Bab 5 Perdebatan

1201 Kata
“Mur, kok kuenya nggak bertingkat?” tanya Nyonya Gulizar penuh keheranan. Melihat kue ulang tahun yang bentuknya lebih kecil dari yang dipesanya tempo hari. Memang hiasannya lebih bagus yang ini, bahkan sesuai dengan karakter kartun kesukaan Emira. “Maaf Nya, kurir dari toko kue mengalami kecelakaan, jadi kue pesanan Nyonya hancur. Ini tadi Mbak Frida yang buatkan,” terang Murni. “Terus Fridanya mana? Ajak masuk, Emira nyari'in terus dari tadi,” ujar oma Emira. “Sudah pulang, Nya. Begitu Tuan muda masuk ke dapur, Mbak Frida langsung pamit begitu saja,” lanjur Murni tanpa mau menutupi apa yang sebenarnya terjadi. “Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya bikin masalah sama Frida, jelas-jelas gadis itu sudah menyelamatkan acara ulang tahun anaknya. Ya sudah, kamu bantu Mbok Jum keluarin makanan untuk anak-anak, ya. Sekalian penggilkan Reiga, biar menemani Emira tiup lilin dan potong kue,” pinta Nyonya Gilizar. “Baik Nya, saya permisi," Wajah Emira terlihat bahagia, membaur dengan anak-anak seusianya, walau ada beberapa yang umurnya lebih tua atau lebih muda darinya, tapi selisihnya tidak terlalu jauh. Gadis kecil berwajah cantik itu, berlarian di halaman yang sudah dirubah menjadi arena bermain dan dihias dengan banyak balon. “Sayang, ayo tiup lilin dulu,” ajak Mbak Ria pada Emira begitu ada panggilan dari MC. Senyum lebar Emira tergambar jelas, saat melihat kue ulang tahun di atas meja. “Wah, ada Sofia!” “Em, suka?” tanya seorang wanita cantik yang langsung mendekat begitu gadis kecil itu diantar Mbak Ria naik ke atas panggung, yang sudah ada Reiga dan Ibunya sudah menunggu. “Mam, kenapa harus ngundang dia, sih?” Reiga protes saat melihat wanita yang mengandeng Emira. “Dia datang sendiri, Rei, mungkin tahu dari ibunya. Sudah jangan protes, ini acara anakmu, kalau memang tidak suka, nggak usah dipedulikan. Laki kok nggak tegas. Apa Cuma sama Frida kamu beraninya?” sindir Nyonya Gulizar menahan kejengkelan, mengingat sikap Reiga pada Frida. "Mami ngomong apa sih, gadis itu memang pantas diperlakukan seperti itu. Bisa-bisanya mengklaim dirinya sebagai ibu Emira, lancang sekali," sahut Riega membela diri, dengan tetap menjatuhkan harga diri Frida. "Sudah, nggak usah diperpanjang, fokus sama acara ini. Temani Emira, berpura-puralah bahagia demi anakmu. Tunjukan cintamu walau harus bermain drama di depan banyak orang. Emira tidak pantas kamu salahkan," ucap Nyonya Gulizar penuh penekanan. * Frida memasuki rumah kontrakannya, tepat saat adzan isya berkumandang. Tubuhnya terasa lelah, hatinya juga masih dongkol dengan sikap Reiga. Dibukanya sling bag, lalu mencari ponsel, sekadar melihat siapa saja yang menghubungi dan mengirim pesan, karena sejak masuk rumah keluaraha Latief, benda berwarna biru itu tidak tersentuh sama sekali. Bahkan waktu memesan ojek online juga dipesankan oleh Murni. Panggilan tak terjawab dari Aini paling banyak, juga beberapa pesan dari sahabatnya itu. Dibalasnya satu persatu pesan masuk yang dirasa penting, terutama yang menyangkut orderan untuk kateringnya. Selesai berbalas pesan, Frida masuk kamar mandi, membersikan diri lalu menunaikan empat rakaat yang menjadi kewajibannya. Ketukan di pintu terdengar tepat ketika Frida melipat mukenanya. Aini sudah berdiri di depan pintu, begitu Frida membukanya. Tubuh gempal itu merangsek masuk begitu pintu terbuka lebar. Wajah Aini terlihat cemberut, tanpa berbicara pada pemilik rumah, gadis berambut pendek sebatas bahu itu langsung menuju dapur. Mengeluarkan bahan masakan dari lemari pendingin, lalu menggelarnya di lantai dapur yang sebelumnya telah dialasi oleh tikar plastik. “Ni, kamu marah?” tanya Frida membuat lemon tea untuk mereka dalam teko plastik berukuran besar. Sudah menjadi kebiasaan dua gadis berbeda karakter ini, bekerja harus ditemani minuman menyegarkan. Kalau siang sudah pasti dicampur dengan batu es, sedang malam seperti ini, lebih nikmat disajikan dalam keadaan hangat. Tanpa mempedulikan sahabatnya, Aini sudah sibuk mengupas bawang. Pesanan besok harus siap sebelum jam 8 pagi, jadi mau tidak mau harus disiapkan dari sekarang. Nasi racikan, dengan beberapa lauk pendamping, sudah tentu memakan waktu untuk menyiapkannya, apalagi hanya dikerjakan berdua. Kalau pesanan sekitar 100 porsi, dua sahabat itu memang menyelesaikan sendiri, tapi jika sudah lebih dari 150 porsi, makan akan datang satu atau dua orang tetangga kontrakan Frida membantunya. “Aku minta maaf, kalau niatku menolong dan bertanggungjawab pada Pak Nardi membuatmu kesal. Mungkin lain kali aku memang harus mendengar omonganmu, karena setiap niat baik, belum tentu disambut baik juga oleh si penerima.” Aini hanya melirik sekilas tanpa berniat menjawab atau menaggapi perkataan sahabatnya. Merasa tidak ada tanggapan dari Aini, akhirnya Frida bungkam, dan mengerjakan yang menjadi bagiannya. Malam semakin larut. Dapur rumah kontrakan Frida yang tidak terlalu luas, dengan pencahayaan cukup terang, terlihat hening, hanya terdengr suara peralatan dapur sedang bekerja sesua fungsinya. Biasanya ruangan dengan nuansa merah muda, berpadu dengan biru langit itu, akan ramai dengan celoteh dua sahabat yang memang sama-sama cerewet. Jarum jam menunjuk angka 12, ketika Frida mematikan kompor, dan Aini selesai dengan tugas terakhirnya malam ini, mencuci perabot kotor. Perkedel kentang sudah setengah jadi, tinggal digoreng dadakan besok. Ayam kecap juga sudah masak, sebelum dikemas, tinggal dihangatkan sebentar. Orek tempe dicampur buncis dan wortel juga dalam kondisi setengah matang, dan sudah berbumbu. Akan dimatangkan kembali sebelum dimasukan dalam kotak mika. Jadi besok tugas utama adalah menanak nasi. Kerupuk sudah disiapkan dari kemarin, begitu pesanan diterima. “Kamu nggak usah pulang, sudah tengah malam, toh di sini juga ada kamar kamu’kan?” larang Frida saat melihat Aini memakai jaket dan menyelempangkan tas ke bahunya. “Mau semarah apa pun kamu, itu hakmu, aku tidak akan melarang. Tapi aku melarangmu nekat pulang tengah malam begini.” Kembali Frida bersuara tegas. “Ngak usah sok peduli, deh. Ini terakhir kali aku bekerja sama, mulai besok setelah pesanan hari ini selesai, aku mundur berhenti.” Frida melotot, terkejut dengan yang baru saja didengarnya. “Eh, gila ya kamu? Kalau kamu nggak kerja bagaimana kamu bayar sekolah adikmu, beli obat ibumu? Mikir dong, jangan egois.” Suara Frida sedikit meninggi. “Kamu pikir aku nggak bisa biayai hidup keluargaku kalau nggak kerja sama kamu? Sombong banget. Jangan karena semua modal usaha ini dari kamu, lantas seenaknya bersikap dan mengabaikan tanggung jawabmu,” balas Aini dengan suara tak kalah tinggi. “Sombong? Bukan kebalik, ya. Apa bukan kamu yang sesumbar baru saja? Kamu pernah mikir nggak, sejak pertama kita menerima orderan, aku sudah transparan dengan perhitungan, mulai dari modal yang kita gunakan, laba yang kita dapat bahkan kita bagi rata. Karena aku pikir, kita kerja bareng, nggak ada yang namanya bos atau pegawai. Mulai kita bareng, berdarah-darah bareng, sukses juga harus bareng. Aku dapat seribu, kamu juga dapat seribu. Aku capek, kamu juga capek. Mana ada aku membedakan, Ni? Kamu keterlaluan banget, hanya karena kamu belanja sendiri dan aku membantu Pak Nardi, kamu sudah bersikap seperti ini. Lagian kamu juga tahu, aku merusakan barang-barang beliau, motornya juga rusak, apa salah kalau aku sedikit bertanggungjawab?” Emosi Frida sudah tersulut. “Nih, aku transfer ke rekening kamu dua juta lima ratus. Tadi aku dapat bayaran lima juta, kita bagi dua, adil’kan? Sekarang terserah kamu, kalau memang mau pergi, silahkan. Jangan pernah kembali, tapi paling tidak pergilah besok saat hari terang. Kalau malam ini kamu nekat pulang, dan terjadi apa-apa sama kamu, aku yang merasa bersalah pada orang tuamu, terutama ibumu. Beliau sudah menitipkan kamu padaku. Sekarang terserah, kamu. Aku mau tidur, capek.” Frida gegas masuk ke dalam kamarnya disusul suara keras pintu yang tertutup dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN