Resmi Pacaran

2098 Kata
Di depan makam kedua orang tuanya, Mika masih setia berdiri disana dengan tatapan kosong. Mata indahnya yang selalu memancar sinar bahagia kini redup. Kejadian yang sangat mendadak itu membuatnya berharap kalau semua yang dia alami saat ini hanyalah mimpi buruk. Ingin rasanya dia terbangun dari mimpi buruk itu dan berharap masih bisa melihat bahkan memeluk erat mommy dan daddy nya. Tanpa sadar air mata Mika kembali jatuh, saat mengingat moment dimana dia menolak permintaan daddy nya. Kata - kata terakhir daddy nya pun masih terngiang - ngiang di pikirannya. Penyesalan memang selalu datang di akhir cerita, mungkin itulah kata - kata yang tepat menggambarkan perasaan Mika saat ini. "Mau pulang sekarang non ?" tanya Rendy dengan suara lembut, yang sejak tadi setia menemani Mika disana. "Abaaang... Mika menyesal sudah menolak permintaan terakhir daddy. Harusnya Mika mengabulkan permintaannya. Mika jahat. hiks...hiks...hiks... "Sssttt... jangan menyalahkan diri sendiri non. Ikhlas... bapak dan ibu hanya ingin melihat nona hidup bahagia." sambil memeluk Mika, Rendy mencoba menenangkannya. "Apa abang masih mau mengabulkan permintaan daddy ?" tanya Mika setelah melepas pelukan Rendy dan menatapnya dalam. "Abang akan selalu menjaga dan membahagiakan nona, itu janji abang pada bapak dan ibu, dan akan tetap abang lakukan sampai akhir hidup abang walau nantinya nona menikah dengan pria yang nona cintai." "Mika mau menikah dengan abang." jujur Mika. Seketika mata Rendy membulat mendengar pernyataan Mika. Jujur saja, memang hatinya sangat bahagia namun dia tidak ingin membuat Mika terpaksa melakukannya hanya karena rasa bersalah pada daddy nya. "Jangan pernah mengambil keputusan di saat nona lagi sedih atau marah, biarkan hati dan pikiran nona tenang dulu." "Tapi bang... "Sebaiknya kita pulang sekarang non." ucap Rendy sambil merangkul pundak Mika dan membawanya menuju mobil. * * * Saat ini Dafa dan Lifia juga Doni dan Karin sedang makan malam bersama di salah satu restoran ternama di daerah Badung, Bali. Ya, beberapa jam yang lalu mereka baru saja mendarat dengan private jet milik Dafa. Semua itu karena permintaan Lifia yang ingin berlibur disana sebelum dia dan Karin kembali ke London. "Kaaak, temani Lifi ke club ya malam ini." Lifia mengeluarkan jurus merayu dengan suara manjanya lengkap dengan wajah permohonannya. "Tidak Lifi... apa kamu lupa besok pagi kalian akan kembali ke London ?" tolak Dafa dengan tegas. "Apa kakak juga lupa kalau perjalanan dari Bali ke London memakan waktu kurang lebih dua puluh jam ? Lifi kan bisa tidur di dalam jet kak. Pliiiiiisss... yaaaa... ayolah kak" Kali ini bukan hanya suara manja dan wajah permohonan, tetapi Lifia merengek sambil memeluk Dafa seperti seorang anak kecil yang sedang meminta permen pada ibunya. "Hhuuufftt... baiklah kali ini kau menang." dengan membuang nafas kasar akhirnya Dafa mengalah dan mengikuti keinginan adik kesayangannya itu. "Yeeyy... I love you kakakku yang paling ganteng." sorak Lifia lalu mencium pipi Dafa. "Yuk balik sekarang aja kak, Lifi mau ganti baju dulu sebelum pergi ke club." tambah Lifi yang sudah berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi dari sana. "Karin ikut ?" tanya Dafa saat melihat Karin yang juga ikut berdiri mengikuti Lifia. "Tidak kak, Karin hanya ingin membantu menyiapkan pakaian Lifi di hotel." jawab Karin sopan dengan suara lembutnya membuat Doni yang sejak tadi memperhatikannya tersenyum. "Tidak perlu, Lifi pasti bisa sendiri. Kamu disini saja dulu, nikmatin liburan kamu. Doni juga akan tetap disini, jadi nanti kalau kamu ingin kembali ke hotel, ada Doni yang bisa mengantarmu." Dafa sengaja menyuruh Karin tinggal agar Doni memiliki waktu yang banyak untuk mengungkapkan isi hatinya. "Is it okay, Lif ?" Karin meminta persetujuan Lifi dengan wajah bersalahnya. "Yeah it's okay, aku bisa sendiri kok. Enjoy your time. Dan kak Doni, awas yaa jangan macam - macam sama Karin." ancam Lifia sebelum dia dan Dafa beranjak pergi dari sana. Doni menjawab Lifia dengan mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum lebar. Saat di dalam mobil, tiba - tiba Lifia menahan tangan Dafa yang hendak menyalahkan mesin mobilnya dan menatap kakaknya itu dengan tatapan penuh selidik. "What's wrong ?" tanya Dafa bingung. "Kakak sengaja ya tinggalin Karin dan Kak Doni berdua disana ?" "Sengaja apa sih dek ? Kakak ngga ngerti." "Ck...Emang Kak Doni benar - benar cinta ya sama Karin ?" " Kalau iya memangnya kenapa ? Kamu cemburu ?" "Sembarangan tuh mulut kalau ngomong. Kak Doni bukan tipenya Lifi." "Terus masalahnya apa ?" "Lifi ngga mau aja kalau sampe Kak Doni niatnya hanya ingin main - main sama Karin, apalagi kalau sampe nyakitin. Lifi sangat sayang sama Karin dan Lifi ingin suatu hari nanti Karin menikah dengan pria baik yang mampu membuat Karin bahagia." "Doni tuh niatnya mau nikahin Karin, jadi ngga mungkin dia main - main. Udah ah... jadi pergi ngga nih ?" "Jadi dong... yuk jalan" Seperti itulah Dafa saat bersama Lifia, adik kesayangannya. Seakan berubah seratus delapan puluh derajat, dari pria yang dikenal dingin, kejam dan tidak pernah tersenyum itu menjadi pria lembut dan penuh perhatian. Bahkan kalau melihat senyumnya saat bersama Lifia, siapa pun tidak akan mengira kalau dia baru saja berhasil melenyapkan nyawa dua orang sekaligus. Sama halnya dengan Lifia, gadis yang terlihat angkuh dan sombong di depan orang lain bisa berubah menjadi gadis manis dan manja di depan orang - orang terdekatnya saja. * * * Sementara masih di restoran yang sama, Doni mengajak Karin berpindah tempat duduk menghadap ke pantai. Suasana pantai yang mulai sepi pengunjung membuat suara ombak dengan jelas terdengar di telinga mereka. Ditemani cahaya bulan dan sebuah lilin yang menyala di atas meja mereka, membuat malam itu semakin romantis. "Aku harap kali ini kamu sudah punya jawaban yang pasti." ujar Doni. Sebelumnya, Doni sudah menyatakan cintanya pada Karin saat menjemput gadis manis itu di bandara waktu lalu dan mengantarnya ke rumah orangtuanya. Perjalanan yang cukup jauh dari bandara internasional Soekarno Hatta menuju Bogor saat itu membuat Doni mempunyai waktu yang banyak untuk sekedar mampir di sebuah restoran dan mengungkapkan isi hatinya. Namun sampai saat ini, Karin masih saja belum menjawab pernyataan cintanya itu. "Karin tidak pantas untuk kakak." jawab Karin sambil menundukan kepalanya, tidak berani melihat wajah Doni atas penolakannya. "Bukan kamu yang menentukan pantas atau tidaknya kamu untuk aku. Aku tidak peduli dengan pahit atau buruknya masa lalu kamu." jawab Doni sambil mengangkat dagu Karin. "Tapi Karin tidak.. sudah tidak... tidak virgin lagi kak." dengan susah payah Karin memberanikan diri untuk berkata jujur. Karin pun tidak kuasa menahan air matanya. "Aku mencintai dirimu apa adanya dan tidak akan menuntut kesempurnaan darimu. Masa lalu adalah milik kita masing - masing. Dan aku berharap kamu mau menata masa depanmu bersamaku nanti." balas Doni tulus sambil menghapus air mata Karin dengan jemarinya. "Apa kakak yakin ingin menata masa depan dengan Karin ?" "Yang aku tahu, aku sangat yakin kalau aku benar - benar mencintai kamu. Aku tidak bisa menjanjikan kalau bersamaku nanti semua akan baik - baik saja, tetapi aku berjanji akan berusaha membuat kamu bahagia." "Terimakasih kak... terimakasih." Karin tidak dapat membendung air matanya lagi karena terharu mendengar kata - kata Doni. Baru kali ini dia merasa benar - benar dicintai oleh seorang pria. "Jadi, apa aku di terima ?" tanya Doni yang dengan lembut kembali menghapus air mata Karin. "Iya... Karin terima." dengan malu - malu akhirnya Karin menganggukan kepalanya. "Terimakasih." jawab Doni kemudian mengambil salah satu tangan Karin dan menciumnya mesra. "Tapi besok Karin kembali ke London, satu tahun lagi baru bisa ketemu kakak." "Berapa tahun pun akan aku tunggu, asal kamu berjanji untuk kembali." "Karin janji." jawab Karin dengan polosnya dan mengangkat jari tengah dan telunjuk nya bersamaan membentuk huruf V membuat Doni gemas melihatnya. "Mau pulang sekarang ?" tawar Doni saat melihat Karin yang mulai kedinginan karena angin pantai. "Iya kak, udara disini mulai dingin." jawab Karin kemudian mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa menit melaju dengan mobil sport milik Dafa, akhirnya Doni dan Karin sampai di salah satu hotel berbintang tempat mereka menginap. "Terimakasih kak sudah antar Karin." "Mulai sekarang itu jadi kewajiban aku." "Karin pamit ya kak, good night." Saat Karin ingin membuka pintu mobil nya, tiba - tiba tangan Doni menahan nya. Karin pun memalingkan wajahnya kembali pada Doni dan betapa terkejutnya dia saat mendapati wajah Doni yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya. Dia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Doni. Beberapa detik saling terdiam dan menatap dalam satu sama lain, akhirnya Doni memiringkan kepalanya dan mencium lembut bibir Karin. Awalnya kaget dengan apa yang Doni lakukan padanya, tetapi beberapa detik kemudian Karin membalas ciuman itu. Saling menghisap, menggigit pelan bahkan bertukar saliva hingga akhirnya Doni mengakhiri ciuman itu karena merasa Karin yang sebentar lagi akan kehabisan oksigen. "I love you." ucap Doni kemudian mengusap bibir Karin yang sedikit membengkak akibat ulahnya. "I love you too, kak." balas Karin malu - malu. Masih dengan posisi yang sama, tangan Doni lalu membuka pintu di samping Karin. "Good night, have a nice dream." ucap Doni dan mengecup kembali bibir Karin. Hanya sebuah kecupan. Karin turun dari mobil itu sambil menahan senyum dan wajah yang memerah karena malu dengan apa yang baru saja dia lakukan. Sambil berlari kecil, dia masuk ke dalam hotel. Deerrrt... deerrrrrtt Doni melihat pesan singkat yang baru saja masuk di ponselnya. [Ada informasi penting, bos.] siapa lagi yang mengirimnya kalau bukan mata - mata Doni yang ada di rumah Mika. [Katakan] balas Doni singkat. [Saya ingin bayaran dua kali lipat] [Ok, akan aku siapkan di tempat biasa] balas Doni. [Nona Mika menerima lamaran Rendy.] Setelah membaca pesan singkat itu, Doni segera melajukan mobilnya ke club malam dimana Dafa dan Lifia berada saat ini. * * * "Seriously kak ? Hanya sebotol bir ?" kesal Lifia saat Dafa tidak mengizinkannya mengkonsumsi minuman lain selain bir dengan kadar alkohol yang sangat rendah, bahkan tidak akan membuatnya mabuk. "Sebotol bir atau pulang sekarang juga ?" jawab Dafa sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kau sangat menyebalkan kak." dengan kesal Lifia mengambil bir itu dan langsung menegaknya sampai tandas. Lifia kemudian berjalan menuju lantai dansa dan melampiaskan kekesalannya dengan meliuk - liukan tubuhnya mengikuti irama musik yang dimainkan oleh seorang disc jockey. Dafa sengaja membiarkannya sambil terus mengawasi gerak - gerik para p****************g yang berada disana. Sudah bisa dipastikan, siapa saja yang berani menyentuh adik kesayangannya itu akan berakhir di rumah sakit. "Doniii," panggil Dafa sambil melambaikan tangannya saat mata tajamnya menangkap sosok Doni yang baru saja masuk. Doni yang melihatnya segera menghampiri Dafa. "Bagaimana ? Kau berhasil meyakinkan Karin ?" tanya Dafa penasaran. "Ya, sekarang kami resmi pacaran bos." jawab Doni sambil tersenyum lebar. "Kalau begitu kita harus merayakannya." ucap Dafa sambil menuangkan minuman dari sebuah botol yang bertuliskan chivas lalu memberinya pada Doni. "Untuk kebahagian kau dan Karin." mereka pun bersulang merayakan hari diterimanya Doni jadi kekasih Karin. "Saya baru saja mendapatkan informasi penting, bos." ujar Doni setelah menegak habis minuman di gelasnya. "Katakan." "Nona Mika menerima lamaran Rendy." Mendengar informasi yang Doni sampaikan, entah kenapa ada rasa tidak suka yang Dafa rasakan. Hatinya seakan sangat benci mendengar hal itu. "Aku pastikan pernikahan itu tidak akan pernah terjadi." ucap Dafa kemudian menegak habis minuman di gelas nya. "Apa yang harus kita lakukan, bos ?" tanya Doni hati - hati karena melihat wajah Dafa yang berubah kembali menjadi dingin. "Culik dia dan bawa ke hadapanku. Aku akan membawanya ke luar negeri agar mereka sulit untuk menemukannya. Lakukan tepat di hari pertunangan mereka, dan seperti biasa jangan sampai meninggalkan jejak." jelas Dafa. "Baik bos." Mata tajam Dafa kembali mencari keberadaan Lifia. Emosi Dafa yang menyala saat mendengar informasi dari Doni menjadi semakin terbakar saat matanya mendapati seorang pria yang sedang mencoba memeluk Lifia dari belakang. "Hei apa yang kau lakukan ? Damn... menjauh dariku brengsek." Lifia mencoba menjauhkan diri dari seorang pria yang sengaja menempelkan tubuhnya di belakang Lifia. "Teruslah berdansa sayang, kau sangat seksi dengan gaun ini." balas pria itu dengan tangannya yang mulai menyentuh pinggang Lifia. "Lepaskan tangan kotormu itu atau kau akan menyesalinya." Lifia membalik tubuhnya menghadap pria itu dan sengaja mengingatkannya saat dia melihat Dafa yang sedang berjalan ke arah mereka. "Apa kau ingin aku menyentuhmu di tempat lain ?" tanpa mempedulikan perkatan Lifia, pria itu malah semakin berani meremas pinggang Lifia hingga akhirnya... Buugggh Dafa menarik pria itu dan memukul wajahnya tepat di hidungnya hingga hidung pria itu mengeluarkan darah. "Uuppss... jangan salahkan aku, aku sudah memperingatimu sebelumnya." ucap Lifia pada pria yang sedang tersungkur di lantai itu. Dafa kemudian menginjak tangan pria yang tadi sudah berani memegang bahkan meremas pinggang Lifia. "Aaaakkkhhhhh" teriak pria yang sedang kesakitan itu. "Sekali lagi tangan kotormu ini menyentuh tubuhnya, akan aku patahkan bahkan sampai ke lehermu." geram Dafa. Tidak ada satu orang pun disana yang berani menolong pria itu karena takut berurusan dengan Dafa. Dafa kemudian membawa Lifia keluar dari sana diikuti Doni di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN