Siska terdiam lama setelah mendengar kabar dari Sheena. Matanya, yang biasanya lembut, kini menatap kosong ke arah foto Rizaldy di meja. Udara di ruang keluarga terasa berat dan sunyi. "Laporan itu sudah menjadi berkas perkara di pengadilan, Bu," ujar Leonard, suaranya jelas dan tenang, memecah kesunyian. "Kasus ini sudah sepenuhnya di tangan penuntut umum. Sekalipun kalian memaafkan, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan proses hukum ada di tangan hakim dan jaksa. Wewenang kita atas hal itu sudah berakhir." Sheena menatap ibunya, mencari secercah keputusan di wajah yang mulai keriput oleh penderitaan itu. "Bu," panggilnya lembut. "Sudahlah," potong Siska dengan suara parau, tangannya terangkat lalu jatuh lagi ke pangkuan. "Biarkan saja roda hukum berputar. Kita memang tidak bis

