Pintu ruang minum terbuka pelan saat Nana masuk dengan langkah pasti. Leonard masih terduduk di kursi bar, tak bergerak. Cahaya lampu temaram menyorot bahunya yang kaku dan segelas whiskey yang hampir habis di tangannya. "Leon, Sheena ...." Suara Nana pecah dalam kesunyian. "Biarkan dia," gumam Leonard tanpa menoleh. Gelas di tangannya diangkat, cairan amber itu menghilang dalam sekali teguk, seolah yang ditelannya bukan alkohol melainkan kepahitan yang sudah lama mengendap. Nana mendekat, langkahnya pelan dan sangat hati-hati seperti mendekati binatang buas yang terluka. "Dia sudah tahu segalanya." "Ya." Kata itu terlontar begitu saja dengan nada keras. "Dia tahu." "Dia akan membencimu, Leon. Lebih dari sebelumnya." Leonard akhirnya menoleh pada ibu asuhnya. Dalam cahaya redup, mata

