Dramsos 06

3288 Kata
Yusna Pov.   Entah kenapa belakangan ini gue merasa Rifan sikap nya lebih nyebelin dibanding biasanya, terlebih tadi saat dia bilang kalau gue adalah pacarnya dan.. maksudnya apa tadi pakai segala makein gue jaket segala di depan anak baru itu. Jangan pernah berpikir kalau gue bakalan sedih karena nggak ada kesempatan untuk dekatin anak baru yang kata teman-teman gue yang lihat dia itu ‘tampan’ untuk gue dia biasa aja, karena cantik atau tampan itu  dilihat bukan dari wajahnya doang, tapi sikap nya juga. Tadinya gue mau bilang; cantik atau tampan itu relatif, tapi gue urungkan karena dulu gue pernah buat status di salah satu aplikasi chat lalu temen gue komentar karena dia nggak suka dengan kata-kata itu, hm. Mungkin diantara kalian ada yang setuju dengan kekesalan teman gue itu? Katanya kata r e l a t i f itu harus di ganti, gue lupa sih harus di ganti pakai kata apa, soalnya itu sudah lama banget, oke lanjut. Jam mulai nunjukin waktu tepat jam empat sore, dijam- jam segini angkutan dari sekolah gue menuju arah rumah gue sudah jarang, kalaupun ada itupun harus gue tunggu kisaran setengah jam. Pasti kalian heran kenapa gue menolak penawaran Rifan tadi soal nganterin gue pulang, bener kan? Ya itu karena gue nggak mau ribut sama teman-teman nya pro banget kalau ketua osis itu pacaran sama pacarnya yang katanya sudah putus tadi. Hm, sebetulnya gue nggak terlalu perduli dengan kisah cinta mereka berdua. Gue menunggu angkutan kurang lebih setengah jam dan enggak  ada satupun angkutan yang lewat, sekalinya ada abang nya langsung bilang; “Saya mau pulang dik, jam narik nya sudah habis.” Ya, jawaban itu selalu ada disaat gue sedang buru-buru berangkat ekskul atau pulang sekolah seperti saat ini. Gue mengeluarkan ponsel dari kantung rok abu-abu lalu mengirim pesan ke kakak gue yang entah dia sudah pulang dari kampusnya atau belum. Yusna : Mas, jemput dong. Setelah mengirim pesan itu gue mencari tempat untuk duduk karena kepala gue terasa semakin pusing karena telat makan tadi siang, beberapa tempat makan yang ada didekat sekolah gue pun sedang ramai-ramai nya, enggak jarang para pengunjung tempat makan ngeliatin gue lalu kembali sibuk dengan pasangan atau teman mereka. Ya, posisi nya gue berada disebrang jalan dan orang-orang itu berada disisi jalan yang lain, gue melirik kearah warung yang sering gue datangi bersama Michelle kalau-kalau sekolah di pulangkan lebih cepat. Ponsel gue bergetar digenggaman tangan, gue membuka pesan itu lalu membaca nya sebentar. Mas Ardi : Sebentar, gue masih di parkiran kampus. Kalau mau tunggu aja dulu, Gue berdecak pelan saat membaca balasan pesan dari kakak gue itu, entah kenapa perasaan gue semakin memburuk saat mendapat jawaban itu, pasalnya kampus dia dan sekolah gue itu jauh dan belum lagi kalau macet. Yusna : Ya udah, gue tunggu. Menunggu adalah salah satu hal yang menurut gue membosankan, apalagi kalau harus menunggu dipinggir jalan seperti ini, melihat motor atau mobil yang berlalu lalang sampai kepala gue semakin pusing karena berfokus ke ban mobil atau motor. Gue menghela nafas kasar, hal yang gue rasaiin sekarang itu seperti ada yang mengawasi gue terus kepala gue semakin pusing. Cukup lama gue menunggu kakak yang entah sekarang lagi dimana itu, tepat satu setengah jam gue menunggu kedatangan nya dipinggir jalan, terang nya langit pun sudah diganti oleh lampu jalan karena langit sudah berubah warna, satu setengah jam gue menunggu disini dan belum ada tanda-tanda kedatangan kakak gue itu. Gue menengok kearah kanan lalu melihat sebuah motor tepat disebuah warung yang tutup dengan lampu yang sedikit redup, gue bisa melihat seorang laki-laki tengah memperhatikan gue sejak tadi, disaat pandangan gue sama orang itu bertemu, secepat mungkin gue mengalihkan wajah seolah tidak tau dan merapalkan doa didalam hati agar kakak gue datang lebih cepat lagi agar orang itu tidak menghampiri gue atau kemungkinan buruk nya gue diculik. Ergh, gue memiliki sisi buruk dalam pikiran gue makanya enggak jarang banyak hal-hal kayak yang gue bilang tadi suka muncul tiba-tiba. Melirik kearah orang tadi,  dan kalian tau.. orang itu sudah mulai beranjak dari duduk nya lalu menaiki motor matic berwarna hitam, motornya enggak asing tapi gue tetap takut. Disaat orang itu mulai menghidupkan motornya, gue melihat batang hidung kakak gue dengan motor besar nya. Kenapa gue tau kalau motor itu motor kakak gue? karena gue lihat helm nya yang ada tulisan R, edan kan kakak gue itu, helm aja pakai di tandain. Motor kakak gue berhenti tepat didepan gue, tangan kanan nya menepu-tepuk kepala gue pelan. “Maaf gue telat,” ujar kakak gue seraya menyerahkan helm berwarna hitam untuk gue. “Iya, gak apa..” Jawab gue pelan. “Sudah makan belum sih?” Tanya nya lagi, kak Ardian melepas sarung tangan nya lalu memegan dahi gue dengan wajah kesal nya. “Belum..” Jawab gue lagi, mengambil helm tadi memakainya lalu menaiki motor kakak gue yang sumpah demi apapun itu susah banget naiknya, di tambah lagi  kondisi gue kurang baik. Gue langsung menyandarkan kepala dipunggung kak Ardian yang sedang bergumam tidak jelas. “Mending lo keluar dari osis, mau sampai kapan lo enggak dihargain sama mereka? Lo hanya buat beban sendiri.” Gue berdeham menjawab omelan kakak gue, “Pegangan, gue nggak mau ngambil resiko lo jatuh pas gue ngebut.” Kak Ardian menarik kedua tangan gue, memerintahkan untuk memeluk pinggang nya agar gue enggak jatuh pas lagi naik motor. Dalam keadaan seperti sekarang gue enggak mungkin menolak perintah kakak gue yang pastinya itu hal yang baik untuk gue, kalau gue nolak ya berarti gue nyerahin diri gue untuk jatuh. Gue mendengus kesal, pasalnya dengan keadaan gue yang seperti ini, kepekaan gue pada lingkungan sekitar pun semakin menajam. Sejak tadi gue merasa diikuti oleh seseorang dibelakang motor milik kakak gue, disetiap motor kakak gue berbelok motor itu juga sama. Kalau pun satu arah, orang itu pasti akan mendahului motor ini karena kecepatan motor ini tidak selayak nya motor besar yang mengebut-ngebut dijalanan, pergerakan nya netral karena gue sedang sakit. Menarik tangan gue untuk melepas pelukan, lalu menepuk punggung kak Ardian pelan. “Kayak nya kita di ikutin deh...” Setelah mengetahui itu kakak gue hanya diam, gue tau pasti kakak gue akan melirik kearah spion motor. “Bang..” “....” “Bang...” “Iya, gue tau. Lo diam dulu, pegangan.. gue nggak mau lo jatuh.” Gue memeluk kak Ardian lagi, sesaat setelah gue memeluk tubuh nya. “Et, bang! Kelewatan tuh!!” “Udah diem aja, gue penasaran nih.” Kak Ardian mengegas motornya lebih cepat dari sebelum nya sampai melewati area rumah gue dan terus melajukan motornya sampai berbelok-belok menuju g**g kecil yang bisa dengan cepat kembali ke daerah rumah gue tanpa ketahuan oleh orang yang sejak tadi mengikuti kami. Motor terhenti tepat didepan rumah bercat putih gading, gue pun turun dari motor lalu menatap kak Ardian sayu karena gue merasa kalau kepala ini semakin pusing. Sewaktu turun dari motor pun gue sedikit limbung namun segera di tahan oleh kak Ardian yang masih duduk diatas motornya. “Kuat nggak jalan ke dalam?” tanya kak Ardian khawatir, gue tersenyum tipis dengan anggukan kepala kecil. “Masuk sana, gue masih ada urusan. Nanti bilang ke mama, jangan sampai lupa.” “Iya, jangan pulang pagi! Awas aja lo!” “Iya bawel! Masuk sana, ganti baju, sikat gigi terus tidur..” “Oke!” Kalau dilihat-lihat, gue dan Kak Ardian itu sebelas duabelas, enggak ada bedanya. Cuek di tampang lembut di dalam, asik dah. Gue berjalan gontai menuju kamar, rumah ini memang enggak terlalu besar namun tetap nyaman untuk ditinggali. Kakak gue enggak mempercayakan orang lain untuk ngeberesin rumah ini, alasan nya sih biar gue belajar mandiri, alasan lain nya karena keluarga gue memang mengajarkan untuk mandiri, bahkan gue dan kak Ardian selalu ditinggal sejak kecil oleh orang tua kami, tetapi ada keluarga baru yang merawat kami dengan sepenuh hati. Sesampainya dikamar, gue mendudukan diri dipinggir tempat tidur lalu mengecas ponsel yang sudah tidak menyala sejak beberapa menit yang lalu. Gue duduk sebentar untuk memastikan apa ponsel gue mengisi daya atau tidak, setelah melihat ponsel gue mengisi daya. Gue beranjak dari kasur menuju lemari guna mengambil baju ganti lalu bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi, mencuci kaki lalu mengganti baju. Keluar dari dalam kamar mandi dengan sweater dan celana olahraga panjang, duduk diatas tempat tidur lalu menyalakan ponsel, setelah ponsel itu menyala gue mengecek beberapa grup yang biasanya rutin gue cek, baru ingin mematikan ponsel, benda kotak itu bergetar tanda pesan masuk. Marif_Pato : Oi!! Yusna : Knp? Marif_Pato : Lo lagi ngapain? Yusna : Lg mau tdr. Marif_Pato : Ya udah deh, night. Gue menatap ponsel gue datar, setelah membalas pesan singkat yang enggak penting menurut gue dari ketua osis. Kepala gue yang semakin pusing menandakan kalau gue diharuskan untuk segera mengistirahatkan tubuh gue yang mulai lelah, mungkin Rifan mengirim pesan tadi hanya ingin menanyakan tugas. Merebahkan tubuh diatas tempat tidur lalu memejam kan mata. Gue harap, besok semua sudah baik-baik aja. Karena gue masih ada tugas untuk bantu bagian pendaftaran. Yusna Pov End.  *** Rifan Pov Gue menatap ponsel sejenak, membaca setiap balasan pesan yang gue kirim ke wakil gue itu, jawaban yang seperti biasa dia berikan ke gue kalau hari ini sepertinya suasana hatinya enggak bagus. Mematikan ponsel lalu mengisi daya ponsel itu, setelas memastikan terhubung gue memutuskan untuk tidur karena besok adalah hari yang panjang  dan melelahkan  bagi gue. Niit!! Nitt!! Niit!! Geez, jam weker pemberian mantan ternyata berguna juga buat gue. Entah kenapa hari ini gue mengatur jam itu di angka 5 dibanding biasanya yang berada diangka 6. Mematikan jam weker, lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Mandi dijam segini ternyata enggak sedingin yang gue kira, malah menurut gue seperti mandi di jam 10, tetapi kalau gue mandi dijam enam atau jam tujuh, rasanya seperti mandi air es. Jadi, gue mau mandi dulu. Enggak perlu gue ceritaiin kan bagaimana caranya mandi atau uhum, melepas baju? Jadi biarkan gue mandi sebentar. Setelah berlama-lama mandi akhirnya gue selesai dan sudah terlihat lebih baik dibanding tadi saat baru bangun tidur. Jangan berpikir gue enggak pakai baju, berat. Gue sudah memakai baju hitam polos dengan celana jeans selutut. Hal yang gue lakuin sekarang adalah, beresin tempat tidur lalu menyalakan televisi, mau nonton kartun gue, biar pikiran enggak butek pas nanti disekolah. Biasanya kalau jam-jam segini gue keseringan nonton kartun yang ada disalah satu chenel televisi, kadang adik gue tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar terus tidur lagi di samping gue, nggak tau tujuan nya apaan. Menonton televisi sudah menjadi bagian keseharian gue di pagi hari, itu juga kalau sedang bangun pagi, kalau tidak ya.. gue nggak nonton kartun. Setelah setengah jam kemudian, gue menatap jam yang ada di kamar gue. jam berapa sekarang? Yap! Setengah enam, kalian harus siap-siap menutup telinga kalian karena akan ada gedoran pintu dan suara teriakan dari ibu, gue pun bergegas mengganti celana jeans selutut gue dengan celana sekolah dan memakai seragam gue tanpa melepas kaus hitam tadi, beri gue sebentar untuk bersiap. Gue pun selesai dengan seragam gue, buku pelajaran sudah gue siapin dan gue tinggal berangkat ke sekolah sekarang. “RIF! BANGUN! UDAH PAGI!!” nah kan, gue bilang apa.. “RIF! KAMU UDAH BANGUN ATAU BELUM?! UDAH JAM TUJUH!” Salah satu cara orang tua membangun kan anak dengan menipu jam, agar anaknya cepat-cepat bangun dan berangkat sekolah. [ P e r n a h ngerasain kayak gitu? Komen coba.] Gue membuka pintu kamar dengan seragam yang sudah  melekat ditubuh gue, ibu gue diam beberapa saat karena melihat gue sudah rapih dan makin tampan seperti ayah, kalau kata orang yang suka Korea mah, mirip obba-obba atau oppa-oppa itu lah, gue nggak tau bagaimana penyebutan apalagi penulisan nya. “Ifan udah bangun bu, yaudah Rifan berangkat dulu bu.” “Kamu enggak mau makan dulu? Masih jam setengah enam, belum jam tujuh kok!” “Nanti aja disekolah bu, Rifan ada tugas Osis nih yang hampir deadline. Rifan berangkat dulu ya bu, Assalamualaikum..” “Iya, Waalaikumsalam.. hati-hati lho kamu bawa motor!” “Oke ma,” setelah berpamitan dan minta uang jajan, gue pun bergegas menuruni tangga lalu berjalan ke ruang tamu untuk mengeluarkan motor matic kesayangan gua. Biasanya kalau berangkat sekolah gue berangkat bareng sama teman gue dari kecil, namanya Reandre Teguh Riyanto, tetapi hari ini gue nggak bareng karena mau dateng pagi biar nggak kena hukum. Rumah gue itu di daerah Lebak Bulus sedangkan sekolah gue di daerah Jagakarsa, kadang gue mikir ngapain gue sekolah jauh-jauh, tapi gue seneng sih bisa sekolah disana karena banyak kawan baru jadinya, perjalanan yang gue tempuh kurang lebih tigapuluh menit kalau enggak macet, kalau macet mungkin bisa lebih. Gue sampai disekolah, memarkirkan motor dibawah pohon, mengunci kendaraan gue lalu turun dari motor, kalau kalian tanya gue sampai disekolah jam berapa, gue sampai disekolah jam enam pas. Berjalan melewati lorong koridor yang masih sepi, gue selalu berpapasan dengan orang-orang yang bisa dibilang suka sama gue, *adkel (dibaca: adik kelas) yang selalu merhatiin gue sambil senyum-senyum sendiri. Gue disini masih kelas sebelas, dan sebentar lagi bakalan lepas jabatan. Melepas helm lalu membawanya kedalam kelas, itu adalah salah satu ciri khas gue, sesampainya di kelas gue melihat beberapa teman gue sudah datang dan berkumpul dideretan bangku paling belakang. Gue duduk di deretan meja tengah, tepat di bawah kipas angin. Melepas tas, menaruhnya di atas meja lalu mengecek  beberapa pesan masuk yang dikirim dari beberapa adik kelas dan kakak kelas. Bisa dibilang, ketos hidup di dalam bayang-bayang fans. Gue membuka salah satu pesan LINESOS yang gue buat, sebetulnya bukan itu nama grup nya, tetapi biarlah nama grup tetap seperti itu, karena menurut gue keren. Gue melirik kearah pintu masuk, menunggu orang itu datang namun tak kunjung datang. Temen-temen gue semua hampir keseluruhan sudah masuk kelas, dari yang cacingan sampai nggak waras, enggak.. gue bercanda, dan sekarang bel masuk udah bunyi mengharuskan semuanya berbaris di lapangan untuk do’a bersama, agenda yang selalu di lakukan. “Michelle, si Yusna mana?” tanya gue ke Michelle yang saat ini sedang bercanda dengan teman nya, Bobby. “Enggk tau gue, dia belum ngabarin gue.” “Lah, gimana jadinya.. temen sendiri nggak tau kemana,” Tumbenan, biasanya dia paling tau. Michelle tertawa pelan, “sejak kapan lu jadi perduli gitu ke Una?” tanya nya balik dengan tatapan penuh selidik, gue menggerakan pandangan gue ke kanan-kiri, pertanyaan dia ngebuat gue mendadak gugup entah kenapa. “Y-ya.. kan dia temen gue juga, kenapa emang nya? Kan biasanya lo berdua terus tuh, kalau lo tiba-tiba cuma berdua sama si Bobby kan aneh jadinya.” Jawab gue. “Halah, bohong mulu lo!” “Yeh.. terserah deh, lupain aja pertanyaan gue tadi.” Kalau gue ingat kemarin si Yusna itu agak sedikit pucet, makin khawatir kan gue jadinya. Doa bersama sudah selesai, dan gue masih tidak menemukan gadis itu di barisan depan tempat orang-orang  yang terlambat. Gue menuju kelas bersama Michelle dan yang  lain nya, sesampainya dikelas gue memilih duduk di sebelah Michelle. “Lah, lo ngapain disini?” Astagfirullah... baru juga gue duduk, udah ada tanda-tanda mau diusir aja roman nya. “Terserah gue dong, orang gue bayar sekolah. Enggak boleh emang?” “Ya boleh aja, tapi awas aja kalau mantan lo marah.” Gue menganggukkan kepala, pandangan gue menatap keluar jendela, entah apa yang gue harapkan hari ini. Sedikit informasi aja, disekolah ini yang terkenal dikalangan adik kelas maupun kakak kelas itu ada beberapa, biar gue sebutin satu persatu. Ditempat pertama sudah jelas ada Gua. Gua; asik, lucu, baik, suka senyum, cinamas. Kurang ajar emang si Yusna ngasih nama panggilan gue kayak begitu, dinilai akademik gue lumayan enggak jelek-jelek banget dan gue disini sebagai kapten futsal dan ketua osis. Ditempat kedua ada Michelle. Michelle; Pinter bahasa Inggris, matematika, dia salah satu anak club bahasa inggris dan matematika, kalau senyum suka buat adik kelas yang cowok meleleh, cantik, dan nilai plusnya adalah dia bule. Ditempat ketiga ada Yusna. Yusna; nggak ada. Aih, bohong deng.. dia hampir setara sama Michelle, karena bergurunya ke Michelle, daya tariknya dia itu.. sorot matanya terkesan ‘gue benci semua orang’ padahal mah enggak, memang sudah kebiasaan kalau lihat orang lain dengan tatapan itu. tingkah nya kayak anak kecil, kadang kayak orang dewasa, ikut club bahasa Inggris dan Matematika. Ditempat keempat ada Iqbal. Iqbal; cowok tampan nya OSIS, banyak yang suka sama dia tapi si Iqbal ini udah punya pacar, jadi kalian harap bersabar ya. anak club bahasa inggris dan matematika bareng Michelle dan Yusna, bocah nya asik, kalau ketawa suka dicicil, tinggi menjulang, bahu nya lebar. Ditempat kelima ada Reandre. Reandre; Playboy nya Osis, tetapi sekarang Alhamdulilah sudah bertobat karena sudah menemukan jodohnya, doakan saja yang terbaik. Cowok tampan nya Osis, pinter dan orang nya asik banget. Sudah, segitu saja yang gue kasih tau. Kalau gue sebutin semua nanti tambah panjang cerita ini.  Gue menatap keluar jendela berharap si Yusna masuk hari ini sehabis itu gue marah-marahin dia karena terlambat, dengan gerakan cepat pintu kelas terbuka membuat suasana yang tadinya ramai mendadak sepi. Ternyata itu Chairil dengan tawa yang menggelegar, “Panik ya panik!!” membuat satu kelas menyoraki nya, Chairil berjalan mendekati gue dengan surat di tangan nya. “Rif, nih.. gue tadi di titipin surat sama orang didepan, katanya sih itu surat dari Yusna.” Mengerutkan dahi, mengambil surat tadi lalu menatap Chairil. “Maksih bro,” “Iya,” Gue membaca surat tadi dalam diam, entah kenapa perasaan gue mengatakan kalau ini anak satu sakit, dan benar aja. Gue baca surat izin sakit dari dokter, tumben-tumbenan ini anak sakit, biasanya enggak. Apa karena gue suruh ngedata? Tapikan seharusnya yang sakit tangan nya bukan fisik nya. Gue jadi enggak enak nih apa gue harus jenguk dia di rumah nya nanti? Tapi gue takut kalau ngeliat abang nya, masalahnya abang sama adek sama aja sama-sama cuek terus ngeliatin orang gak enakin mulu. Marif_Pato : Eh, woy! Yusna : Apa? Marif_Pato : Lo sakit? Seriusan? Yusna : Knpa emngnya? Marif_Pato : Gue tanya malah tanya balik, ngajak gelut ya? Yusna : HAHAHAHAHA Marif_Pato : Malah ketawa. Kalau lo gak masuk siapa yang ngurus pendaftaran? Gue? yang bener aja lo! Yusna : Nanti jam setengah delapan atau jam delapanan gue disekolah. ini  kan hari terakhir gue ngebantuin bagian pendaftaran.. Marif_Pato : Skrng aja udah jam setengah delapan ya, yu. Di mana lo? “Asli.. khawatir gue..” gumam gue tanpa bersuara. Yusna : Makanya, lihat kesamping. Marif_Pato : Samping gue Michelle temen lo. Yusna : HAHAHAHAHA Marif_Pato : Kok lo malah ketawa? Gue menatap ponsel gue datar, “s****n! Malah dibaca doang!! Michelle, bilangin kenapa sih ketemen lo itu kalau gue tanya ya dijawab! Bukan malah dibaca doang terus nggak ada balesan lagi!” omel gue karena merasa nggak di pentingkan sama seseorang setiap pesan yang gue kirim hanya dibaca doang. Orang yang ada di sebelah gue malah ketawa karena dengar gue marah-marah kayak gini. “Lo ngapain keta-,” gue menengok kearah samping dan ternyata ada si Yusna sama Michelle yang lagi ngetawaiin gue dari tadi, “-wa..” Mungkin saking sibuk nya gue sama ponsel sampai nggak tau siapa yang ada di sebelah gue, mungkin gue harus bersyukur karena bukan guru atau kepala sekolah yang ngeliatin gue main ponsel kayak sekarang ini, kalau iya.. ucapkan selamat tinggal pada ponsel gue yang pastinya bakalan disita dan dikemabliin nanti kalau kenaikan kelas. Gue menatap Yusna yang memakai jaket abu-abu, celana hitam bahan panjang dan sepatu allstar, gue melihat dia berbeda dari biasanya agak sedikit menambah kesan tomboy nya, jangan lupain masker yang dipakainya. “Udah ah, Rifan gak pinter-pinter nih.. gue ketempat pendaftaran dulu ya, bye!” Setelah mengucapkan itu, Yusna keluar dari kelas meninggalkan gue yang masih diem  dan dijadiin bahan tawaan temen sekelas. “WOI! YUS!!” teriak gue setelah Reandre nepuk bahu gue kencang.  Lemot, sumpah gue lemot banget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN