujar Doni.
"Mengalami kecelakaan tunggal, Alex Hartawan dan Istrinya meninggal di tempat." Dafa membaca judul berita yang ada di ponsel Doni sambil mengeluarkan senyum smirk nya yang terlihat sangat mengerikan.