Beberapa waktu lalu, sebuab lexus hitam membelah jalanan ibu kota, terlihat jelas kalau si pengemudi menggeber kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beberapa kali kendaraan dengan tampilan gagah itu bergerak lincah, menyalip kendaraan-kendaraan lain yang sekiranya dirasa menghalangi jalannya. Sempat di persimpangan, mobil tersebut hampir menabrak pengendara sepeda motor, karena nekat menerobos lampu merah. Beruntung pengemudi mobil bisa banting setir dan langsung menguasai tungangannya.
"HOI, MAU MAMPUS YA?!" Teriakan si pengendara sepeda motor terdengar kencang.
Pengemudi lexus hanya menatap dari spion tengah. Ketegangan jelas tampak di wajah rupawannya. Setelah mengetahui si pengendara sepeda motor baik-baik saja, lelaki beralis tebal itu membuang napas lega. Tak lama berselang, terdengar bunyi ponsel yang diletakan di dasboard. Mommy, nama yang tertera di layar smart phone tersebut. Tangan kiri megambil ear phone lalu memakainya di telinga, dan langsung menerima panggilan dari wanita yang melahirkannya.
"Assalamualaikum, Mam."
[Alaikumsalam, Rei. Kamu di mana, apa tadi jadi jemput Emira?]
Rupanya si pengendara lexus adalah Reiga. Emosi masih menguasai hatinya setelah bertengkar dengan Frida di mall. Kebencian pada gadis yang dianggapnya lancang, dan membawa pengaruh buruk pada Emira semakin menggunung di hati duda satu anak tersebut.
"Mam, besok-besok lagi jangan izinkan bocah tengil itu bersama dengan gadis lancang itu. Reiga nggak suka." Reiga melayangkan protes pada ibunya.
[Bocah itu putrimu, Rei, dan dia punya nama EMIRA! gadis itu juga punya namanya FRIDA, dia tidak pernah lancang. Takdir yang membawanya b9ertemu dengan Emira. Kamu juga tahu kalau putrimu kurang kasih sayang juga perhatian dari orang tuanya. Makanya begitu ketemu Frida yang memang tulus memberikan kasih sayang, Emira langsung bisa akrab. Sudah nggak usah cari masalah baru, kamu sekarang di mana, jadi jemput Emira atau nggak?]
"Masih di jalan, Mama aja yang jemput, aku mau siap-siap, besok harus berangkat penugasan."
"Berapa lama kamu penugasan? biasakan pamit pada Emira, biar bagaimanapun dia putrimu, dan sekarang dia sudah tumbuh jadi anak yang cerdas. Hanya tinggal kamu orang tuanya, nggak ada salahnya jika kamu melimpahi Emira dengan perhatian dan kasih sayang. cobalah buka hatimu, Emira tidak bersalah atas kepergian mantan istri kamu." Nyonya Gulizar mulai memberikan wejangan pada putranya.
"Dua minggu, tapi bisa lebih atau kurang, tergantung cepat selesai atau tidaknya operasi di lapangan. Gara-gara mengandung dan melahirkan bocah tengil itu, Marsya jadi rendah diri lalu lergi begitu saja, tanpa pesan. Sudah lah Mam, aku malas membahas hal itu, assalamualaikum."
Reiga mematikan sambungan telepon, setelah mengucapkan salam. Lelaki berdarah Indonesia-Turki-Arab itu tidak mau mendengar ceramah dari ibunya, terlebih wanita yang melahirkannya kentara sekali sedang membela gadis lancang yang telah membawa pengaruh tidak baik untuk Emira.
"Dasar anak kurang ajar, orang tua belum selesai bicara main matikan saja sambungan teleponnya," geruti Nyonya Gulizar yang sedang dalam perjalanan pulang, akhirnya harus memutar arah, menjemput Emira di rumah Frida.
Nyonya Gulizar memang tadi sengaja meminta Reiga menjemput Emira di rumah Frida, supaya anak lelakinya itu belajar bertanggungjawab, baik pada putri kecilnya juga menyelesaikan permasalahan antara dirinya dengan Frida. Reiga rupanya tidak mengidahkan pesan ibunya, hingga beliau menghubungi putranya, dan malah mendapat jawaban tidak mengenakan dari lelaki yang menginjak usia tiga puluh lima tersebut.
*
Sampai di rumah, Reiga membanting pintu, melampiaskan segala kekesalan hatinya. Mbok Jum yang sedang menyiapkan makan malam di dapur sampai terlonjak. Melihat majikan mudanya datang, wanita paruh baya itu bergegas menyambutnya.
"Den Rei, mau dibuatkan teh atau kopi? makan malam sudah siap, tapi nyonya dan tuan makan di luar." Mbok Jum menghentikan langkah tergesa Reiga.
"Teh telang saja, Mbok. Saya belum laparr, nanti saja," jawab Reiga lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai dua.
Kepala Reuga terasa pening, mengingat serangkaian kejadian hari ini. Dari batlyon tempatnya berdinas juga sedang ada kasus yang melibatkan anggotanya, mau tidak mau sebagai komandan kompi, dirinya harus mengusut dan menuntaskan kasus tersebut. Supaya tidak menjadi sandungan untuk kariernya juga anggota yang lain. Ditambah lagi dengan pertengkarannya dengan Frida yang benar-benar menyulut amarah ayah Emira tersebut.
"Kapan Den Rei bisa kembali seperti dulu, ramah sama setiap orang, selalu tersenyum, wajahnya juga semringah terus. Sejak ditinggal Non Mesya pergi tanpa pamit Den Reiga jadi berubah seperti ini. Belum lagi sikapnya terhadap Non Emira, duh... sedih kalau melihat anak sekecil itu selalu disalahkan papanya."
"Hayo... ngelamunin apa?" Pak Nardi menepuk pundak lebar Mbok Jum, hingga wanita bertubuh sekal itu terlonjak karena kaget.
"Wong edian, bikin kaget saia, untung nggak punya penyakit jantung, bisa matek aku, Di... Di..."
"Mbok Jum serius banget tampangnya, mikir apa?" Pak Nardi masih penasaran dengan apa yang membuat rekan kerjanya itu melamun, sambil berdiri di ruanh tengah dan menghadap ke arah tangga.
"Wes embuh, mau bikinkan minum Den Reiga," elak Mbok Jum begitu teringat kalau tadi menawarkan minuman untuk majikan mudanya.
"Mbok... Mbok Jum..." Pak Nardi malah mengekor Mbok Jum sampai ke dapur.
"Udah nggak usah kepo dengan urusan orang, lanjutkan saja kerjaanmu sana. Ruang kerja tuan belum kamu bereskan lo tadi." Mbok Jum menggunakan kewajiban Pak Nardi yang belum selesai sebagai alasan menghinndar dari kekepoan lelaki yang sudah bekerja di rumah besar ini selama lima tahun.
Mhok Jum mengantar teh pesanan Reiga ke kamar. Terlihat majikan mudanya itu sedang bebenah, sebuah ransel berwarna hitam yang biasa dipakai untuk menyimpan segala keperluan, ketika lelaki itu menjalankan tugas negara teronggok di samping ranjang besarnya.
"Den, ada yang bisa Mbok bantu?" Mbok Jum meletakkan nampan berisi sepoci teh hangat dan sepiring pisang goreng di atas meja kerja Reiga.
Hati Mbok Jum selalu was-was tiap lelaki rupawan itu berangkat penugasan, biar bagaimanapun dirinya telah membersamai ayah Emira sejak ramaja, hingga berhasil menjadi seperti sekarang ini. Setiap hal yang telah dilalui Reiga sedikit banyak Mbok Jum mengetahuinya, dan wanita paruh baya itu sudah menganggap majikan mudanya seperti anak sendiri.
"Kaos hitam saya di mana ya, Mbok? dari kemarin saya cari kok nggak ada." Sejak jadi prajurit garda terdepan bangsa, Reiga lebih nyaman kalau Mbok Jum yang membantunya mempersiapkan segala keperluan sebelum berangkat penugasan. Riega memang tidak terlalu dekat dengan kedua orang tuanya.
"Sebentar Mbok carikan, Den." Dengan cekatan Mbok Jum menyibak almari dua pintu, senyum mengembang dari bibir Mbok Jum.
"Masih saja manja, padahal sudah jadi ayah," guman Mbok Jum sambil memasukan kaos hitam kesayangan Reiga ke dalam ranselnya.
"Kenapa Mbok?" tanya Reiga yang mendengar gumanan Mbok Jum.
"Udah jadi ayah, tapi kebiasaan manjanya nggak ilang," kekeh Mbok Jum lalu duduk di sebelah Reiga.
"Nggak tahu Mbok, tiap ada Simbok jadinya pengen merajuk terus. Apalagi akhir-akhir ini sepertinya masalah sedang senang mendatangi hidup saya." Hanya dengan Mbok Jum, Reiga bisa sedikit terbuka, walau masih tetap dengan sikap dinginnya.
"Den, bukalah hati, menikahlah lagi. Den Rei masih muda, siapa tahu dengan menikah lagi, suasana hati Den Rei jadi berbeda. Non Emira juga butuh sosok ibu," saran Mbok Jum dengan tatapan tulus pada majikan mudanya