Palu hakim menghantam meja dengan bunyi yang menggema, mengakhiri segala harapan. "Terdakwa Alma, dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Terdakwa Maya, satu tahun penjara." Teriakan histeris langsung menyayat udara. Moza seperti orang kesurupan, tubuhnya terguncang hebat sebelum nyaris roboh. "Tidak! Tidak mungkin! Mama!" Tangisnya pecah tak terbendung. Alma, dengan wajah yang tiba-tiba tampak sepuluh tahun lebih tua, dipaksa berdiri oleh petugas. Saat dia diantar keluar, Moza menerobos barisan bangku dan bergegas mendekat, tangannya terjulur. "Ma!" teriaknya dengan suara serak dan penuh keputusasaan. Alma menoleh, matanya yang lelah dan sayu memandang putrinya. "Tidak apa-apa, Nak," bisiknya, berusaha tersenyum namun yang terlihat hanya kerutan pahit. "Kau dan Diena ... harus bersatu.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


