Tuhan! ini bukan mimpi! batin Syarastini berteriak menggila.
"Sst! stt! Tini." Rinoi memanggil pelan ke arah temannya, dia tidak bisa leluasa memanggil nama temannya dengan suara besar, sebab ada perwakilan dari perusahaan Hongkong yang juga sedang ikut makan di restoran makanan korea.
Namun, Tini hanya mendengar panggilan Rinoi sekali saja, selebihnya hanya ada Ghifan di matanya.
"Rinoi!" Cika berseru senang.
Dia menarik tangan Syarastini ke arah di mana meja Rinoi dan Ghifan berada.
Rinoi membulatkan matanya, dia tidak melihat bahwa ada Cika di samping Syarastini.
Aduh, jangan Cika lagi, mulutnya besar kalau ribut, batin Rinoi mau menangis.
Syarastini hanya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dia menurut saja bagaikan orang yang dihipnotis.
"Rinoi, ah! kamu udah kerja jadi apa sekarang? nggak pernah ada kabar." Cika tanpa dosa dan ijin langsung duduk di pinggir Rinoi, dia menyisihkan Syarastini di samping kanan Ghifan. Hal ini membuat Syarastini menjadi ….
Blush.
Tentu saja merona tersipu malu seperti biasanya. Ghifan yang melihat wajah merah Syarastini itu hanya menatap saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Sedangkan Rinoi merasa tak enak hati karena telah membuat sang bos dan perwakilan dari perusahaan Hongkong tidak nyaman, itu menurut Rinoi dalam hati.
Dia segera mendekat ke arah Cika lalu berbisik, "Cika, aku sekarang sedang bersama atasan dan kolega bisnis baru, jadi tolong yah, nanti setelah ini kita saling bicara, kan sudah lama tidak bertemu, aku mohon pengertian dari kamu."
Cika melirik ke arah perwakilan dari perusahaan Hongkong yang melihat ke arah matanya dengan pandangan penasaran, namun dia tidak merasakan takut apapun. Dia lalu melirik ke arah Ghifan yang sedang melihat ke arah wajah sang teman yang kini memerah tersipu malu. Cika mengangguk mengerti, "Maaf telah mengganggu kenyamanan Anda tuan-tuan, saya tidak bermaksud. Permisi."
Cika menarik tangan kanan Syarastini menjauh dari tempat duduk Ghifan, namun itu hanya jauh tak sampai satu meter karena Cika memilih tempat tepat di samping mereka, alias di meja sebelah.
Jadilah sekarang Cika duduk bersila menunggu makanan dibawakan.
Rinoi, "...." entah dia mau bilang apa untuk Cika ini.
Sedangkan Syarastini tidak bisa menaikan wajahnya, hanya menunduk tersipu malu, sebab dia merasa bahwa Ghifan masih melirik ke arahnya.
Tini, jangan begini, jangan begini. Jangan gugup, batin Syarastini mengucapkan pada dirinya sendiri agar tak gugup, namun hasilnya sama saja, dia tak berani menaikkan wajahnya karena malu.
"Kenapa? tidak ada yang berani memarahi kamu. Kami tidak mengangguk mereka kok, memang tadi kan tidak sengaja bertemu di sini," ujar Cika.
"Huh, tunduk terus, piring daging sudah datang, jangan tunduk terus. Ayo makan!" Cika memberikan sepiring penuh daging iris mentah di atas meja, Syarastini melihat irisan tipis daging mentah itu. Merah mudah dan pastinya gurih. Merah muda seperti wajahnya.
"Lah … tambah merah wajahnya." Cika hanya geleng-geleng kepala.
"Tini, ayo makan," ajak Cika.
Sedangkan Rinoi tersenyum ke arah perwakilan perusahaan Hongkong dan bosnya, "Mereka itu teman saya ketika masih SMA, sudah lama tidak bertegur sapa dengan yang rambut pendek."
Ghifan mengangguk mengerti, sedangkan pria bermata sipit yang merupakan perwakilan perusahaan Hongkong itu masih menyelidik ke arah wajah Cika. Dia tersenyum tipis lalu melanjutkan membalik daging yang ada di panggangan.
Percakapan mereka dilanjutkan lagi.
"Saya sangat menyukai konsep yang Anda tawarkan." Suara Ghifan terdengar di pendengaran Syarastini.
Blush.
Tersipu lagi.
"Ahmph!"
Syarastini menutup mulutnya agar tidak berteriak kesenangan karena mendengar suara Ghifan.
Cika yang tahu bahwa temannya ini mungkin malu dengan seseorang, dia berinisiatif manggangkan daging untuk Syarastini, ketika dia membalikan daging, dia bisa melihat wajah Syarastini yang memerah, Cika tersenyum geli.
"Ayoo, kamu naksir dengan siapa?" tanya Cika terang-terangan.
Pertanyaan ini malah makin membuat wajah Syarastini memerah lalu matanya terbelalak takut ketahuan.
"Um aku ke kamar mandi! ahmp!" Syarastini menutup mulutnya setelah berteriak canggung.
Ruangan, "...." sunyi.
"Pfthahaha!" Cika berusaha untuk menahan tawa, namun dia tak bisa.
"Sudah, ke kamar mandi. Aku di sini."
Syarastini mengangguk, dia memakai sepatunya dan berlari ke kamar mandi dengan menutup pipinya yang memerah, malu pada Ghifan dan malu pada pengunjung yang ada.
Sesampainya di kamar mandi, Syatastini duduk di dudukan toilet sambil mengepalkan gemas kepalan tangannya.
"Kenapa aku berteriak? ya ampuuun Tini, kenapa kamu tidak bisa hilangkan kebiasaan gugupmu?!"
Syarastini gemas sendiri di dalam bilik toilet.
Dia menggigiti kuku jarinya. Entah kenapa dia tidak ingin keluar dari dalam toilet, namun sebelah hatinya yang ingin agar segera dia keluar dari toilet.
"Tidak, aku tidak mau keluar. Tidak mau …," gumam Syarastini.
"Tapi ada Ghifan …."
"Jangan keluar, kamu memalukan, Tini."
"Bagaimana ini? aku ingin dengar suara Ghifan …."
Syarastini dilema dengan pilihan simpel itu, namun menurutnya itu bukan pilihan simpel, itu pilihan berat bagi Syarastini.
"Jangan keluar."
"Ayo keluar."
"Tidak boleh keluar."
"Harus keluar."
"Memalukan jika keluar."
"Ada Ghifan di sana …."
Di luar bilik toilet yang sedang ada Syarastini, pelanggan yang menunggunakan toilet melirik ke arah pintu. Dia terlihat bingung sekaligus agak takut, sebab dia mendengar suara bisikan atau gumaman di dalam bilik toilet itu. Perempuan muda yang tadinya ingin mencuci tangan dan melihat penampilannya di cermin itu kini merasa ngeri.
"Jangan keluar." Suara bisikan.
"Harus keluar." Suara bisikan lagi.
"Jangan keluar."
"Ayo keluar."
Ok, perempuan itu langsung berlari keluar dari toilet tanpa melihat ke belakang.
"Tempat apa ini? berhantu." Perempuan itu berlari menjauh dari toilet perempuan dan kembali ke tempat di mana dia dan temannya yang lain sedang makan. Biarkan saja dia dengan penampilan begini, tak apa dari pada harus terjebak bersama makhluk gaib di dalam toilet. Baru disadarinya juga bahwa toilet itu adalah sarang jin dan makhluk halus. Makin berdirilah bulu kuduknya.
Sementara itu Cika yang sedari tadi menunggu kedatangan temannya dari toilet, tidak muncul-muncul.
"Aneh, sudah setengah jam, kok Tini belum keluar?" Cika merasa aneh. Dia berpikir, mungkin ada sesuatu yang terjadi pada sang teman.
Ucapan Cika ini membuat Rinoi dan Ghifan melirik sekilas ke arahnya.
Cika melihat daging panggang yang sudah menumpuk di piring Syarastini. Itu adalah daging panggang hasil dari panggangan dia untuk sang teman. Sedangkan daging miliknya sendiri sudah ludes habis dimakan si jago Cika.
Cika memutuskan untuk menyusul temannya. Dia melirik ke arah Rinoi.
"Rin, tolong lihat makanan ini yah, punya Tini. Awas kalau ada yang naruh sianida di daging ini, kamu yang aku tuntut karena tidak amanah, aku mau ke kamar mandi."
Setelah mengatakan ini, tanpa menunggu respon Rinoi, Cika langsung berdiri lalu memakai sepatu dan pergi menyusul Syarastini ke kamar mandi.
Sementara itu Rinoi dilema.
Rrr, kenapa harus aku terus?! batin Rinoi agak kesal. Dia kesal karena disuruh oleh Cika. Rinoi bingung, dia tidak bisa berpindah tempat karena ada bosnya. Itu tidak profesional. Namun, di sisi lain, makanan milik Syarastini terbuka begitu saja tanpa ada yang jaga.
Jadilah sekarang Rinoi menutup mata sakit kepala. Saat itu, ada seorang lelaki ingin duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Cika. Pria itu berpikir bahwa tak ada lagi orang yang memakai tempat ini. Namun suara Ghifan terdengar.
"Maaf, dua teman kami sedang ke kamar mandi, kami menjaga tempat mereka," ujar Ghifan.
Pria itu menoleh ke arah Ghifan, bersamaan dengan Rinoi yang membuka matanya kaget lalu melihat ke arah pria yang ingin menduduki tempat Cika.
Rinoi langsung mengambil tindakan, dia duduk di tempat Cika sambil menunjuk tumpukan daging panggang di piring milik Syarastini, "Itu makanan milik teman kami. Maaf yah, Mas."
Pria itu mengangguk, dia melihat ke arah wajah Ghifan. Sesungguhnya, wajah Ghifan ini sudah terkenal di dunia hiburan, namun itu hanya wajahnya saja, bukan namanya, sebab nama yang terkenal di dunia hiburan dan wajah yang seperti Ghifan ini adalah Gaishan, saudara kembar dari Ghifan.
"Tidak apa-apa, saya yang seharusnya minta maaf," ujar pria itu lalu dia berlalu pergi ke tempat lain.
Sementara itu Cika memasuki toilet, "Tidak ada orang."
Cika melirik ke arah sebuah bilik toilet yang tertutup.
"Tidak bisa keluar, wajahku tidak bisa berhenti memerah." Syarastini sedang pusing dengan perang sesama dirinya yang terpecah menjadi dua kubu.
"Tini, kamu nggak keluar?"
"Aaahk!" Syarastini terkaget.
"Lah? malah kaget." Cika geleng-geleng kepala.
"Kamu marah yah karena tadi aku bercanda doang sama kamu? aku nggak serius itu kok bilang kamu naksir sama siapa di restoran. Kan tahu sendiri, mulutku ceplas-ceplos nggak jelas."
Syarastini membuka pintu bilik toilet, lalu berkata, "Nggak, bukan gitu … itu … aku hanya sedikit gugup karena banyak orang … kamu tahu kan aku jarang keluar rumah berkumpul dengan banyak orang."
"Oh itu. Kirain kamu marah sama aku. Gini aja, coba tarik napas lalu buang."
Syarastini yang telah keluar dari bilik toilet itu melakukan apa yang disuruh oleh Cika.
"Lakukan sebanyak tiga kali," ujar Cika.
Syarastini mengikuti, dia menarik dan mengembuskan napas tiga kali seperti yang disuruh oleh temannya.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Cika.
"Lebih banyak oksigen masuk ke dalam paru-paruku," jawab Syarastini.
Cika, "...." aku tanya perasaan bukan berapa banyak oksigen yang masuk.
"Ok, kamu merasa rileks, kan?"
"Um, ya … sedikit," jawab Syarastini.
"Ok, anggap aja, itu orang-orang yang ada di restoran hanya semut. Nggak perlu lihat ke mereka, karena kamu nggak kenal mereka, jadi santai aja, ok?"
Tidak kenal? tapi aku kenal Ghifan, batin Syarastini.
"Hei, Tini, Tiniku."
"Y-ya." Syarastini menyahut lalu mengangguk mengerti atas apa yang diucapkan oleh Cika.
"Cuci tangan," ujar Cika.
Mereka berdua cuci tangan.
"Ok, ayo sekarang kita keluar."
Cika menarik tangan Syarastini keluar dari dalam toilet, lalu mereka berjalan ke arah tempat makan mereka.
Mata Cika membulat setelah dia melihat Rinoi duduk di tempatnya sambil melihat tumpukan daging panggang yang dia panggang untuk Syarastini. Cika berjalan cepat lalu melepaskan sepatu dan duduk di tempat Syarastini.
"Nah, kamu ternyata amanah." Cika tersenyum lebar.
Syarastini yang datang untuk duduk di tempatnya, kini bingung, sang teman sudah duduk di tempat miliknya, dan bahkan sudah melahap beberapa irisan daging panggang.
"Itu … aku duduk di mana?" tanya Syarastini pelan bercampur bingung.
Cika tersadar bahwa dia telah lupa sejenak dengan keberadaan temannya, namun melihat wajah Rinoi, membuat Cika tersenyum manis. Cika memasukan tiga irisan daging panggang ke dalam mulutnya, mengunyah cepat lalu berdiri, Cika mendorong pelan Syarastini duduk tempat duduk milik Rinoi.
Semua orang, "...."
Wajah Syarastini kaku setelah dia duduk melihat ke arah depannya.
Ada Ghifan.
"Duduk di situ saja, Nona Tini."
Suara Ghifan.
°°°