Udara sore di teras rumah terasa hangat, cahayanya menyinari wajah Raymond yang memandangi langit sore. Pria itu tidak melangkah masuk, hanya berdiri membelakangi pintu dengan postur tegang. "Ada apa, Ray?" tanya Moza, suaranya berhati-hati sembari menopang tubuhnya pada kruk. Raymond berbalik perlahan. Rambutnya yang hitam disisir rapi tampak berkilau terkena cahaya sore, namun matanya tampak gelap. "Pertemuan dengan Sheena batal. Leonard tahu, dan dia menyergap kami." Moza mengerutkan kening. "Jadi kita lanjutkan rencana B?" "Tentu," jawab Raymond, senyum tipisnya muncul sebentar. "Tapi ada kabar lain. Sheena sudah tahu segalanya, termasuk peran Leonard dalam kecelakaanmu dan Rizaldy. Dia meninggalkan mansion setelah Leonard mengaku." Moza terdiam sejenak, lalu matanya menyipit curi

