Bab 11
Will You Marry Me?
Gerry melihat jam tangan yang terbungkus kotak hitam. “Ini buat aku, Yun?” Gerry bertanya. Mencoba memastikan sekali lagi.
Yuna tertawa kecil, “Kamu nanya ini udah tiga kali, Ger. Jawabannya masih sama. Iya!”
Gerry balas tertawa kecil. “Kalau gitu makasih ya.” Tangannya bergerak menutup kotak jam tangan itu lalu meletakannya di atas meja.
Yuna mengangguk, dia mengambil kotak hitam itu lalu menarik tangan Gerry yang berada di atas meja. “Aku pakaiin ya, Ger?”
Tanpa menunggu jawaban Gerry, Yuna pun memakaikan jam tangan pemberiannya. Jam tangan hitam dengan ornamen kecil di pinggirannya itu nampak pas di tangan Gerry. “Bagus ya?” Yuna bertanya, untuk memastikan.
Gerry mengangguk kecil lalu menarik tangannya lagi dari tangan Yuna. Entah mengapa dia merasa kurang sreg dengan perlakuan Yuna hari ini. Baru ia sadari bahwa sikap Yuna nampak berlebihan. Dalam perjalanan ke luar dari kantor saja, Yuna memeluk lengannya erat. Membuat karyawan lain menatap mereka. Bukan masalah malu. Tapi, dia merasa ini tak benar.
Ada hati yang harus ia jaga. Itulah yang berada dalam benaknya.
***
Giva terbangun dari posisinya yang sempat terlentang. Gerry duduk di sampingnya setelah mencuri ciuman di pipi Giva. “Dasar! Mencari kesempatan dalam kesempitan.”
“Kamu sih, kayak masang gitu. Tidur-tidurannya juga kok di sini sih, Gi?”
“Suka-suka dong! Kamu aja bebas mau tidur-tiduran di sini,” gumam Giva sambil menjulurkan lidahnya. Mengejek Gerry.
Gerry menepuk keningnya. “Aku jadi contoh yang buruk dong buat kamu, Gi.”
“Iya nih!” Giva memukul lengan Gerry lalu tertawa. “Ger, tadi ada titipan dari Pak RT, KTP kita udah jadi.”
“Wah cepet ya?” Gerry tertawa kecil. “Orang kelurahan kalau dikasih uang jajan cepetnya ngalahin Valentino Rossi.”
“Dasar aneh! Bukannya makasih malah ngejekin orang. Kita tuh harusnya makasih karena dipermudah, Ger.”
“Iya, iya. Nih siapin makan malam! Aku mau mandi dulu, Gi.” Gerry memberikan bingkisan plastik yang dibawanya lalu masuk ke dalam rumah bersama Giva yang mengekor di belakangnya. Mereka berpisah saat Gerry masuk ke dalam kamar sedangkan Giva masuk ke dapur. Mengambil beberapa piring lalu meletakan nasi dan lauk pauknya saat dia kembali duduk di bale depan.
Selesai mandi Gerry menghampiri Giva yang nampak cantik di bawah sinar rembulan yang malam ini indah. Dia terdiam sebentar saat melihat sesuatu yang baru disadarinya. Perut Giva.
Perut itu nampak makin berisi. Bahkan jika dilihat-lihat Giva nampak makin gemuk. Pipinya mulai terlihat lebih chubby dari biasanya. Meskipun perubahan perlahan makin nampak tapi kecantikan dan cintanya terasa makin kuat. Bukannya sedang membohongi dirinya sendiri tapi Gerry sangat senang karena Giva sebentar lagi akan menjadi miliknya. Seutuhnya. Setelah memberikan KTP-nya pada pihak KUA dan semuanya akan beres. Mungkin dua minggu lagi mereka baru bisa meresmikan pernikahannya.
“Ger, kamu jalan atau ngesot sih? Lama banget!” Giva menggerutu saat Gerry baru saja sampai. Duduk di sampingnya dengan tatapan kosong.
“Udah enggak sabar mau makan atau kamu kangen aku?”
“Najis!” Giva menggerutu lalu mulai makan. Baru beberapa suap, Gerry mengambil piring Giva beserta sendoknya. “Kamu apa-apaan sih? Aku kan lagi makan.”
“Aku mau nyuapin kamu, Gi. Aaaa....”
Meskipun wajahnya masih cemberut tapi Giva tetap membuka mulutnya. Menerima suapan dari tangan Gerry. “Aku makan sendiri aja, Ger. Kamu juga makan tuh!” Giva menunjuk piring Gerry dengan dagunya.
“Nanti aku makan habis kamu makan.”
“Keras kepala banget sih,” gerutu Giva. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang asing di tangan Gerry. “Kamu pakai jam baru, Ger?”
Gerry melihat jamnya lalu mengangguk. “Dapat dikasih, Gi. Kalau kamu enggak suka, aku lepas aja deh!”
“Eh, enggak usah.” Giva menahan tangan Gerry. “Jamnya bagus kok. Pas buat kamu.”
“Ayo aaaaa....” Gerry kembali menyuapi Giva yang segera membuka mulutnya. Menerima suapan Gerry lagi. Mereka kini sudah seperti anak dan ayah. Sampai makanan Giva habis Gerry baru melahap makanannya yang sudah agak dingin.
Giva meminum air putih sambil melirik Gerry di balik gelas plastiknya. Perutnya sudah kenyang dan dia mulai menginginkan sesuatu. Tapi dia ragu. Ragu untuk bilang pada Gerry.
“Ger, aku ke kamar ya! Aku mau istirahat,” tutur Giva. Dia memutuskan untuk diam dan masuk ke dalam kamar setelah Gerry mengangguk tanpa pikir panjang.
Giva mengambil uang simpanannya yang ia ambil dari ATM beberapa hari yang lalu. Dia mengambil dua lembar uang Rp. 50.000,- lalu memakai jaketnya. Uang yang sudah dibawanya kini ia masukan ke dalam saku jaket yang ia pakai.
Dengan pelan, Giva memakai sandalnya sambil berbicara pada Gerry yang matanya sudah mengikutinya sejak tadi. Memperhatikannya. “Aku mau cari buah pir dulu ya. Di mini market depan.”
Sebelum menunggu jawaban dari Gerry, Giva sengaja sudah berbalik dan berjalan dengan pelan. Jantung Gerry nampak makin berdebar. Dia menjatuhkan sendoknya lalu memakai sendal rumah dan mengejar Giva. “Sabar dong, Gi.”
“Kamu kan masih makan?”
“Enggak apa-apa, aku udah kenyang kok. Ayo aku antar! Sekalian kita beli barang-barang yang lain,” ujar Gerry mencari alasan lain. Dia membuka pintu depan rumahnya lalu membiarkan Giva jalan dahulu. Dia ke luar beberapa detik kemudian. Menutup pintu depan lalu melangkah lagi.
Mereka sampai ke mini market setelah menyebrang jalan. Gerry berdiri di belakang Giva yang sudah mengambil beberapa pir yang sudah dibungkus satu set. “Yang ini atau ini, Ger?”
Gerry melihat serius lalu menunjuk yang ada di tangan kiri Giva, “Kayaknya yang ini lebih gede-gede dan fresh deh.”
Giva lalu memperhatikan dengan seksama pilihan yang ditunjuk Gerry. Dia menggeleng lalu meletakannya kembali ke frizer. “Ini lebih banyak, Ger!”
“Kalau gitu enggak usah nanyain aku juga,” Gerry nampak menggerutu. “Sini masukin ke keranjang!”
“Enggak usah! Aku mau bayar sendiri aja. Aku bawa uang kok.”
Gerry menggeleng cepat lalu menarik tangan Giva mendekat. “Aku yang bayar. Kamu mau beli apa lagi? Ke sana yuk!” Gerry menarik Giva lagi kemudian menelusuri rak-rak makanan ringan.
Giva memilih meletakannya lagi.
“Kok ditaro lagi!” Gerry protes lalu mengambil snack yang tadi diletakan kembali ke tempatnya oleh Giva dan memasukannya ke keranjang. “Kalau kamu enggak pilih apa-apa aku bakal borong barang-barang di sini. Kamu tahu kan aku ini udah kerja jadi duitku banyak sekarang.”
“Norak!” Giva menoyor kepala Gerry lalu mengambil barang-barang yang diinginkannya tanpa sungkan. Gerry tersenyum, meskipun harus ditoyor terlebih dahulu tapi dia senang Giva sudah santai dan tidak sungkan lagi.
Setelah belanja selesai Gerry dan Giva kembali ke rumahnya. Giva mengambil pirnya lalu masuk ke dalam rumah. Dia duduk di sofa ruang tamu lalu memakan pirnya dalam diam.
Gerry yang memutuskan duduk bersama Giva pun tersenyum samar. Apalagi saat dia melihat perut Giva yang sepertinya sejak mengejek-ejek ke arahnya. Entah hanya perasaannya saja atau bukan tapi tangan Gerry seperti tidak tahan untuk mengelus perut Giva. Sudah sejak lama dia tidak melakukan kontak fisik lebih dengan Giva. Mereka menjalani hidup seperti sepasang sahabat yang tinggal bersama.
“Kamu lahap banget makan pir,” ujar Gerry lalu memasukan snack keripik kentang ke dalam mulutnya.
“Aku lagi pengen banget.”
Gerry menyipitkan matanya, “Kamu ngidam enggak bilang aku ya?”
Giva mendelik dengan cepat. “Emang siapa yang ngidam,” ketusnya. “Aku enggak ngidam tahu. Aku cuma lagi pengen makan buah ini.”
“Iya, iya. Udah deh enggak usah sewot. Kapan ya enaknya kita cek up lagi?”
“Aku baik-baik aja kok.” Giva protes. Dia benar-benar tidak suka diajak ke rumah sakit atau bertemu dokter di klinik. “Dede sehat tahu, Ger.”
“Ya sehat sih sehat. Tapi kita tetap harus continue datang setiap bulannya.”
“Aku enggak mau.” Keras kepala. Giva mengambil buah pir yang masih ada di atas meja lalu beranjak ke kamar. Dia membanting pintu kamar lalu memakan pirnya lagi dengan tenang di atas tempat tidur.
Gerry mendesah panjang. Dia memutuskan tidak mengejar Giva dan terus memakan cemilannya. Jika dipikir-pikir Giva memang paling susah jika diminta cek up. Entah mengapa? Mungkin dia masih belum bisa menerima bayinya. Tapi, dari nada suaranya setiap membicarakan “Dede” yang berarti janinnya Giva nampak sudah menerimanya. Jadi….
“GEEERR!”
Gerry kaget saat mendengar jeritan Giva. Dia berlari dan menatap Giva yang sedang duduk dengan wajah ketakutan di atas kasur. “Kenapa, Gi?”
“Di bawah ada tikus kecil, Ger. Tadi siang enggak ada tapi barusan ada. Aku takut, Ger!” Saat Gerry mendekatinya, Giva segera memeluknya. “Ger, aku tidur di bale aja ya. Bareng kamu!”
“No! Nanti kamu masuk angin, Gi.”
“Tapi aku takut tidur di sini. Kalau tikusnya naik ke kasur gimana?” Giva bertanya dengan suara ketakutan.
“Ya udah aku temenin kamu tidur di kamar aja.”
Giva segera melepaskan pelukannya. Dia melihat Gerry dengan tajam lalu menggerutu. “Nanti kamu apa-apain aku lagi!”
“Ya mendingan diapa-apain aku kan daripada diapa-apain sama tikus?”
Giva dengan keras mencubit pinggang Gerry. Pria itu melolong kesakitan lalu menjauhi Giva sambil mengusap bekas cubitannya. “Tangan kamu kecil-kecil tapi pedes banget ya.”
“Bodo! Kamu sih macem-macem.”
“Sama calon suami juga perhitungan,” Gerry duduk di samping Giva.
“Emang semuanya udah diurus, Ger?”
“Udah dong. Tinggal kumpulin KTP kamu sama aku aja,” Gerry menjawab dengan lugas. Dia melirik Giva seraya menggenggam tangan wanita itu dengan erat. “Gi, maafin aku ya? Mungkin pernikahan kita enggak akan mewah. Enggak ada keluarga kita yang akan mendampingi. Tapi, yang harus kamu tahu untuk dikenang di masa depan kita nanti adalah betapa aku mencintaimu. Sepanjang hidupku. Aku janji akan berusaha menjadi suami terbaik yang bisa kamu andalkan. Aku juga janji sama diriku sendiri bahwa hanya kamulah yang akan menjadi istriku. Apapun yang terjadi di masa depan. Aku maunya menjadi suami kamu. Menjadi ayah untuk anak-anak kita. Menjadi kakek untuk cucu-cucu kita. Dalam suka dan duka. Dalam bahagia dan susah. Dalam kaya dan miskinku. Dalam setiap keadaan yang akan kulalui untuk bersama kamu ke depannya.” Gerry perlahan turun dari ranjang. Dengan kaki terlipat, dia pun berlutut di depan Giva yang duduk tepat di hadapannya. Ketika itu tangannya sudah mengambil kotak cincin berwarna merah. Mengambil cincin sederhana dengan hiasan berlian kecil di tengahnya. “Will you marry me, Givani Sandra?”
Giva terdiam tapi dia sungguh terharu dengan apa yang dilakukan Gerry. Perlahan dia mengangguk. Tanpa bicara lagi.
Gerry tersenyum dan segera menyematkan cincin cantik itu di jari Giva. Pas! “I love you, Gi!” ujarnya seraya mengecup punggung tangan Giva.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Gerry bangkit dan memeluk Giva. Meskipun tak membalas apapun tapi Gerry sudah tahu satu hal. Giva sudah menerima Gerry sebagai calon suaminya. Belum sebagai orang yang ia cintai.
***
BERSAMBUNG>>>