Chapter 11

1750 Kata
Suasana terasa canggung saat Ghifan yang spontan ingin menolong Syarastini yang tak sengaja makan daging panggang yang baru saja dia angkat dari panggangan. Ghifan tadinya ingin mencegah Syarastini makan daging yang dia taruh, namun Syarastini lebih dulu memasukkannya ke dalam mulut. Alhasil, beginilah, kunyahan daging yang baru dua kali dikunyah itu dikeluarkan oleh Syarastini dan telapak tangan Ghifan terbuka lalu daging itu ada di atas telapak tangannya. Cika dan Rinoi melotot ngeri, sedangkan Hendry berusaha untuk terbatuk, "Uhuk." Mata Syarastini beradu tatapan dengan mata Ghifan, terlihat jelas bahwa dua orang muda mudi itu memang kaget bukan main. Bibir mungil syarastini hanya terbuka tak lagi tertutup, matanya melihat ke arah mata Ghifan dengan tatapan kaku, seluruh tubuhnya kaku. Ghifan terlihat canggung, dia memutus kontak mata dari Syarastini lalu dengan gerakan elegan dia meletakan daging yang bercampur air liur Syarastini itu ke piring yang tadi ada daging mentah yang dijatuhkan oleh Syarastini saat tangannya bergetar. Ghifan mengambil tisu dengan tangan kiri lalu memberikannya pada tangan Syarastini yang mematung di udara. "Hati-hati, dagingnya masih panas," ujar Ghifan lalu dia mengambil tisu dan membersihkan tangannya sendiri. Blush! Syarastini menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. "Ya ampun, maaaaaaf!" dia mencicit takut. Ghifan tidak marah, malah dia tersenyum agak geli. Dia sendiri tidak bisa pungkiri bahwa air liur seseorang bercampur makanan akan dia tadah dari mulut seseorang itu. Dan seseorang itu adalah gadis di depannya. Ini adalah pengalaman baru baginya dan yang pertama kali. Syarastini rasanya tidak ingin lagi membuka wajahnya, jujur saja dari hatinya yang amat dalam, dia sangat malu. Rinoi macet bicara, dia merasa bahwa dia pasti akan dipecat. Pasalnya, Syarastini ini adalah temannya, sedangkan Ghifan itu adalah bosnya. Bosnya itu tipikal orang serius jika bekerja, namun dia supel jika diluar pekerjaan, namun masalahnya, ini di depan umum, wibawa sang bos dipertaruhkan. Rinoi ingin bersembunyi di bawah meja, sedangkan Cika menghalangi wajahnya dengan pura-pura memijat alis. Tenang, Cika, tenang. Ini adalah ketidaksengajaan. Sesuatu tindakan yang dilakukan dengan ketidaksengajaan itu tidak dikenakan hukuman pidana, batin Cika. Cika menarik lalu menghembuskan napas. Dia melihat ke arah Ghifan, "Ehm, Pak Nabhan, itu, dagingnya pasti panas dan lidah teman saya pasti terba … kar …." Cika baru sadar bahwa pasti mulut temannya sakit karena panas. "Tini, jangan bilang kalau mulut kamu melepuh?" Cika panik. Cika buru-buru membuka dua telapak tangan yang menutup wajah Syarastini dan membuka mulut lalu melihat sendiri bibir dan lidah Syarastini. "Haiiii, melepuh, kan!" Cika sangat menyesali itu. Sedangkan Syarastini hanya mengedipkan matanya berulang-ulang tanpa melakukan apapun. Sesungguhnya dia tidak merasakan bibirnya melepuh, yang dia rasakan adalah rasa malu karena membuang makanan ke telapak tangan Ghifan. Ghifan melirik ke arah bibir dan lidah Syarastini yang melepuh. "Haduh, huh kamu bakal susah makan ini kalau melepuh," ujar Cika. "Um, tidak sama sekali … aku rasa baik-baik saja. Itu … aku bisa makan kok." Syarastini menutup mulutnya, dia menyanggah ucapan Cika. Syarastini tidak ingin mempermasalahkan hal mulutnya yang melepuh. Dia kemudian memasukkan daging panggang yang sudah dingin ke dalam mulutnya lalu mengunyah secara perlahan, setelah itu dia menelannya. "Lihat, tidak ada apa-apa. Ini hanya memerah," ujar Syarastini. Syarastini mencoba meyakinkan Cika bahwa dia baik-baik saja, dia bisa makan makanan tanpa kesakitan di bagian bibir dan lidahnya. "Ok." Cika setengah percaya, dia kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Syarastini makan sambil menunduk, dia tak ingin mengangkat pandangan karena pasti dia akan malu jika melihat wajah Ghifan. Hendry hanya tersenyum tipis. Ini adalah cinta tanpa pengakuan. "Nona Tini, makanlah pelan-pelan, restoran belum tutup," ujar Hendry. Syarastini mengangguk, " … ya." Ghifan tidak lagi makan, dia hanya meraih gelas air mineral lalu meneguknya, tiba-tiba dia merasa agak panas. Mungkin karena di depan panggangan, jadi panas. Begitulah batin Ghifan. Dia sedikit menarik kerah baju dan membuka sebuah kancing kemeja untuk mendapatkan angin segar. Namun hal ini malah membuat wajah Syarastini memerah dan terbatuk-batuk. "Uhuk! uhuk! uhuk!" Syarastini meraih gelas lalu dengan cepat minum air, namun sayangnya Ghifan juga tanpa sadar memberikan gelas air dan itu adalah gelas bekas dari bibir Ghifan. Alhasil …. Byuur! "Aah …." Syarastini syok hampir serangan jantung. Wajah tampan Ghifan penuh dengan semburan air Syarastini. "Innalillahi …." Cika tak mampu melihat ke arah Ghifan dan Syarastini, dia memutuskan untuk ke kamar mandi. "Tiba-tiba aku harus ke toilet, permisi." Cika berlari ke arah kamar mandi, sedangkan Rinoi dengan perlahan menggaruk tengkuknya. "Saya rasa saya ingin menunaikan panggilan alam." Hendry melihat dua orang telah lari meninggalkannya, dia juga berinisiatif untuk melarikan diri. "Saya pergi mencuci tangan dulu." Sebelum pergi, Hendry mengambil kotak tisu lalu meletakan tisu itu ke dekat Ghifan dan Syarastini. Cus! Tiga orang telah raib dalam waktu singkat. Kini, tinggal lah Ghifan dan Syarastini dalam suasana canggung. Syarastini menunduk malu, keseluruhan wajahnya memerah hingga leher dan telinganya, dia berusaha menahan sesuatu agar tidak terdengar di pendengaran Ghifan. " … maafkan saya …." Setelah itu hanya terdengar suara pelan menahan tangisan menyesal. Lah? gadis di depannya menangis. Panik nggak? panik nggak? ya panik lah. Ghifan baru pertama merasakan panik setelah mendengar seorang gadis menahan isakannya dan mengatakan maaf. "I-itu … say-ya … aku em … itu … Tini ini … itu." Ghifan kehilangan kemampuan bicaranya, dia tiba-tiba menjadi tuna wicara. Mata Ghifan melirik ke arah sekeliling meja makannya, ada beberapa orang yang melihat dengan pandangan aneh padanya. Astagfirullah, jangan sampai mereka berpikir yang tidak-tidak, batin Ghifan panik. Dia menarik tisu lalu dengan cepat melap air di wajahnya dan berkata pada Syarastini, "Tini, itu … tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena ketidaksengajaanku yang tiba-tiba mengagetkan kamu." Ghifan berusaha untuk menenangkan Syarastini, namun mata Syarastini malah makin memerah, dia dengan gemetar meraih kunci mobil dan berdiri lalu berjalan cepat keluar dari restoran itu tanpa memakai sepatunya. Ghifan, "...." dia salah! salahkah dia jika dia juga meminta maaf? lalu salahnya dimana? Tuhan, ada apa dengan hari ini? Ghifan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dia juga tiba-tiba hilang akal, untung saja dia tidak gila karena kehilangan akal itu. Syarastini tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tubuhnya bergetar hebat karena beberapa serangan batin. Gemetaran rasa sukanya pada Ghifan, gemetaran rasa malu dan bercampur takut menjadi satu melemahkan tubuhnya. Dia rasanya tak sanggup berjalan saking gemetaran yang menyerangnya. Telapak kakinya yang tanpa alas kaki itu menyentuh dingin dan kotornya lantai. Syarastini masuk ke dalam mobilnya lalu dia menyandarkan wajahnya ke arah setir mobil dan terus menerus menyalahkan kecerobohannya. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Ghifan. Dia tidak punya wajah bertemu dengan Ghifan. Dia menangis karena malu. "Aahh … bagaimana ini?" Syarastini menggigit kukunya saat masih menyandarkan kepalanya di setir mobil. Dia amat bingung apa yang harus dia lakukan. Dua kali dia berbuat tidak sopan pada Ghifan, dan beberapa kali berteriak bagaikan orang gila. Sementara itu di toilet perempuan dan toilet laki-laki, Cika, Rinoi dan Hendry keluar bersamaan dari pintu toilet, anehnya mereka seperti orang yang sedang mengintip sesuatu di balik dinding. Yang lebih anehnya lagi, ketiga orang itu bahkan tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya saling mencuri-curi pandang ke arah meja makan mereka. "Eh? Tini kemana?" Cika mengerutkan keningnya penasaran saat melihat bahwa di meja makan mereka, tidak ada Syarastini lagi. Hanya Ghifan seorang diri. Cika keluar dari balik dinding dan berjalan mendekat ke arah Ghifan, "Permisi, Pak Nabhan, teman saya Tini di mana?" Ghifan, "...." diam beberapa detik untuk menghilangkan rasa gugupnya yang sempat menyerang dia. Ghifan tidak mungkin menjawab bahwa temannya itu pergi berlari keluar dari restoran lesehan korea ini tanpa alas kaki sambil menangis. "Itu … dia sepertinya lupa memakai sepatu ketika pergi keluar untuk mengambil udara segar," jawab Ghifan. Cika melirik ke arah sepatu Syarastini. Lah? ambil udara segar tanpa pakai sepatu. Cika berusaha tersenyum, namun senyumnya terlihat aneh, seperti dipaksakan, dia membuka resleting dompetnya lalu mengambil berapapun yang ada di dalam dompet itu, tidak lagi menghitung, karena dia juga merasa hampir kehilangan muka. Dengan pelan dia meletakan uang itu lalu berkata, "Pak, tolong sampaikan salam saya pada Rinoi, sambungkan tangannya untuk bayar tagihan makanan, saya permisi dulu, mari." Cika dengan cepat mengambil dompet dan sepatu milik Syarastini lalu berlari meninggalkan restoran. "Aduh Tuhan, cobaan apa ini?" Cika merasa ngeri. Satu kali ketidaksengajaan itu mungkin bisa dimaafkan, namun bagaimana jika itu dua kali ketidaksengajaan? Cika tidak tahu. Dia mengibas-ngibaskan hal buruk agar menjauh darinya, sepatu Syarastini yang dikibas-kibas kiri kanan. "Pergi pergi pergi hal buruk." Jadi secara langsung, Cika sebenarnya telah menikmati angin hasil dari kipasan sepatu milik Syarastini. Cika mencari mobil Syarastini di parkiran, dia ingin cepat pergi dari sini sebelum bertemu lagi dengan Ghifan. "Meskipun dia terlihat kalem, tapi kita tidak tahu isi hati orang. Psikopat saja anteng-anteng bae bunuh korbannya. Lah dia ini kan anak pengusaha sekaligus ponakan orang-orang besar, kita tidak tahu isi hatinya … jangan-jangan bisa makan oraaang-hiiii! amit-amit!" Cika mempercepat langkah kakinya, bahkan dia berlari kecil. Rinoi berusaha berjalan ke arah bosnya, dia melihat bahwa tidak ada orang lain di sekitar sang atasan kantor selain bosnya itu. Dia juga melihat uang lembaran lima puluh ribuan dan pecahan seratus di atas meja. Dia juga tidak melihat sepatu dan dompet perempuan lagi di meja dan di tempat sepatu. Hendry berjalan tanpa terlihat bahwa baru saja ada sebuah insiden yang canggung di antara mereka. Dia berkata, "Sepertinya makan siang hari ini telah selesai." Ghifan mengangguk, dia berdiri lalu tersenyum, "Tuan Kao, maaf atas insiden yang Anda lihat hari ini. Ini bukan disengajai oleh siapapun." Hendry mengangguk mengerti, "Ya, saya tidak berniat marah dengan hal tadi. Lagipula manusia itu tak luput dari kesalahan, itulah pepatah yang sering saya dengar." Ghifan mengangguk singkat. "Tuan Nabhan, saya menikmati makan siang dengan Anda. Hari ini saya banyak belajar hal positif dari Anda. Hari ini juga saya mendapat beberapa teman baik dengan masing-masing karakter yang berbeda namun tetap sopan. Saya masih ingin tetap mengenal lebih dalam lagi kerja sama kami di kedepannya," ujar Hendry. "Ya, saya juga. Senang berkenalan dengan Anda," balas Ghifan. "Baik, mari lanjutkan aktivitas masing-masing," ujar Hendry. Ghifan mengangguk mengerti, dia memakai sepatu lalu membayar tagihan. Hendry ingin mengatakan bahwa dia ingin membayar tagihan, namun Ghifan yang sudah tahu gerak-gerik Hendry, dia berkata, "Suatu kehormatan bagi saya makan siang bersama Anda." Hendry tersenyum. Sebelum mereka keluar dari restoran, Rinoi berkata, "Pak Ghifan, itu uang itu … mau diapakan?" Ghifan melirik ke arah uang yang tadi dititipkan Cika untuk Rinoi membayar tagihan makanan dia dan Syarastini. "Titipan dari temanmu yang bernama Cika, itu untukmu." Rinoi, "...." dia tidak tahu apa maksud uang itu diberikan padanya. Hendry tersenyum tipis, dia dan Ghifan sama-sama keluar dari restoran, sedangkan Rinoi mau tak mau harus membawa uang itu, mau meninggalkan uang itu juga sayang. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN