Bab 10
Morning Kiss
Giva menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Sudah lewat jam 19.00 dan Gerry belum juga pulang ke rumah. Apa terjadi sesuatu atau dia memang pergi ke suatu tempat? Beberapa hari lalu dia mencoba pergi ke pasar dan tidak menemukan Gerry bekerja di sana. Sepertinya Gerry sudah pindah kerja. Meskipun dia ingin tahu tapi dia tidak ingin bertanya pada Gerry. Nanti dikiranya dia peduli atau kepo. Bisa besar kepala Gerry nantinya.
Seminggu lagi sudah berlalu sejak Gerry nampak marah-marah. Berarti sudah hampir tiga minggu ia menempati rumah ini. Rumah sewaan yang cukup nyaman untuknya tapi tidak untuk Gerry yang setiap harinya harus tidur di bale yang beralaskan kayu.
Giva beranjak dari kasurnya lalu mengambil sesuatu dari laci. Dia kembali duduk sambil membawanya. Dilihatnya buku tabungannya yang masih bersisa sedikit. Mungkin besok dia harus ke ATM dan mengambil sisanya. Setelah itu dia akan tutup rekening. Kalau bisa sih dia ingin membuat rekening baru tapi rasanya tidak mungkin dengan keadaan KTP-nya sekarang yang masih KTP Jakarta.
“Gi,” Gerry mengetuk pintu sebentar lalu membuka pintu kamar Giva. Giva nampak sedang duduk dengan tegang setelah menyimpan buku tabungannya dengan terburu-buru.
Gerry mendekat. Menyentuh kening Giva dan tidak merasakan badan Giva yang panas.
“Aku enggak sakit.”
Gerry mengangguk. “Makan yuk!”
Tahu tidak mungkin menolak, Giva mengangguk dan berjalan mengekori Gerry. Mereka duduk di tempat biasa lalu mulai makan. “Kamu ke mana aja, Ger?”
“Makan dulu, Gi,” putus Gerry. Giva mengangguk lalu meminum air putihnya. Dia kembali makan dengan malas-malasan. Entah perasaannya saja atau bukan tapi dia merasa Gerry berubah. Berubah sesuatu yang belum nampak jelas pokoknya.
“Jadi kamu ke mana tadi? Kok telat pulang?” Giva mengulang pertanyaannya sesaat mereka selesai makan.
“Aku diajak bos aku ke suatu tempat. Semacam lihat lahan buat cabang restoran tempat aku bekerja.”
“Jadi akhirnya kamu berani bilang juga kalau kamu kerja di restoran?” Giva tersenyum mengejek ke arah Gerry.
“Ya udah saatnya juga, Sayang.” Gerry balas mengejek Giva saat dia bicara menggunakan kata Sayang.
“Jangan mulai lagi, Gerry!”
“Aku enggak mulai, Giva Sayang. Menurutmu kapan enaknya kita periksain kehamilan kamu? Kamu kan butuh asupan makanan yang baik, s**u hamil apa yang pas buat kamu, belum lagi vitaminnya.”
“Aku sehat kok, Ger.”
Gerry nampak ingin protes namun tidak jadi. “Gi, besok aku libur, kita jalan-jalan yuk!”
“Jalan-jalan?” Wajah Giva nampak berseri-seri. Dia sudah bosan di rumah. “Aku mau, Ger!”
“Tapi habis periksa kehamilan kamu. Oke?”
“Dasar tukang maksa! Iya deh, iya. Kita periksa.”
“Aku sayang kamu, Givani!” Gerry mencubit kedua pipi Giva sambil tersenyum lebar. Sayangnya sampai cubitannya dilepaskan, Giva tak kunjung membalas atau merespon. Gerry mendadak sedih. Dia kecewa tentu saja.
***
Gerry membangunkan Giva yang masih terlelap pada pukul 8 pagi. Nampak wajahnya yang terlelap begitu manis. Perlahan wajah Gerry mendekat. Mengusap lengannya dengan lembut lalu mengecup keningnya.
Gerry tersenyum lalu bibirnya jatuh di kedua kelopak mata Giva yang masih tertutup. Belum selesai sampai di sana, Gerry mengecup kedua pipi Giva dan untuk posisi terakhir dia melumat bibirnya. Dengan sangat lembut.
Giva yang mulai terganggu perlahan membuka matanya. Melihat wajah Gerry yang berada di atas tubuhnya. Setengah menindih. Ketika bibirnya sudah mulai merasakan dengan jelas, Giva sadar benar apa yang dilakukan Gerry padanya. Pria itu sedang memberikan morning kiss.
Meskipun Giva sudah mulai luluh dengan setiap perlakuan Gerry yang kadang intim dengannya, tapi dia tetap bingung. Dengan tuntunan dari perasaannya, Giva membalas ciuman dari bibir Gerry.
Gerry menegang tapi kemudian membalas ciumannya. Mereka saling bertautan bibir cukup lama.
“Selamat pagi,” sapa Gerry.
Giva bangun dari tidurnya. Duduk. Kemudian tangannya seperti mengusap bibirnya. Dia malu karena sudah membalas setiap ciuman dari bibir Gerry.
“Kenapa?” Gerry kembali kecewa melihat Giva seperti tidak menginginkan ciumannya barusan. Belum sempat menjawab, Giva buru-buru berlari. Meninggalkan Gerry dengan kebingungan dan kekecewaan hatinya.
***
Ini adalah hari yang tidak begitu baik untuk berjalan-jalan. Mereka lagi-lagi saling diam. Perang dingin part 2 sepertinya sudah dimulai. Giva tersenyum saat melihat hasil USG bayinya sekarang. “Posisinya bagus. Tapi karena ini kehamilan pertama harus benar-benar dijaga ya.”
“Baik, Dok.”
“Ibunya juga jangan sampai stres supaya bayinya sehat karena keadaan ibu sangat mempengaruhi keadaan janin.” Dokter tersenyum ke arah Giva yang segera mengangguk. “Ayahnya juga harus membantu agar tidak membuat ibu depresi.”
“Saya mengerti, Dok.” Gerry menjawab lantas tersenyum. Hampir setengah jam mereka berada di ruang pemeriksaan sampai akhirnya Giva dan Gerry boleh pulang.
Mereka pergi ke pantai dan duduk menikmati matahari siang hari di tepi pantai. Gerry meminum es kelapa muda dari buah kelapanya langsung sedangkan Giva memesan es jeruk nipis.
“Kamu tahu enggak, kalau kamu pakai bikini kayak mereka mungkin hidup aku cuma bertahan sampai dua hari.” Gerry bergumam pelan setelah melihat beberapa turis asing yang hanya memakai bikini berlalu lalang. Jika bagi pria normal lainnya pasti mereka senang dengan pemandangan itu tetapi bagi dirinya itu seperti godaan yang sangat menyebalkan. Apalagi jika dia membayangkan Giva lah yang memakai bikini, astaga….
“Kok gitu, Ger?” Giva nampak bingung. Apa hubungannya memakai bikini dengan kelangsungan hidup Gerry?
“Ya bisa dipastiin aku bakal bunuh mereka yang berani-beraninya melihat kamu dengan tatapan memangsanya. Aku enggak akan rela tubuh kamu dilihat pria lain.”
“Kamu kejam banget!” Giva merinding ngeri sendiri. “Lagipula aku juga enggak mau pakai bikini kayak gitu. Sekalian aja aku telanjang. Malu....”
Gerry tersenyum. Dia berpindah di samping Giva lalu memeluk pinggang Giva. Membuat gerakan lentur mengusap tubuh Giva dengan lembut lalu membisikan sesuatu. “Kalau kamu telanjang di depan aku kamu udah enggak malu kan, Sayang?”
“Gerry, jangan mulai lagi!”
“Oke deh, maaf,” Gerry mengalah lalu melepaskan tangannya dari Giva. Dia kembali ke kursinya lalu mereka berdua setengah berbaring di kursi pantai itu. Melihat-lihat pemandangan yang ada. Untuk sementara Giva melupakan semua masalah yang ada.
Gerry mulai membayangkan gajinya bulan ini. Ada kemungkinan uang itu akan ia pakai untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Giva. Sama sekali tidak ada kemewahan. Bahkan mungkin tidak ada pesta sama sekali. Yang ada hanya acara di KUA setempatan, sekedar ijab kabul dan penandatanganan berkas nikah yang sah secara hukum. Masalah saksi, pastilah dia akan menggunakan saksi bayaran. Tidak ada keluarga antara dua mempelai sama sekali.
Harapan Gerry saat itu hanya satu. Satu persatu keinginannya akan segera tercapai. Satu, menikahi Giva secara hukum dan agama. Dua, mempersiapkan kelahiran bayinya. Dan terakhir, Giva menerimanya apa adanya. Menerimanya disaat susah dan kaya. Disaat sehat dan sakit. Disaat bahagia dan duka. Disaat-saat dia akan menghabiskan sisa hidupnya. Bersama Giva. Untuk selamanya.
***
Kembali bekerja kini bukan menjadi hal yang melelahkan. Gerry memang harus berterima kasih pada atasannya dulu, Yuna. Yuna sudah banyak membantunya. Hanya dalam waktu dua minggu kerja dia sudah mendapatkan kepercayaan. Pindah ke hotel bekerja di kantor.
“Masih kerja? Udah waktunya makan siang loh?” Gerry mendongak lantas tersenyum lebar kepada Yuna yang sudah berdiri dengan kaki jenjangnya.
“Sebentar lagi, Yun. Kamu mau bareng?”
“Iya lah. Aku begini nyamperin kamunya kan?” ujar Yuna lalu tertawa dengan jenaka. “Ayo cepet selesaiin, Gerry Laskar Prianto!”
“Aku bakal selesaiin kalau mulut manis kamu diam dan biarin aku fokus selama,” Gerry melihat jam tangannya sebentar. “Lima menit!”
“Oke deh, aku tunggu kamu di lobi aja! Kamu la-ma.” Yuna tertawa lalu melambaikan tangannya pada Gerry yang balas tertawa.
Gerry menyelesaikan pekerjaannya tepat lima menit kemudian. Setelah mematikan komputernya, Gerry beranjak menuju lobi. Menemui Yuna yang nampak tersenyum saat melihat pria itu menghampirinya.
“Kita mau makan di mana, Ger?” Yuna bertanya.
“Enggak di kantin hotel aja? Biar deket?”
Yuna menolak. “Malas ah! Hari ini aku traktir kamu deh jadi kamu harus nurutin aku ke mana pun kita mau makan siang sekarang,” ujar Yuna sambil tersenyum lebar.
Gerry mengangkat bahunya. “Terserah ke mana pun Tuan Putri pergi!” Senyum itu muncul dengan tipis.
Mereka akhirnya memutuskan pergi ke restoran dekat pantai. Di area outdoor. “Enak ya di sini!” Yuna menyahut duluan.
Gerry mengangguk setuju. “Di sini sejuk! Bikin nyaman, apalagi aku ditemenin sama cewek cantik kayak kamu.”
“Bisa aja sih kamu ini,” Yuna tersenyum lebar lalu meminum cola yang sudah dipesannya. Dia menunduk menutupi wajahnya yang memerah malu.
Yuna memang sadar diri dengan apa yang dirasakannya selama ini. Dia mencoba mendekati Gerry. Rela kembali ke hotel demi bisa dekat dengan Gerry. Meskipun belum ada kabar bahagia tapi Yuna yakin Gerry care padanya.
“Mukamu merah, Yun.”
“Apa?” Yuna buru-buru merunduk lebih dalam. Takut wajahnya dilihat oleh Gerry. “Aku enggak apa-apa, Ger.”
“Kayaknya kamu sakit? Mukamu merah gitu?” Gerry bertanya dengan nada datar. Dia khawatir untuk Yuna. Perempuan baik hati yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
“Enggak kok, Ger. Aku baik-baik aja.” Yuna akhirnya mengangkat wajahnya. Rona merah yang tadinya nampak sudah menghilang setelah menetralisasikan perasaan malu sekaligus sukanya.
***
Gadis itu nampak tak bisa tertidur. Dia melihat gambar di layar ponselnya lalu tersenyum untuk kesekian kalinya. “Gerry, kamu....”
Yuna menutup matanya lalu bayangan wajah Gerry memenuhi benaknya. Setiap waktu luang di hotel ia gunakan bersama Gerry. Menghampirinya. Mendekatinya. Dia benar-benar sudah menyukai Gerry. Tapi, gimana kalau Gerry sudah punya pacar? Yuna menggeleng keras lalu optimis. “Kalau dia udah punya pacar, dia pasti bilang. Ya ampun, aku kok kayak ABG lagi jatuh cinta aja sih. Norak banget gini!”
Yuna berguling lagi. Mengambil kotak hitam yang sudah ia siapkan untuk besok. Beberapa hari lalu ia pergi ke mall dan tidak sengaja melihat jam tangan ini. Jam tangan couple sebenarnya. Dia ingin memberikan ini pada Gerry. Tapi dia khawatir, apakah Gerry tidak menyukainya?
Ah, Gerry pasti menyukainya....
***
BERSAMBUNG>>>