Chapter 10

1820 Kata
"Duduk di situ saja, Nona Tini." Suara Ghifan terdengar, dan yang bicara itu memang benar Ghifan, pria yang sudah lama disukai oleh Syarastini. Blush! Memerah. Kali ini tingkat kemerahan wajah dari Syarastini naik level legend. "Eh?" Ghifan bingung. Dia tak melakukan tindakan apapun pada gadis di depannya ini, namun wajah gadis yang duduk kaku di depannya ini terlihat sangat merah bagaikan kepiting rebus. "Um? Tini … kamu marah yah …?" Cika merasa bersalah seketika setelah melihat wajah merah dari sang teman. Cika menyadari bahwa dia telah keterlaluan pada temannya itu. "Ayo balik-" "Tidak! aku tidak marah! ahmp!" Syarastini berteriak cepat, namun dia menutup mulutnya lalu berbalik ke kanan dan membelakangi Ghifan. Semua orang, "...." Pria yang menjadi perwakilan perusahaan Hongkong yang bekerja sama dengan perusahaan milik Ghifan melihat wajah Syarastini dari sisi kiri Syarastini. Wajah itu memerah karena tersipu malu lalu dia melirik ke arah kolega barunya yaitu Ghifan yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Dia langsung tahu bahwa gadis yang sedang tersipu ini menyukai kolega barunya, namun sayang sekali, kolega bisnis barunya itu sama sekali tidak tahu, atau tidak ada reaksi yang berarti. Cika menggaruk kepalanya, dia amat bingung dengan tingkah sang teman. Dia tersenyum ke arah Ghifan dan kolega bisnis Ghifan, "Maaf, teman saya memang seperti ini, dia gugup, tadi saja dia ingin selamanya di dalam kamar man … di." Cika menutup mulutnya. Mulut yang biasa dia pakai untuk berdebat di pengadilan itu terlalu lancang membuka-buka rahasia orang. Blush. Wajah Syarastini lebih memerah. "Aduh, bodoh sekali aku," gumam Cika menyesali ucapannya. "It's ok. Sometime, i feel like you too, Miss." Suara dari kolega bisnis Ghifan terdengar. Dia tersenyum sembari menenangkan Syarastini. (Tak apa. Terkadang, saya juga meras seperti Anda, Nona.) "Aku dulu sering seperti Anda, namun lambat laun terbiasa tidak gugup lagi di depan banyak orang karena tuntutan pekerjaan yang saya lakukan, jadi kami dapat memaklumi Anda," ujar dia lagi, kali ini menggunakan bahasa Indonesia. Syarastini melirik ke arah kiri, dia melihat pria putih bermata sipit, "Nama saya Hendry Kao." Hendry mengulurkan telapak tangannya ke arah Syarastini. Syarastini menerima uluran tangan itu, "Syarastini." Hendry tersenyum, dia menunjuk ke arah meja, "Nama yang indah. Ayo duduk dengan baik dan kita bisa berkenalan lebih lagi." Hendry memuji nama Syarastini. Syarastini sendiri tersenyum sopan lalu menurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya lagi. Dia memperbaiki cara duduk, namun dia menunduk setelah berhadapan dengan Ghifan. Ghifan memanggil pelayan, "Saya ingin piring baru satu set." "Baik, Tuan," sahut pelayan. Tak butuh waktu lama, peralatan makan yang dipakai Rinoi dibersihkan dan diganti dengan yang baru. Sedangkan Cika merasa bahwa sang teman bisa dikontrol dan dia kembali duduk di tempat Syarastini. "Rin, sepertinya mereka itu tidak keberatan dengan keberadaan kita," bisik Cika. Wajah Rinoi berubah dongkol yang amat luar biasa setelah melihat tampang Cika yang tak bersalah. "Ok, sekarang kita bicara, kamu kerja di mana?" tanya Cika seolah tak terjadi apapun. "Kenapa ingin tahu?" tanya Rinoi balik. Cika mengangguk mengerti dengan sifat Rinoi, lalu dia berkata, "Akan aku tanyakan ke mereka, kamu kerja di-" "Farikin's Seafood," jawab Rinoi datar. Perempuan mulut lebar ini benar-benar menguji iman dan takwanya. "Ah. Sudah tahu pas lihat wajah bos kamu yang mirip dengan bos hiburan terkenal di sini," ujar Cika manggut-manggut. Rinoi bertambah dongkol. "Aku pengacara," ujar Cika sambil tersenyum. Memang pantas pekerjaan itu kau sandang, cerewet tiada diam, batin Rinoi kesal. Cika mengambil sesuatu di dompetnya, ada tiga kartu kecil. Lalu dia memberikan kartu itu pada Rinoi dan melihat sopan pada Ghifan serta Hendry, "Perkenalkan, saya Cika, seorang pengacara. Kemampuan saya memang standar namun saya hanya membela yang benar dan memeras yang salah hingga bangkrut." Cika meletakan kartu nama itu di sudut meja milik Ghifan lalu dia memberikan kartu itu pada Syarastini, "Tini, mohon sambungan tangan kamu ke Tuan Hendry." Syarastini mengambil kartu nama milik Cika lalu memberikannya pada Hendry, "Itu … teman saya." Hendry tersenyum, dia mengambil kartu nama itu lalu berterima kasih pada Syarastini, "Terima kasih, Nona Tini." "Ya, sama-sama," balas Syarastini. Hendry melihat nama yang tertera. 'Rucika Pipa' Hendry melihat ke arah Cika yang sedang mempersembahkan senyum manis, "Nama keluarga Anda Pipa?" "Bukan," jawab Cika. "Ah, saya mengerti, Rucika," ujar Hendry. "Bukan juga," ujar Cika. "Itu … lalu nama Anda …." Hendry bingung harus bertanya apa pada gadis yang bernama Rucika ini. "Coba Tuan Hendry bertanya pada saya, kenapa nama saya Rucika Pipa." "Baik. Kenapa nama kamu Rucika Pipa?" tanya Hendry. "Karena aku dilahirkan tersangkut di pipa rucika," jawab Cika. "Pftthahahamph!" Rinoi ingin sekali terbahak, Ghifan tersenyum lucu sedangkan Syarastini diam-diam menunduk tertawa tanpa suara. "Pi … pa? hahahamph!" Hendry akhirnya tertawa juga. "Lalu aku menjadi pengacara, di mana filosofiku sepanjang air mengalir jauh, sepanjang itu aku akan terus berbicara." Filosofi yang aneh. Rinoi tak kuat menahan tawa. Suasana bertambah cair dan hangat saat Hendry ikut tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Syarastini menutup mulutnya agar tawanya tak terdengar, namun malah suara Ghifan yang terdengar. "Lepaskan saja tawa kamu." Syarasini melirik ke arah Ghifan yang sedang tersenyum lucu. Blush. Memerah lagi wajahnya. "Tidak ada nama lain lagi?" tanya Rinoi. "Yah … awalnya Mamiku tetap keukeuh ingin memberi nama Pipa Wese, namun setelah perdebatan dan negosiasi panjang dengan Papi, Rucika Pipa itu lebih baik, kalau nama Pipa Rucika, nanti kena tuntut plagiat dari perusahaan pipanya." "Hahahahahahaha!" Rinoi terbahak hingga mengeluarkan air mata tawa. Sedangkan imej Hendry yang lekat dengan pengusaha berwibawa itu tak kuat menahan imejnya, Hendry terpingkal-pingkal hingga perutnya kram. "Huuh, baiklah, sudah tahu namaku, lalu mari kita berteman." Cika mengajak Hendry dan Ghifan untuk berteman. Hendry tentu saja mengangguk mau. Dia terhibur dengan sifat Cika yang humoris dan mudah berbaur sedangkan Ghifan juga ikut mengangguk saja walaupun pelan anggukannya. "Ok, sekarang kita telah berteman, mari lanjutkan makan." Cika mulai memasukan daging panggang di piring Syarastini ke mulutnya. Sementara itu Syarastini memilih untuk menunduk saja. Ghifan dan Hendry mulai memanggang daging, sedangkan Rinoi tak punya pilihan, dia ikut saja memanggang daging, toh sudah duduk begini, mau minta pindah juga tidak enak hati. Merasa bahwa gadis yang duduk di depannya ini hanya diam dan menunduk, Ghifan melihat ke arah Syarastini. "Tini, apakah kamu tidak suka daging?" "Aku suka daging! umph!" Syarastini cepat-cepat menutup mulut lalu menunduk, "Maaf, aku tidak bermaksud untuk berteriak." Suara Syarastini terdengar pelan dengan nada menyesal. Ghifan mengangguk mengerti, dia telah dengar tadi Cika mengatakan bahwa gadis ini gugup. "Tidak apa-apa. Saya juga punya seorang sepupu yang kadang-kadang canggung atau suka gugup tiba-tiba, dan saya cukup menyukai sifat itu." Blush. Terbang tinggilah jiwa Syarastini setelah Ghifan mengucapkan itu. Syarastini menahan senyum senangnya agar tak terlihat di mata Ghifan, namun Ghifan telah melihatnya. "Aku tidak melarang kamu senyum," ujar Ghifan. Syarastini jadi salah tingkah. Hendry tersenyum lucu, gadis ini memang benar-benar polos, batin Hendry. "Nona Tini, ayo panggang dagingnya," ujar Hendry. Syarastini mengangguk, dia mengambil sumpit lalu mulai menjepit daging mentah namun sayang karena terlalu gugup bertingkah di depan pria pujaannya, tangan Syarastini gemetar dan menjatuhkan daging di atas meja. Hal ini membuat Ghifan melihat tangan Syarastini yang bergetar canggung seperti orang yang kelaparan berhari-hari tak makan. Ghifan berbaik hati membantu memisahkan daging yang tadi jatuh ke atas meja ke arah piring lain lalu dia berkata, "Ijinkan aku membantu memanggangkan daging untuk kamu." Syarastini membisu dan tak bisa berkata-kata lagi. Blush. Dia menunduk karena wajahnya semakin memerah. Entah kenapa reaksi yang diperlihatkan oleh Syarastini ini membuat Ghifan tersenyum. Dia tidak terlalu mengerti kenapa dia tersenyum. Padahal seharusnya etiket atau sopan santun itu jangan menertawakan sifat orang lain. Seperti disihir oleh penyihir, Ghifan langsung memanggang irisan daging sapi di atas panggangan. Aroma daging panggang tercium di hidung Ghifan, namun Syarastini malah berusaha untuk mencium bau badan Ghifan dari pada enaknya daging panggang. Tuhan! badan Ghifan wangi sekali, aku suka! batin Syarastini menggila. Diperlakukan seperti ini membuat Syarastini berbunga-bunga, dia ingin rasanya waktu berhenti dan Ghifan akan tetap seperti ini padanya. Senyum senang yang sedari tadi Syarastini tahan, kini terlepas. Hendry hanya tertawa tanpa suara dan geleng-geleng kepala, gadis yang duduk satu meja dengannya ini memang benar-benar polos. Rinoi sedari tadi ingin melirik ke arah Syarastini, namun Cika selalu menahannya. Dia menggagalkan niatnya untuk melihat apa yang terjadi pada Syarastini. "Jangan melihatnya lagi, nanti dia tambah gugup," bisik Cika mendekat ke arah Rinoi. Rinoi melihat mata Cika, "Aku tahu." Cika tersenyum manis, "Nah, kalau kamu tahu, sebaiknya ayo makan sambil tanya-tanya padaku." "Mau tanya apa padamu?" tanya Rinoi. "Tanya apa saja, misalnya tanya ingin jadi pacarku, hahaha!" Rinoi, "...." dia berani menebak bahwa gadis yang merupakan teman SMA nya itu sampai sekarang jomblo dan tak ada yang berniat berhubungan serius dengan Cika. "Apa kamu lihat aku seperti itu? jadi benar mau jadi benar pacarku?" " … mimpi." "Hahaha." Cika tertawa geli. "Gaji berapa per bulan kerja di Farikin's Seafood?" tanya Cika. Rinoi dan tiga orang lainnya, "...." ini adalah pertanyaan yang sangat pribadi. "Ah, untuk bahan belajar aku saja. Tidak bermaksud untuk menghina atau meremehkan kok. Aku jadi pengacara juga tidak kaya, buktinya saja mobil yang aku pakai adalah mobil bekas pemberian dari Papiku. Tadi pas ke pengadilan macet, untung ada Tini tadi, jadi aku bisa nebeng. Karena kita teman, kubocorkan saja jumlah gajiku, perbulan aku tidak dibayar," ujar Cika. Rinoi dan Hendry menoleh serentak ke arah Cika. "Ada apa?" Cika bertanya karena Hendry dan Rinoi melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Dia tersenyum tanpa beban lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Aku kerja gratis dan tak dibayar istilahnya kerja rodi tapi bukan paksaan." Lah? kerja rodi tapi bukan paksaan? Kerja rodi kan kerja paksa. Rinoi bingung. Hendry ingin buka suara, namun kalimat Cika lebih dulu terdengar. "Aku kerja di kantor pengacara Papiku. Memang tidak dibayar bulanan, bayarannya nanti di rumah saja pas Papi yang dapet uang dari klien, nah, aku yang ambil." Hendry menelan ludahnya lalu tertawa geli. Hari ini dia mendapat teman dengan karakter yang sungguh menakjubkan. Cika tertawa sambil menutup bibirnya dengan jari lalu dia melanjutkan makan, sementara itu daging panggang yang dipanggang oleh Ghifan telah matang, dia meletakannya di piring Syarastini. "Terima … kasih," ujar Syarastini malu-malu. Ghifan menggagguk sambil memanggang bahan lainnya, "Tidak masalah." Syarastini melihat daging panggang di piringnya, itu adalah daging yang dipanggang oleh pria yang dia sukai, aroma daging itu bertambah enak berkali-kali lipat. Dia terus-menerus memandang daging itu tanpa niat untuk memakannya. Sayang sekali jika habis, nanti tidak ada lagi daging yang dipanggang oleh Ghifan, begitulah pikir Syarastini. Sementara itu Ghifan terus menerus memasukan daging panggang dan sayur panggang di piring Syarastini, namun dia tidak melihat ada niat dari Syarastini untuk menyentuh daging itu. "Tini, kamu tidak ingin makan daging?" tanya Ghifan. Kryuuuk kryuuk. Bunyi perut Syarastini yang melakukan acara demo. Blush. Syarastini merasa malu lalu dia berkata, "Aku makan!" Setelah itu Syarastini cepat-cepat memasukan daging ke dalam mulutnya dan yang terjadi berikutnya sungguh tak terduga. "Aaahh! Panas!" Syarastini berteriak panas. Dia ingin mengeluarkan lagi daging yang panas itu, namun dia kaku. Makanan yang penuh dengan air liurnya itu telah ada di atas telapak tangan Ghifan. Tuhanku! tidak mungkin! Matilah aku! °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN