* Flashback On *
[Tuan Alex dan istrinya baru saja jalan, bos.]
Begitulah isi pesan singkat yang baru saja di terima oleh Doni dari anak buahnya yang saat ini menjadi mata - mata sebagai petugas keamanan di rumah Alex.
[Tuan Alex menyetir sendiri mobilnya, bos.]
Doni kembali membuka pesan singkat dari anak buahnya itu, kemudian melaporkan isi pesan itu pada Dafa yang saat ini sedang bersamanya di sebuah gubuk tua yang tak berpenghuni di dekat dasar jurang.
Sebelumnya, mereka telah merencanakan kecelakaan Alex dan istrinya agar nantinya jatuh ke dasar jurang itu karena Dafa ingin menyaksikan sendiri detik - detik kematian mereka nanti.
Saat ini Alex sedang melaju cepat dengan mobilnya membuat Natasya yang duduk di sampingnya memegang kuat pegangan tangan yang ada di atas kepalanya.
"Sayang pelan - pelan saja, aku takut." ujar Natasya.
"Kita tidak punya banyak waktu sayang, sebentar lagi pesawat kita take off. Kalau saja tadi kita tidak terkena macet, pasti sejak tadi kita sudah sampai di bandara." balas Alex.
"Kalau begitu tunda saja penerbangan kita kali ini. Lagipula aku tidak ingin meninggalkan Mika sendirian di rumah."
Mendengar perkataan Natasya, Alex yang sedang fokus menyetir, mengalihkan pandangannya ke wajah istrinya itu. Hanya beberapa detik, namun sialnya tiba - tiba saja sebuah truk dengan kecepatan tinggi datang dari arah berlawanan seakan ingin menabrak mobil mereka.
"Sayang awaaaaaaasss... " teriak Natasya ketakutan.
Alex yang panik melihat truk itu, langsung membanting stir nya ke kanan, mencoba menghindari tabrakan namun karena tidak mampu mengendalikan mobil itu, mobil mereka malah melaju terus hingga menabrak pembatas jalan dan kemudian jatuh ke jurang.
Sopir truk tadi kemudian menepih di jalan lalu mencoba menghubungi bosnya. Ya, siapa lagi bosnya kalau bukan Doni orang kepercayaan Dafa.
"Beres bos." lapor sopir truk itu saat Doni menjawab teleponnya.
"Ambil uang kalian di tempat biasa dan menghilanglah untuk beberapa bulan ke depan. Ingat, jangan pernah sekali pun menyebut namaku jika kalian tertangkap. Kecuali kalian ingin melihat seluruh anggota keluarga kalian lenyap." balas Doni kemudian menutup sambungan telepon itu.
Dafa yang mendengar suara mobil yang baru saja jatuh dari atas jalan sana, segera keluar dari gubuk dan berjalan mendekati mobil itu. Dengan jelas dia bisa melihat banyaknya darah yang masih mengalir di wajah Alex dan Natasya. Melihat keadaan Natasya saat itu, bisa Dafa pastikan kalau wanita itu sudah meninggal. Sedangkan Alex, masih bisa mengeluarkan suara minta tolong sambil perlahan membuka matanya.
"Toloong...siapa pun tolong kami." ucap Alex susah payah.
Saat Alex berhasil membuka matanya, walau sedikit buram tapi dia masih bisa mengenali wajah Dafa. Alex mengira Dafa akan menolongnya, tetapi dia malah terkejut saat mendengar suara tawa Dafa.
"Ternyata kau bisa minta tolong juga. Sayangnya, aku lebih senang melihatmu seperti ini, tuan Alex Hartawan. Apa kau tahu, sudah sejak lama aku menantikan moment indah ini. Sama seperti yang kau lakukan pada orangtuaku dua puluh tahun yang lalu. Apa kau masih ingat dengan perbuatan kejimu waktu itu ?"
"Apa maksudmu ? Siapa kau sebenarnya ?" walau tertatih, Alex mencoba kuat untuk berbicara dengan Dafa.
"Baiklah... akan aku ceritakan kembali apa yang sudah kau lakukan pada waktu itu. Anggap saja sebagai pengantar tidurmu untuk selamanya. Kau pasti ingat dengan sekretaris cantikmu dulu yang kau perkosa hingga hamil sampai akhirnya melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Namun sayangnya tidak kau anggap. Bahkan saat itu kau berniat untuk membunuh bayi yang tidak berdosa itu. Hingga keesokan harinya wanita yang sudah susah payah melahirkan itu, ditemukan bunuh diri di kamarnya. Akhirnya, bayi perempuannya di asuh oleh kakak perempuan wanita yang kau perkosa itu bersama suaminya yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai sopir di perusahaanmu,"
"Apa kau sudah bisa mengingat semuanya ?"
"Jery... " jawab Alex yang mulai susah payah untuk bernafas.
Darah yang terus mengalir di kepalanya membuat tubuhnya mulai merasa lemah. Tangan dan wajahnya perlahan manjadi pucat, bahkan matanya mulai sayu.
"Ya, jawabanmu sangat tepat. Jery dan Lusi adalah orangtuaku yang kau bunuh karena takut mereka akan membocorkan rahasiamu pada istri tercintamu itu. Sayangnya, saat itu kau tidak menyadari ada seorang anak kecil berumur sepuluh tahun yang sedang bersembunyi di dalam lemari, menyaksikan setiap siksaan yang kau lakukan pada mereka. Dan saat ini... anak kecil itu ingin membalaskan dendam kedua orangtuanya. Oh ya satu lagi, sebelum kau benar - benar pergi, aku ingin mengatakan kalau setelah ini aku akan menjadikan putri kesayanganmu itu jalangku, seperti yang kau lakukan pada tanteku waktu itu."
Setelah mendengar perkataan terakhir Dafa, Alex yang sudah tidak sanggup lagi bertahan hidup akhirnya pergi menyusul istrinya. Dafa kemudian segera meninggalkan tempat itu lalu meminta Doni menyuruh anak buahnya untuk melaporkan kecelakaan itu sebagai kecelakaan lalu lintas tunggal.
* Flashback Off *
Rendy dan Mika baru saja tiba di rumah sakit, setelah tadi pergi melihat lokasi kejadian kecelakaan dan mendapatkan informasi dari pihak kepolisian yang berada disana bahwa korban telah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Rendy dengan setia memegang erat tangan Mika yang sejak tadi terus menangis, bahkan saat ini matanya sudah membengkak. Sambil berlari kecil, mereka akhirnya tiba di depan meja resepsionis.
"Alex Hartawan dan istrinya. Korban kecelakaan lalu lintas yang baru saja dibawah ?" tanya Rendy.
"Silakan cek di ruang gawat darurat, Pak." jawab resepsionis dengan sopan sambil mengarahkan tangannya ke arah ruangan yang dimaksud.
"Terimakasih." balas Rendy.
Mereka kemudian berjalan cepat menuju ruangan itu. Namun saat sudah hampir sampai di ruangan itu, tiba - tiba dua orang petugas rumah sakit keluar dengan mendorong masing - masing brankar. Tubuh Mika mematung saat melihat dua jenazah yang ditutupi kain putih berada di atas brankar itu.
"Maaf pak, bisa saya lihat jenazah ini ?" pinta Rendy pada petugas rumah sakit itu.
Setelah diperbolehkan, dengan tangan bergetar Rendy membuka kain yang menutupi wajah kedua jenazah itu. Betapa kagetnya Rendy saat melihat dua orang yang selama ini sangat dia hormati, kini terbujur kaku di atas sana. Sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya, Rendy melangkah mundur dan mempersilakan mereka membawa jenazah Alex dan Natasya ke ruang jenazah.
Sedangkan Mika, tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai karena tidak sanggup melihat dua orang yang sangat berarti di hidupnya harus pergi untuk selama - lamanya.
"Tidaaaaaaaakkk..." jerit Mika sambil terus menangis.
"Mommyyyyyy.... Daddyyyyyy...tidaaaaakkk... Mika mohon jangan tinggalkan Mika sendiri."
Mika terus berteriak dan menangis sambil memukul - mukul dadanya yang terasa sesak, hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri. Melihat Mika pingsan, Rendy dengan cepat mengangkat tubuh Mika dan membawahnya ke salah satu kamar pasien yang ada disana.
" Abang janji, tidak akan pernah meninggalkan nona sendiri. Abang akan menjaga dan membahagiakan nona seperti janji abang pada bapak dan ibu." ujar Rendy sambil memegang erat tangan Mika yang masih belum sadarkan diri.