Sheena sudah berada di rumah ibunya, dan kembali membaca pesan singkat yang dikirim oleh Raymond tadi. "Andai saja kamu mengatakan akan pulang, ibu akan memasakkan makanan kesukaanmu, Nak." Sheena menutup ponselnya dan menatap sang ibu yang duduk di sebelahnya. "Tidak perlu, Bu. Aku hanya sebentar, aku harus ke suatu tempat bertemu dengan seseorang." Siska menautkan kedua alisnya. "Kau akan kemana? Apa kau mengenal orang itu?" tanyanya cemas. Sheena mengangguk pelan. "Tentu saja, Bu. Jika tidak mengenalnya, aku tidak mungkin mau menemuinya." "Apa ada hal penting, Nak?" Sheena meraih tangan ibunya, jemarinya membelai kulit yang mulai keriput itu. "Sangat penting, Bu. Percayalah." Dia tidak akan mengatakan apa-apa, belum saatnya. Siska menarik napas panjang, suaranya bergetar halus

