Bab 17 Orang Tajir Sombong dan Doyan Bohong

1977 Kata
Bab 17 Orang Tajir Sombong yang Doyan Bohong   Gerry bernapas dengan normal. Tangannya sedang bermain di rambut panjang Giva. Setelah pertengkaran kecil mereka di luar, mereka pun menikmati quality time mereka. Giva pun sudah tidak marah-marah lagi. Dia bahkan jadi pendiam dan hanya menurut saja saat Gerry mengajaknya berbaring seperti sekarang.      “Gi, kamu udah tidur?” tanya Gerry saat dia merasakan Giva tidak bergerak lagi dalam pelukannya.      “Kenapa, Ger? Kamu mau ke kamar mandi?” balas Giva bertanya. Dia berpikir bahwa Gerry ingin ke kamar mandi dan memintanya bergeser karena posisi mereka yang sedang berhimpitan. Lebih tepatnya Gerry sedang menyangga tubuh Giva yang berada dalam pangkuannya.      “Enggak, aku cuma ngerasa aneh aja karena kamu dari tadi diam.”      “Kalau aku banyak ngomong aku takut marah-marah lagi, Ger, makanya aku diam. Kamu masalah juga kalau aku diam?”      “Ng,, enggak kok, Sayang. Kamu emangnya belum ngantuk? Sekarang udah mau jam 11 malam loh, Gi.” Gerry mengusap lengan Giva. Menenangkan istrinya yang seperti mau marah lagi.      “Aku tadi tidur siang jadi aku belum ngantuk sekarang. Kalau kamu mau tidur ya tidur aja. Atau kamu keganggu karena ada aku di sini?”      “Aku enggak mau ya dengar kamu bicara ketus lagi.” Gerry mengecup rambut Giva dan membuat Giva diam.      Giva mendesah lagi dan meminimalisirkan kemarahannya yang mudah sekali memuncak. “Maaf deh. Kayaknya aku butuh liburan, Ger. Aku sumpek di rumah terus. Mungkin itu alasannya kenapa aku jadi sering marah-marah? Kapan-kapan kita bisa liburan kan?”      Gerry terdiam sebentar sambil memikirkan masalah keuangannya. Bagaimana pun juga dia sedang mencoba untuk menabung, gaji bulan depan harus dia pergunakan sebaik mungkin. Ada banyak PR dalam kehidupan rumah tangga mereka, seperti persiapan persalinan bayi mereka dan perlengkapannya.      “Ger, kamu enggak ada uang ya kalau kita jalan-jalan?” Giva bertanya asal. Dia memang jadi lebih memikirkan masalah keuangan. Kehidupan yang mereka jalani sangat sulit di Bali apalagi tanpa adanya sanak saudara karena melepas diri dari kerabat seperti sekarang ini.      Gerry masih belum menyahut. Sampai akhirnya Giva menyentuh lengan Gerry dan pria itu tersentak kaget. “Eh, kamu bicara apa, Gi? Ehm, kalau kamu mau bulan depan kita bisa jalan-jalan berdua.”      “Kalau enggak ada uangnya, enggak usah deh, Ger.” Giva mengangguk mengerti. “Aku juga masih bisa jalan-jalan di sekitar sini, enggak sumpek lagi deh pokoknya.”      “Kamu ngomong apa sih? Aku kan udah bilang karena aku udah kerja kamu boleh minta apapun yang kamu mau. Aku kan udah tajir lagi, ya meskipun enggak tajir-tajir banget sih.” Gerry terkekeh. Mencoba membuat Giva percaya dengan ucapannya. Setajir-tajirnya Gerry sekarang sebenarnya gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari, periksa ke dokter kandungan tiap bulan, dan tentu saja tabungan untuk persalinan calon bayinya. Tapi, jika dia memberitahu Giva rasanya dia tega. Rasanya begitu jahat, dia sudah mengajaknya kawin lari seperti sekarang tetapi malah membuat Giva tidak nyaman dengan semua kekurangannya. Dia benar-benar tidak bisa melihat Giva merasa susah. Dia sudah berjanji untuk membahagiakan Giva.      Giva kini yang terdiam. “Ya udah deh terserah kamu aja, Orang Tajir Sombong yang doyan bohong!”      Gerry makin tertawa keras. Dia mengeratkan pelukannya lalu mengecup rambut Giva lagi dari samping. Setelah itu mereka saling terdiam, membuat kesunyian di antara mereka terjalin. Beberapa saat kemudian mereka pun merasakan kantuk dan tertidur.   ***        Senin kembali datang dan Gerry merasa harinya begitu berat. Setelah kebersamaannya bersama Giva terasa menyenangkan dan membahagiakan, jujur saja kembali ke kantor adalah pekerjaan terberat bagi Gerry. Meninggalkan Giva sendirian di kontrakan mereka seperti biasanya.      Gerry meneguk air putih yang tersedia di samping meja kerjanya lalu mengetuk-ngetuk kepalanya. Dia tidak bisa fokus sejauh ini. Pekerjaan rasanya kacau hari ini. Akhirnya Gerry memutuskan untuk menelepon Giva agar bisa kembali semangat setelah mendengar suaranya.      “Halo, Ger! Kenapa nelepon?” tanya Giva langsung.      Gerry merengut diam-diam. Ia kemudian menjawab sambil memainkan pena yang ada di tangannya. “Enggak, Gi. Kamu lagi apa sekarang?”      “Aneh banget tanya-tanya gitu ke aku. Aku lagi di rumah, udah ya aku mau nyuci baju. Baju kamu aku cuciin sekalian ya, Ger?”      “Wah, kamu mau nyuciin baju aku, Gi? Boleh deh. Tapi kamu jangan sampai kecapekan ya, Gi! Istirahat kalau capek.”      “Bawel banget sih! Udah ya, bye bye!”      “Bye bye juga, Bunda.” Gerry tersenyum setelah mematikan teleponnya. Dia merasa lucu saat memanggil Giva dengan panggilan Bunda. Sama seperti Ayah jika memanggil Bunda. Astaga, sekarang dia jadi merindukan Bunda, Ayah, dan Fani. Apa kabar mereka? Sejak meninggalkan Jakarta, dia mengganti nomer telepon, tidak membuka media sosial, atau melakukan apapun yang berhubungan dengan keluarganya. Yang hanya ada dalam otaknya saat ini hanya Giva. Dia sampai melupakan semua kehidupannya.      “Ger, kenapa lo?” Haris yang merupakan rekan kerjanya bertanya sambil mendekatkan kursi kerjanya. “Woi, ditanyain juga masih bengong.”      Gerry menoleh lalu mendesah panjang. “Kenapa, Mas?”      “Bengong aja dari tadi.”      “Kangen orang rumah, Mas.” Gerry sama sekali tidak menyangkal. “Mas, enggak kangen orang rumah?”      Haris tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Enggak juga, kan sekarang udah ada media sosial. Kalau kangen cukup telepon atau video call, gampang kan?”      Gerry tersenyum masam. Andai ia bisa melakukannya, ia tidak perlu merasa sebegini bingung dan merindu begitu besar. “Laporanku belum selesai, kita lanjut ngobrol lagi nanti ya, Mas.”      Tanpa menjawab sama sekali, Haris kembali ke mejanya. Duduk dengan tenang dan tidak mengacuhkan Gerry sama sekali.   ***        Suara Yuna menjadi hal yang kembali biasa ia dengar setiap masuk kerja. Kali ini Yuna mengajak Gerry makan siang bersama di pinggir pantai. Setelah mereka memesan makanan, Yuna memecahkan keheningan. “Kamu enggak apa-apa kan kalau nemenin aku makan di sini?”      Gerry mengangguk singkat. “Kamu suka banget ya sama sate di sini? Terus menerus diajak ke sini aku juga bakal suka sama makanan di sini. Enak banget sih.”      “Ger, kamu bisa temenin aku enggak bulan depan?” Yuna nampak berhati-hati saat bertanya. “Ada pembukaan cabang di Jakarta, aku mau ajak kamu ke peresmiannya. Cuma sebentar kok, enggak sampai tiga hari.”      “Jakarta, Yun?” Gerry nampak serba salah. Jika dia menolak dia tidak enak hati pada Yuna, tapi jika mengiyakan dia mengkhawatirkan Giva. Siapa yang nanti menjaganya? Menanyakan makannya dan melakukan pekerjaan rumah mereka? Mencuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel, bahkan persoalan makanan pun dialah yang mengurusnya. Bukannya Gerry tidak percaya pada kemampuan Giva, tapi wanitanya masih labil dan yang ada dalam benaknya hanyalah mengkhawatirkan Giva secara berlebihan. Belum lagi kalau Giva kabur darinya bagaimana? Bisa saja kan hal itu terjadi jika dia tidak mengawasinya.      “Kamu keberatan ya, Ger? Ada masalah sama istri kamu?”      Gerry buru-buru menggeleng. “Bukan. Giva bisa aja aku tinggal, tapi aku khawatir kalau dia kenapa-napa kalau sendirian. Dia di Bali kan cuma sama aku, Yun. Kita enggak punya kerabat lagi di sini.”      Yuna nampak iri saat Gerry terdengar begitu mempedulikan Giva. Giva memang istri Gerry, dan dari ucapannya saja Yuna harus sadar bahwa Gerry begitu mencintai Giva. Tidak aneh sebenarnya, tapi tetap saja Yuna merasa iri. Dia ingin berada diposisi Giva. Menjadi wanita yang dicintai oleh pria yang duduk di hadapannya, yang dimatanya ia begitu sempurna. Ketampanan dan pesonanya saja sudah cukup untuk membuat banyak wanita jatuh cinta, apalagi jika dia bersikap respect sepeti ini. “Gimana kalau istri kamu tinggal sementara di rumahku? Aku yakin ia aman di rumah. Ada pembantu juga jadi dia enggak perlu melakukan pekerjaan rumah apapun.”      “Jangan, Yun! Aku nyusahin kamu namanya. Memangnya apa harus sama aku ya, Yun?”      Inilah yang dikhawatirkan Yuna. “Ehm, aku berharap besar kamulah yang ikut dan nemenin aku, Ger. Kamu tahu sendirikan kalau aku kurang respect sama teman-teman kerja yang lain. Cuma kamu yang bisa aku andalin.”      “Ya udah deh, kamu udah banyak bantu aku, Yun. Nanti aku bicara ke Giva dulu supaya dia bisa ngizinin aku ikut sama kamu ke Jakarta.”      “Bulan depan loh, Ger. Kamu harus segera bicara ke Giva,” ingat Yuna lagi kemudian meminum jus alpukat yang dipesannya melalui sedotan.      Gerry hanya mampu terdiam. Mulai memikirkan Giva yang harus ditinggalnya dan bagaimana caranya agar ia bicara pada Giva mengenai kepergiannya? Meskipun hanya 3 hari tapi rasanya Gerry benar-benar tidak rela. Jika saja bukan karena Yuna yang mengajaknya, dia pasti ingin sekali menolaknya mentah-mentah. Belum lagi tujuannya nanti adalah Jakarta, bagaimana jika nanti ia bertemu dengan keluarganya atau dengan rekan kerja Ayah yang beberapa sudah mengenalnya dengan baik? Astaga, mengapa dia berpikiran yang tidak-tidak? Lagipula Jakarta sangat luas, tidak mungkin ia bisa bertemu. Gerry menyakinkan dirinya lalu meminum jus alpukatnya juga sampai habis.   ***        Seharian yang dilakukan Giva adalah mengerjakan pekerjaan rumah. Dia memang baru lagi memegang cucian yang banyak dan membuatnya benar-benar merasa letih. Bukannya nakal, tapi Giva sampai lupa makan siang. Ia pasti dimarahi kalau ketahuan tidak makan siang oleh Gerry. Apa boleh buat, dia mencuci baju dari jam 9 pagi sampai pukul 11, dilanjut dengan menyapu kamarnya dan mengepel rumah, bagaimana sempat ia makan siang jika ia selesai saja pukul 3 siang. Lagipula dia tidak terlalu lapar. Pokoknya hari ini Giva benar-benar sibuk dan tidak bisa beristirahat sebentar saja.      Baru selesai mandi pukul 17.00 dan berganti pakaian, Gerry pulang ke rumah dan menyapa Giva yang sedang melipat pakaian mereka yang sudah kering di atas bale. “Assalamualaikum,” sapanya lembut sambil tersenyum ke arah Giva yang sesekali menatapnya.      “Wa’alaikum salam,” Giva membalas sambil terus melipat pakaian. Sesekali dia juga melihat ke arah Gerry yang mulai melepaskan sepatu pantopel hitam yang ia pakai. Tak lupa kaos kakinya yang berwarna senada itu pun ia lepas. Tak luput Giva juga melirik wajah Gerry yang nampak berpikir. “Kamu ada masalah di kantor? Mukanya jelek banget.”      Gerry berdecak. “Ada enggak ya suami istri baru nikah kayak kita?”      “Kenapa?” tanya Giva bingung.      “Enggak sih. Cuma sebel aja, suami baru datang dari kerja bukannya disapa dengan ciuman atau pelukan, eh kamu malah nyinyir kalau mukaku jelek.”      “Habis kamu kayak Profesor Wildan kalau lagi mikir, jelek tahu!”      “Kualat loh ngomongin suami sendiri jelek, apalagi lagi hamil gitu. Anak kita nanti aku sumpahin mirip aku seratus persen.”      “Iiiih, apaan sih!” Giva berdecak kesal sambil melemparkan kaos Gerry yang belum ia lipat. “Aku kan yang hamil, nanti aku juga yang melahirkan, masa harus mirip kamu seratus persen? Enggak akan!” balasnya sengit.      Gerry tidak menanggapi ucapan Giva, ia malah ikut melipat pakaian sambil duduk di hadapan Giva. Sambil melipat, Gerry memikirkan lagi bagaimana caranya dia bicara pada Giva kalau dia harus ke Jakarta bulan depan?      “Ngelipat bajunya jelek banget sih, Ger! Udah deh kamu mandi aja gih. Aku aja yang ngelipat bajunya.”      “Aku kan mau bantu kamu, Sayang!” Gerry terus melipati bajunya dan tidak menghiraukan ucapan Giva. Dia meletakan baju yang baru dilipat dan tangannya segera mengambil pakaian lain yang harus ia rapikan. Sampai akhirnya ia tidak sengaja mengambil potongan kain yang berada di tumpukan baju yang masih berantakan. Dengan mata menggoda, Gerry menatap lekat-lekat potongan bra berwarna pink milik Giva lalu mencoba tepat di depan dadanya. “Gi….”      Giva yang menoleh pun segera melotot. “GEEERRRY!!!” teriaknya kesal. Dia merangkak lalu menarik dalaman yang dipegang Gerry dan menyimpan tepat di belakang tubuhnya. “Nyebelin banget sih, dasar jeleeeeekk!” Giva memukul-mukul lengan Gerry dan pria itu hanya diam sambil tertawa lebar.      “Hehehe, maaf deh maaf.” Gerry menahan tangan Giva yang masih mengepal kemudian menarik tangan mungil itu ke arah tubuhnya, membuat Giva berada tepat masuk ke dalam pelukannya dengan tubuh saling berhadapan. Giva nampak salah tingkah saat tatapan matanya bertemu dengan mata Gerry.      Tidak seperti yang terjadi pada Giva, Gerry malah tersenyum simpul sambil menatap lekat Giva. Matanya tidak bisa berhenti menelusuri wajah Giva yang dekat dengan wajahnya. Bahkan saat matanya menatap bibir merah muda itu, Gerry tidak bisa menahan diri. Napas Giva terasa begitu dekat dan dia terus menatap bibir itu. Ingin mengecup dan menciumnya dengan penuh kemesraan.      “Ger, kamu neken perut aku!” Giva bicara dengan canggung. Ia salah tingkah sambil menjauh dari tubuh Gerry. Setelah kembali duduk ke tempatnya, Giva pun menundukan kepalanya sambil melanjutkan kegiatan melipat baju.      Gerry sendiri tiba-tiba tertawa kecil. Dia menatap Giva yang malu-malu karena perlakuannya sambil menurunkan kakinya dari atas bale. Dia akan mandi.      Sepeninggalan Gerry, Giva mendesah lega. Hatinya merasakan sesuatu yang berbeda. Jantungnya tadi seperti ingin melompat ke luar saat ia berada dekat dengan Gerry, terutama bibirnya. Giva tidak bisa membohongi dirinya sendiri betapa ia begitu merindukan bibir pria itu. Bibir yang telah mengajarkannya untuk bercumbuan dengan mesra.   ***  BERSAMBUNG>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN