Bab 16
Sensitif
“Jadi mau beli apa, Gi?” Gerry bertanya. Mereka sekarang berada di pusat perbelanjaan. Berdiri di jajaran rak-rak makanan ringan.
“Aku mau biskuit coklat yang di atas itu!” Giva menjawab sambil menunjuk ke arah rak yang berada di hadapannya. Dia mendongak dan menunjuk biskuit coklat kepada Gerry.
Gerry dengan cepat mengambil biskuit coklat untuk Giva. “Jangan beli makanan yang manis-manis terus, Gi! Gigi kamu bisa berlubang nantinya.”
Giva berbalik. Lebih memilih menghindari Gerry dan meninggalkannya. Dia tidak mau jika harus berdebat lagi dengan Gerry. Apalagi di tempat umum seperti ini? Ini bisa jadi sesuatu yang memalukan kalau hal itu terjadi.
Giva berjalan sambil melihat ke samping. Tidak sadar dengan orang yang sedang berdiri dihadapannya hingga mereka saling menabrak. Gerry yang melihat itu segera menghampiri Giva. Membantunya berdiri dan meminta maaf pada orang yang sudah bertabrakan dengan Giva. “Maaf, Mbak. Istri saya pasti lagi meleng jadi nabrak,” ujar Gerry tidak enak hati.
“Kok aku yang disalahin sih?”
“Gerry!” sahut wanita tadi setelah membereskan belanjaannya yang berada dalam keranjang merah.
Gerry sedikit terkejut saat melihat Yuna yang berada di hadapannya. Wanita itu nampak berubah hanya dalam tempo sehari. Rambutnya yang panjang berubah jadi pendek sebahu. “Kamu berbeda sekali, Yun!” ujar Gerry nampak terpanah melihat Yuna yang menurutnya lebih cantik dan tentu saja modis.
“Ger, dia siapa?” Giva bertanya tidak sabaran. Dia menarik baju Gerry dan berdiri di sampingnya. Memberitahu Gerry bahwa dia masih ada di sana dan menjadi saksi nyata dan hidup bahwa Gerry juga berteman dengan wanita cantik. Lalu mengapa pria itu malah melarangnya menjalin persahabatan dengan Wira? Dia juga toh sama!
***
“Bener, Gi, dia bukan siapa-siapa. Kita cuma rekan kerja. Aku enggak bohong, kamu percaya deh sama aku.” Gerry mengoceh saat mereka sedang berjalan masuk menuju rumah mereka. Baru saja mereka turun dari taksi.
“Tetap aja. Kamu tuh egois, Ger! Kamu melarang aku berteman dengan siapa saja. Tapi siapa tadi. Cewek tadi bahkan melihat kamu dengan tatapan kayak gitu. Tatapan cewek yang memuja cowoknya. Kamu selingkuh ya di belakangku? Kamu ngaku aja deh!”
“Kamu apa-apaan sih? Siapa yang selingkuh? Dia itu cuma rekan kerja. Enggak lebih enggak kurang.”
“Pokoknya aku enggak suka kamu dekat-dekat dia.”
Hening. Gerry menatap Giva. Keras kepala!
“Tuh kan, kamu pasti lagi mikirin cewek itu. Kamu selain udah berani selingkuh sekarang udah bener-bener enggak ngehargain aku ya. Kamu....”
Cup!!
“Udah selesai kan tadi argumennya?” Gerry berkata setelah melepaskan ciuman mereka. Membungkam Giva dengan bibirnya ternyata hal yang ampuh untuk meredakan kemarahannya.
“Kamu....” Bibir dan kening Giva berkerut. Dia kemudian berlari lebih cepat. Meninggalkan Gerry yang berdiri dengan senyum nakalnya. Dia sama sekali melupakan keadaannya yang sedang hamil. Masuk ke kamarnya, Giva lalu mengunci pintunya. Memasukan papan kayu berukuran sedang di antara dua pintu kembar kamarnya. “Dasar seenaknya! Berani-beraninya dia beginiin aku kayak gini. Dasar enggak tahu diri! Enggak punya pikiran! t***l! b**o! b******n! Gue benci elo, Gerry Laskar Prianto!” pekik Giva dengan napas yang nampak memburu.
Giva menggaruk perutnya pelan. “Kok gatel ya,” keluh Giva. Dia mendadak lupa kemarahannya. Lebih memilih mengusap perutnya yang sebentar lagi membuncit sambil tiduran.
“Anak Bunda jangan nakal dong! Pasti Dede kesel Ayah cium-cium Bunda ya. Bunda emang alergi sih ke Ayah.”
***
“Jadi yang kemarin itu istri kamu?” Yuna bertanya dengan nada datar. Hari ini dia memutuskan untuk tidak menjauhi Gerry dan mendekat lagi padanya. Dia ingin tahu tentang istri Gerry yang kelihatannya kekanakan itu.
Gerry mengangguk kecil. “Maaf ya dia kemarin kelihatan kurang sopan gitu. Mungkin karena lagi hamil dia jadi sensitif. Tapi biasanya dia baik dan sopan kok.”
“Santai aja lagi, Ger,” Yuna berkata singkat.
“Kamu udah enggak marah lagi?” tanya Gerry pelan. Dia berharap Yuna tidak menganggapnya lebih dari seorang sahabat.
“Untuk apa aku marah? Kapan-kapan aku boleh kan main ke rumah kamu, Ger? Aku mau mengobrol sama istri kamu. Biar aku tahu cewek seperti apa sih yang bisa mendapatkan seorang Gerry, cowok cakep kebanggaan hotel kita ini.”
“Boleh aja lagi, Yun. Kamu main kapan biar aku bilang dulu ke Giva. Dia pasti suka kalau kamu mau ketemu dia apalagi kamu sudah ada itikad mengobrol bersama. Aku harap sih kamu mau menjadi teman Giva.” Gerry tersenyum lebar. Dia harap Giva dan Yuna bisa menjadi sahabat baik. Seperti Tania. Yang bisa menjadi sahabat dekat Giva juga dirinya.
“Aku harap juga begitu,” ujar Yuna pelan sambil menoleh ke arah lain. Kata siapa aku mau berteman dengan dia. Justru sebaliknya….
“Yun, Papa kamu lagi jalan ke sini,” bisik Gerry.
Yuna melihat ke belakangnya. Ayahnya yang sedang berjalan. Mendekat ke arah meja mereka. Lalu bersalaman dengan Yuna dan Gerry. “Papa boleh bergabung sama kalian kan?”
“Silahkan duduk, Pak!” Gerry menyahut dengan sopan.
“Tidak perlu terlalu formal, Nak Gerry.”
“Iya, Ger. Papa ini orangnya gaul. Jadi biasa aja lah. Iya kan, Pa?” Yuna menatap ayahnya meminta persetujuan.
“Ya begitulah. Om cuma mau jadi ayah, ibu sekaligus sahabat terdekat Yuna. Anak Om satu-satunya ini emang paling manja sebenarnya tapi pasti pertama kali kalian bertemu sikapnya sudah seperti perawan tua. Garangnya super,” ujarnya sambil tertawa lebar. Beberapa pengunjung dan karyawan restoran hotel sampai harus menoleh karena tawanya yang terdengar begitu membahana.
“Om beda sekali dengan ayah saya. Pasti Yuna bahagia bisa mempunyai ayah seperti Om.”
Bapak pemilik hotel sekaligus beberapa restoran itu hanya tersenyum lebar. Dia kemudian menatap ke samping. Melihat anaknya, Yuna, lalu bicara padanya. “Yun, kapan-kapan kamu ajak Gerry main ke rumah. Daripada kalian ke luar ke tempat-tempat yang aneh apalagi di pinggir jalan, mending kalian main ke rumah. Bisa sambil renang atau terserah mau ngapain,” Dia kemudian melihat jam tangannya. “Papa berangkat dulu ya, ada meeting.”
Sepeninggalan ayah Yuna, Gerry mendesah. Sedikit lega karena dia tidak harus mengobrol panjang lebar dengan pemilik hotel tempat dia bekerja. Dia khawatir jadi gosip dan sebagainya.
“Ger, kamu jadi pendiam sih?” Yuna memegang tangan Gerry dan menggenggamnya.
Dengan pelan Gerry melepaskan tangan Yuna. Dia tersenyum tipis lalu meminum jus jeruknya. “Aku baik kok, Yun. Mungkin perasaanmu saja.”
Yuna mengangguk. “Kamu keberatan tadi sama Papaku?”
“Enggak sama sekali, Yun,” ujarnya sambil menggeleng. Gerry melihat ke sekitarnya. Teman-teman satu kantornya sedang sibuk sendiri. Tapi entah mengapa dia merasa ada yang lain dari perilaku mereka. Mereka seperti menutupi sesuatu. Gerry yakin itu. “Kalian dekat banget ya?”
“Kata paman dan bibiku sih iya tapi gimana ya. Papa itu udah seperti teman dekat bagiku. Pokoknya Papa itu the best banget deh.”
“Aku bisa lihat itu.”
Yuna berdehem sebentar lalu bertanya pelan, “Kalau kamu sama ayahmu bagaimana? Kamu jarang sekali bicara tentang kehidupanmu padahal aku sudah banyak cerita. Kamu menutupi sesuatu dariku seperti kamu menutupi tentang istri kamu? Kamu bilang aku teman kamu kan, Ger?”
“Maaf ya, Yun. Aku akan bicara kok tapi enggak sekarang. Aku yakin kita masih punya banyak waktu. Nanti pasti aku akan bicara apa yang terjadi padaku.”
“Tentang kehidupan kamu yang sebenarnya?” tuntut Yuna.
Gerry mengangguk. “Aku pasti bilang semuanya ke kamu, Yun. Kita sahabat dan dalam persahabatan aku pastinya harus bicara terbuka ke kamu.”
“Tentu, Ger. Aku tunggu kamu bicara jujur tentang kehidupan kamu.”
***
Giva duduk dengan gelisah. Kemarahan yang ia buat sendiri membuatnya kelaparan seharian ini. Ia hanya makan buah yang kemarin dibelinya bersama Gerry. Memakannya secomot demi secomot lalu memakan biskuit. Dia melupakan makan siangnya dan terhanyut dengan makanan yang ia santap.
“Ger, kamu udah pulang?” Giva bertanya saat melihat Gerry masuk ke kamarnya.
Gerry membuka pintu lemari pakaiannya lalu mengambil baju. “Udah enggak marah sekarang? Akhirnya kamu nyapa aku juga.”
“Apaan sih. Siapa juga yang tadi marah? Aku enggak akan pernah marah ya kalau kamu enggak pernah buat aku kesel.”
Gerry mendesah. Dia lebih memilih diam lalu membawa bajunya. Untuk mengganti bajunya yang sudah bau karena seharian ia pakai.
“Ger, aku lapar.” aku Giva saat Gerry hampir ke luar dari kamar mereka. Yap, sekarang kamar itu sudah bukan lagi milik Giva seorang tapi juga milik Gerry. Mereka sudah memutuskan berbagi kamar.
“Aku bawa makan malam. Kalau kamu udah lapar, kamu duluan makan aja. Aku mandi dulu.”
Giva menyusul saat Gerry sudah ke luar dari kamar. Dia melihat ke meja dan mengambil makan malamnya. Dengan cepat Giva memakannya dan selesai bahkan sebelum Gerry selesai mandi.
“Kamu udah selesai makan?” Gerry nampak tidak percaya saat melihat satu piring hilang bersama isinya.
“Udah,” jawab Giva pendek.
Gerry mengangguk tapi dia langsung berjalan ke luar rumah. Melihat ke tempat sampah dan tidak menemukan nasi yang ia kira sudah dibuang Giva di sana. “Kamu makan sampai habis?” tanyanya curiga.
“Kamu nuduh aku bohong? Aku kan udah bilang kalau aku lapar. Pasti aku makan habis, Ger. Kamu kok kayak enggak percayaan aku banget sih! Kamu tuh….”
“Bukan gitu, Gi.” Gerry buru-buru memotong ucapan Giva. “Kamu jangan negative thinking terus dong ke aku. Aku bukannya enggak percaya kamu tapi aku....”
“Aku enggak mau denger apa pun lagi.” Giva berbalik arah. Hendak masuk kamar.
“Gi, jangan marah, please!” Gerry menahan Giva. “Aku capek terus menerus dimusuhin kamu. Kamu enggak kasihan ke aku ya, Gi. Aku kurang sayang apa sih ke kamu?”
“Emang siapa yang butuh rasa sayang kamu? Kamu itu egois tahu enggak?” Giva lagi-lagi marah.
“Sayang, jangan marah-marah dong! Iya aku egois, aku minta maaf deh. Capek aku kamu marahin kayak gini. Kamu kenapa garang banget sih jadinya?”
“Kamu sebenarnya mau minta maaf atau mau bilang aku garang dan tukang marah sih? Kamu tuh emang....”
“Egois, nyebelin, tukang marah, jahat ... Iya aku semua yang jelek-jelek di mata kamu. Please jangan marah lagi.” Gerry menyentuh pipi Giva. Membuat wanita itu merasa berdebar untuk beberapa saat.
Giva terdiam. Mereka hanya saling menatap sampai akhirnya Giva mendesah panjang dan mengatur napasnya. Dia baru sadar kalau sejak tadi dia marah-marah saja.
Melihat tatapan Giva yang perlahan meredup, Gerry memberanikan diri memeluk Giva. Wanita itu sama sekali tidak menolak. Ia membalas pelukan Gerry lalu mereka terdiam cukup lama. Hanya saling memeluk dan menenangkan hati mereka masing-masing.
***
bersambung>>>