Dramsos 07 - Leo Pov

1169 Kata
Gue memarkirkan motor gue di dekat pos satpam sekolah ini. Ya.. gue kembali lagi ke sekolah ini dengan dua map formulir milik tetangga gue itu, dan persyaratan gue pindah ke sekolah ini, sebetulnya gue malas menginjak kan kaki kesekolah ini karena suatu hal. Di tambah lagi dengan gue ikutin gadis itu yang jalan sama pacar nya, makin patah ini hati. Hal yang gue lakuin sekarang adalah, keliling sekolah ini biar tau dimana tempat bisa bolos pelajaran, kemarin gue enggak sempat keliling sekolah ini karena terlalu sibuk ngobrol dengan gadis itu. Kenapa gue nyebut dia dengan gadis itu? karena kemarin gue lupa tanya nama nya, terus gue juga lupa panggilan ketua osis itu ke gadis  itu apa. Hari ini gue dateng sama salah satu sahabat gue yang bakalan pindah juga kesekolah ini, namanya Muh. Reydiansyah Arka’an. Biasanya kalau gue manggil dia pakai nama depan nya doang. Gue sama dia itu sama, nanti bakalan pindah pas kelas tiga. “Eh, gue muter-muter duluan ya.” “Iye, jangan jauh-jauh!” Rey berjalan meninggalkan gue yang masih berdiri menatap gedung sekolah yang bakalan gue tempatin selama satu tahun kurang nanti, tadi nya gue enggak mau pindah karena alesan nya jauh, tetapi karena gadis itu gue jadi berubah pikiran, di tambah lagi karena ada alasan lain yang membuat gue semakin betah sekolah disini. Gue melangkahkan kaki gue melewati lorong-lorong sekolah, dan berhenti tepat di ruangan indoor yang kayak nya dipakai untuk ekskul karate, taekwondo, dan silat karena disini banyak matras dan kaca yang terpasang diseluruh ruangan. Mendengar langkah kaki yang mendekat membuat gue reflek menengok kearah belakang dan yang gue temui adalah orang yang mengurus pendaftaran kemarin, dengan penampilan yang berbeda di banding murid-murid lain yang menggunakan seragam. Gadis  itu berdiri tepat di belakang gue, saat gue membalikan badan secara enggak langsung gue langsung berhadapan dengan nya, dan untuk sekedar informasi gue sama dia tingginya beda 3cm doang, termaksud golongan gadis yang tinggi. Kenapa dia pakai jaket dihari yang agak sedikit panas? Kenapa dia pakai masker? Kenapa dia pakai celana bahan warna hitam? Apa dia sakit? Apa bener yang kemarin itu dia sakit? “Lo.. kenapa?” tangan gue reflek menyentuh kening nya, guna mengecek suhu badan nya. “Gak kenapa-napa.” “Lo kenapa? Lo sakit?” disaat gue tanya seperti itu dengan nada khawatir, sedangkan dia, dia malah melemparkan senyum nya ke arah gue, yang gue lihat saat ini adalah bibirnya pucat. “Ada keperluan apa?” “Gu-gue..” gue mundur beberapa langkah, mengeluarkan dua map yang ada di tas gue. mengangkat map itu sedikit, “Balikin ini, kan lo bilang  jam sembilan sudah harus dikembalikan..” Gue tersenyum kecil, entah kenapa ada perasaan enggak tega didalam diri gue sendiri. Walaupun gue tau, salah satu resiko menjadi anggota Osis ya seperti ini, tapi kenapa hanya dia doang yang mengurus pendaftaran? Yang lain kemana? Apa hanya gue yang merasakan hal itu? “Wah.. berarti jadi pindah kesekolah ini?” tanya nya lagi, tangan kanan nya mengambil dua map dari tangan gue lalu memeriksa dua formulirnya. “hmm... Rasyad Yazidan? Yohan Ekorudin?” ucapnya seraya menatap gue bingung. Mengusap tengkuk leher yang tiba-tiba merinding, gue melemparkan pandangan gue ke kanan-kekiri, “i-itu nama tetangga gue, kalau data gue disuruh lewat online, ya online!” dia mengangguk mengerti. “Ohh.. gitu, bagus dong makin banyak teman baru nya!” “Jadi pacar lo boleh nggak? Jadi temen mah apa rasa?” gumam gue sepelan mungkin. “Pacar? Belum lihat calon teman baru nya ya? mau keliling nggak? Ayo aku anterin biar bisa lihat temen baru disekolah nya..” Astagfirullah, ini dia denger beneran? Malu gue udah malu!!! Kita berdua melangkah kan kaki berdua, melewati beberapa lorong yang agak ramai di banding tadi gue dateng diawal, saat gue melewati kelas-kelas gue pun melihat beberapa gadis cantik, tetapi gue enggak tertarik atau mungkin belum. Beberapa siswi melirik gue dan orang yang ada di samping gue. “Hai kak!! Cepet sembuh ya kak.” Ucap salah satu laki-laki yang tiba-tiba dateng nyamperin kami berdua. “Iya, makasih..” Gue tertawa pelan saat mendengar jawaban dari gadis yang ada di sebelah gue saat ini, entah apa yang membuat gue bahagia karena jawaban barusan. kami melanjutkan perjalanan menuju tempat lain, di perjalanan gue melirik gadis yang ada di sebelah gue karena dari tadi dia menatap orang lain dengan pandangan jengah. “Laper gak?” “Iya, lumayan..” “Ya udah, ke kantin aja yuk!” Di ajak makan nih? Seriusan? Bahagia ih, aslian. “Kayaknya gue mau di traktir ya?” “Iya, makan mie ayam tapi ya.” “Eh.. nggak usah, gue bercanda doang kali.” “Gak apa,” dia menengok kearah gue dengan senyuman diwajah nya, entah apa motivasinya kalau bicara sama gue selalu melemparkan senyum yang menurut gue enak di pandang itu, jadinya kan ingin menatap lebih lama. Perjalanan menuju kantin membuat gue mengingat-ingat tentang satu orang lagi, yaitu si Rey. Tiba-tiba langkah gue terhenti karena gadis yang ada di sebelah gue berhenti mendadak, gue bisa lihat kalau dia melirik ke arah gue lewat ekor matanya. Dengan cepat dia mendekati salah satu siswi yang sedang membuat lingkaran, atau setengah lingkaran dan hampir seluruhnya isinya siswi, entah apa yang membuat mereka semua berkumpul seperti itu. “Ada apa nih?” “Apasiih! Ganggu aja deh, nanti kalau mau tau gue kasih tau dikelas! Gue ceritaiin juga!” “Duh, enggak tertarik. Bisa balik ke kelas? Jam istirahat masih lama, kalian jamkos1? Panggil guru.” Ucap orang yang gue suka itu dengan penuh penekanan. “Yaelah! Gak usah sok nga-,” perkataan siswi tadi terhenti, bukan nya melanjutkan omelan nya, siswi itu malah berlari kedalam kelas, membuat kerumunan yang ramai tadi hening seketika. “Masih pada mau diluar nih? Keruang BK aja yuk, main-main kesana kalau kalian rindu sama pak Bahar, nanti kalau di tanya, bilang aja nya cabut ya? jangan bilang jamkos, nanti gue enggak punya hiburan sama anak osis yang lain.” Gue menahan tawa saat mendengar ucapan dari  gadis yang ada di depan gue itu, kerumunan siswi tadi langsung berlari menuju kelas nya masing-masing  saat mendengar penjelasan dari orang yang gue suka, yang gue heranin adalah setegas apa gadis yang ada di depan gue itu. Kalian mau tau, siapa yang membuat kerumunan para siswi tadi? sahabat gue sendiri, Rey. “Makasih ya,” Rey menghela nafas panjang, tangan nya menyeka keringat yang ada di dahi nya. “Ah ya, gue Rey..  Muh. Reydiansyah Arka’an.” “Kapanpun.. hm.., salam kenal Rey.” Gue menjitak kepala Rey pelan saat kita bertiga menuju kantin, sesampainya di kantin gue memilih tempat duduk yang dekat stan mie ayam, sesuai dengan rencana gue dan gadis itu dari awal. Gue duduk di hadapan dia, sedangkan Rey duduk di sebelah calon pacar gue yang tiba-tiba tingkah nya jadi aneh, gue menepis pikiran aneh yang ada di pikiran gue lalu mengambil beberapa foto gadis itu diem-diem, dalam hati gue berdoa, semoga hal-hal seperti ini akan terus datang untuk gue.   ------ 1. Jamkos : Jam kosong.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN