pria menyebalkan
Tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya hingga membuat Lidya kaget dan hampir saja terjatuh, dengan cepat dia mendorong tubuh pria itu sampai tersungkur.
"Tuan. Kalau jalan hati-hati," ucap Lidya. sambil mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya.
Pria yang setengah mabuk itu tentu saja tidak merespon perkataan Lidya, dia hanya tergeletak di lantai dengan baju yang sudah berantakan.
Lidya menatap kesal, sungguh harinya begitu sangat sial. Karena hampir saja jatuh oleh ulah pria yang tiba-tiba menabrak tubuhnya, dia lalu menoleh saat sadar tidak mendapatkan sahut dari pria tadi yang dia dorong.
Merasa bersalah dia bergegas berjongkok untuk memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. Namun, setelah beberapa kali dia mencoba menyadarkannya, tetapi pria itu tidak kunjung sadar hingga membuat dirinya bingung.
Lidya melihat sekeliling tetapi tidak ada satu orang pun yang lewat, membuat dia semakin bingung. Ditambah dia merasa bersalah karena telah membuat pria itu kini tidak sadarkan diri.
Cukup lama Lidya memandangi wajahnya membuat dia merasa tidak tega dan memutuskan untuk membantunya.
"Ya ampun, berat banget sih ini cowok," gerutu Lidya. Dengan sekuat tenaga dia mengangkat tubuh pria itu. kini dirinya bingung harus membawa kemana, hingga tiba-tiba pria itu muntah dan membuat Lidya kaget. Bahkan muntahannya mengenai bajunya.
"Kenapa kamu malah muntah? Bajuku jadi kotor kan," ucap Lidya dengan sedikit kesal.
"Sorry, gue tidak sengaja," jawabnya. dia mulai sadar sepenuhnya saat Lidya menjatuhkan tubuhnya.
Lidya bingung karena bajunya sudah terkena muntahan, dia tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti itu. Farel merasakan kepalanya sangat pusing dan berat, tentu saja itu pengaruh karena terlalu banyak minum di acara ulang tahun temannya.
Farel berdiri dengan sisa tenaga yang ada, tanpa berkata apapun dia langsung memberikan ponselnya kepada Lidya. Dirinya tampak bingung saat di berikan ponsel oleh orang yang tidak dia kenal sama sekali.
"Hubungi asisten gue," ucap Farel.
"Tuan. Sepertinya anda terlalu banyak minum, bagaimana saya tau nomornya," sahut Lidya.
"Cari yang namanya Adit," sahut Farel.
Tidak mau membuang waktu, Lidya meraih ponsel dari tangan Farel. lalu mencari nama yang di sebutkan pria yang berdiri di hadapannya, setelah menghubunginya dengan cepat Lidya kembali menyerahkan ponsel itu.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Lidya.
Merasa urusannya sudah selesai, Lidya memutuskan untuk segera pergi dari sana. Melihat hal itu Farel kembali memanggilnya.
"Lo mau kemana?" tanya Farel.
"Ada apa lagi tuan?" jawab Lidya. Dengan tatapan sedikit kesal karena niatnya membantu pria itu malahan membuat bajunya menjadi kotor.
"Gue akan ganti baju lo yang kotor itu," kata farel.
"Tidak usah, saya bisa mencucinya sendiri," ucap Lidya.
Bukan memberikan jawaban, Farel justru melangkah maju mendekat ke arah wanita yang menolongnya. Tentu saja hal itu membuat Lidya sangat takut, apalagi dia tau pria di hadapannya itu dalam keadaan mabuk.
Melihat reaksi seperti itu tentu saja Farel mengerti, bahwa dia ketakutan saat dirinya mendekat. Padahal niat Farel hanya ingin meminta dia untuk menemaninya sampai Adit datang menjemput.
"Kamu mau apa?" tanya Lidya dengan raut wajah takut.
"Temani gue sebentar," sahut farel.
"Temani!" ucap Lidya yang tampak bingung. Bahkan dia sekarang berpikir kalau pria itu punya pikiran buruk terhadapnya.
"Maksud gue, temani dulu sebentar. Sampai jemputan gue datang," jawab Farel. Tentu saja perkataan itu mematahkan apa yang di pikirkan Lidya.
"Saya kira apa," ucap Lidya. Sambil tersenyum kecil karena dia sebelumya sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Lo pikir gue cowok apaan," sahut Farel. Dia tidak terima karena Lidya telah menilainya seperti itu.
Lidya merasa malu karena telah salah paham, demi menebus rasa bersalah karena telah membuat Farel terjatuh untuk kedua kalinya. Dia setuju untuk menemaninya sampai jemputan datang.
Tetapi setelah menunggu cukup lama, yang di tunggu tidak datang juga. membuat Lidya memutuskan untuk pulang, apalagi sudah sangat larut malam.
Kerena kondisinya yang masih terpengaruh minuman, tentu saja dia tidak mungkin pulang seorang diri. Hingga meminta Lidya untuk mengantarkannya dengan iming-iming akan di berikan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih.
Lidya sedikit kesal hanya bisa menghela napas panjang, sungguh hari ini dia benar-benar sial karena bertemu dengan pria yang membuatnya susah seperti ini.Akan tetapi dia tidak ingin lama-lama berurusan dengan pria asing itu hingga dia menyetujui permintaannya terlebih setelah mendengar akan di berikan sejumlah uang.
Karena itu penawaran yang menguntungkan tentu saja dia tidak berpikir lagi untuk menerimanya, terlebih setelah memastikan bahwa pria itu bukan pria sembarang terlihat dari penampilannya yang begitu rapi.
**
Di sebuah rumah yang sangat megah seorang wanita paruh baya sedang memarahi semua orang yang ada di sana, tentunya dia tidak habis pikir mengapa tidak ada yang tahu di mana keberadaan anaknya.
"Untuk apa saya membayar kalian? kalau mengurus hal kecil seperti ini saja tidak bisa," ucapnya sambil menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri sambil menundukkan wajah mereka.
"Tapi nyonya, saya sudah mengikuti tuan muda. Namun, ternyata setelah kita mengikutinya di tengah jalan kita kehilangan jejak," ucap salah satu pria bertubuh tegap.
"Saya tidak mau dengar alasan apa pun, sekarang kalian cari tuan muda sampai ketemu," titahnya dengan raut wajah serius.
"Baik nyonya," sahut salah satu dari mereka.
Risma Wiguna, ia adalah sosok wanita yang terkenal tegas bahkan ketika dia marah, kali ini dia begitu murka karena ulah putra semata wayangnya. Yang selalu membuat dirinya marah karena sikap keras kepalanya. Bahkan kedua orang suruhnya pun tidak bisa mengurus putra yang selalu pergi keluyuran hampir setiap malam.
"Saya tidak mau tahu kalian harus mencarinya sampai ketemu, kalau tidak tanggung sendiri akibatnya," ucap Risma kembali.
"Baik nyonya," sahut keduanya.
Mereka segera membalikan badannya lalu meninggalkan ruangan itu, sekarang tinggal Risma seorang diri dengan memegangi kepalanya. Dia segera duduk sungguh Farel sudah membuatnya pusing setiap saat.
Saat sedang dalam kebingungan menghadapi tingkah putranya, tiba-tiba Risma teringat sesuatu tanpa menunggu lama dia segera beranjak dari duduknya.
"Pak ujang," panggil Risma.
Tidak begitu lama seorang pria berlari ke arah Risma. "iya nyonya," jawab Pak Ujang yang merupakan supir di rumah itu.
"Tolong siapkan mobil," pinta Risma.
"Baik nyonya," jawab Pak Ujang langsung membalik badannya dan segera melangkah pergi dari sana.
Risma bergegas menuju ke kamar untuk mengambil tas.
***
Lidya bisa bernapas lega karena mereka sudah sampai di apartemen milik Farel, sejenak dia menatap ke setiap sudut ruangan merasa sangat takjub dengan apa yang dia liat saat ini.
"Indah sekali," batin Lidya yang memang untuk pertama kalinya menginjakan kaki di tempat semewah itu.
Farel duduk di sopa sambil menyandarkan tubuhnya karena kepalanya masih terasa berat, tentu dia tidak memperdulikan Lidya yang kini tengah mengagumi apartemen miliknya.
"Hey .. nona. Bisa tolong ambilkan air?" pinta Farel.
Lidya yang sedang menikmati pemandangan di sekelilingnya langsung kaget mendengar permintaan itu, dia segar melihat ke arah Farel dengan tatapan tidak percaya. Menyadari tugasnya mengantarkan Farel selesai membuat dia menolaknya dan segera meminta apa yang telah di janjikan kepada dirinya.
"Maaf tuan, saya kesini hanya mengantarkan anda dan tugas saya sudah selesai jadi jangan meminta hal lebih," tolak Lidya yang memang tidak mau melakukannya.
Farel segera melirik dengan ujung ekor matanya dengan sangat tajam, dia memang paling tidak suka namanya penolakan dan dia tidak terima saat perintahnya di abaikan begitu saja.
"Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi ingat saya tidak akan memberikan apa pun kepada kamu," ucap Farel
Mendengar hal itu tentu saja membuat Lidya sangat kesal karena perjanjian awal dia hanya mengantarkan pulang, tetapi kenapa sekarang justru dia diperlakukan seperti pembantu. Dengan rasa kesal dia menuruti permintaan Farel terlebih dia hanya mengingat apa yang di janjikan kepadanya.
"Tuan sudah berjanji, kenapa sekarang tuan mengingkarinya?" tanya Lidya.
"Suka-suka saya, kalau kamu tidak mau mendengarkan perintah saya maka silahkan pergi dari sini," jawab Farel yang kini sudah menunjukan sifat aslinya.
Lidya tidak punya pilihan lain langsung berjalan ke arah kulkas yang tidak jauh dari mereka, dia segera mengambil satu botol air untuk di berikan kepada Farel.
Sambil berjalan menuju ke arah Farel tentu banyak sekali pertanyaan hinggap dalam pikirannya, dia sangat penasaran dengan sosok pria yang beberapa saat lalu dia tolong terlebih saat melihat apartemennya tentu pria itu bukan orang sembarang.