1. Hari Buruk
"Sudah Saya katakan, perbaiki latar belakangmu, pikirkan topik penting apa yang mau kamu teliti. Buat beberapa opsi untuk didiskusikan, tapi ini apa Harisha Alya Utari?!"
Telapak tangan Harsha Alya Utari atau yang akrab disapa Risa, sudah mulai terasa berkeringat dingin. Perutnya juga terasa melilit, diikuti oleh degup jantungnya yang cepat tak beraturan.
Baru kedua kalinya bimbingan, tapi nyawanya sudah terasa mau mengambang saja. Gadis itu meneguk ludahnya kasar, tak berani membantah, atau sekedar membalas tatapan dosen pembimbing dua skripsinya itu.
"Kamu sebenarnya mengerti tidak, apa yang saya maksud? Bimbingan pertama kamu manut mengangguk paham, tapi ini apa? Semua yang saya jelaskan tidak ada yang sesuai dengan hasil yang kamu tunjukkan. Kalau begini terus, kapan selesainya. Kita baru masuk bab satu, Risa!" geram bu Lani wanita setengah baya. Dia mendesah kasar dan menatap tajam.
Risa yang melihatnya menjadi semakin takut sekaligus ingin menangis melihat hasil kerja kerasnya dicoret habis. Hatinya pilu dan da-danya terasa sesak, tapi dia tak berdaya.
"Saya tidak akan mengulang penjelasan dipertemuan pertama kita, Risa. Bukan cuma kamu yang mau saya bimbing. Ingat sendiri atau tanyakan pada temanmu yang bimbingan pada saya juga. Pahami dan kerjakan dengan baik. Kalau masih salah tidak usah temui saya!" peringat dosennya itu, sambil membanting proposal skripsi Risa ke atas mejanya.
Wanita setengah baya itu mendengus, memperlihatkan kekesalannya setelah memeriksa hasil kerja keras Risa mahasiswi bimbingannya.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya izin ..." ujar Risa berusaha setenang mungkin dan masih sopan.
Lani mengangguk sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing. "Sudah, sana pergi. Kepala saya mau meledak melihatmu di sini terus. Oh, ya, sekalian beritahu pada teman-temanmu yang sudah menunggu giliran bimbingan. Suruh mereka pulang saja, saya sudah tidak mood!"
Masih tak berani melawan, Risa mengangguk saja, dan menurut. Dia menyampaikannya dan tentu saja teman-temannya yang bimbingan dengan bu Lani menjadi kecewa.
"Yah, sial bangat. Capek-capek ke kampus, nungguin sampe sore gini, malah disuruh pulang!"
"Dosen rese!"
"Tahu gini, mending Gue tidur di kosan tadi. Huft!"
Mendengar keluhan-keluhan itu, Risa menghela nafasnya kasar. Setelah dibantai habis-habisan, kini dia harus menghadapi rasa bersalahnya. Perasaan bu Lani bisa berubah itu semua berhubungan dengannya.
"Sudah-sudah gak usah terlalu dipikirkan," ujar Anggie sahabatnya.
Perempuan itu seolah tahu, menebak dari raut wajah Risa yang murung setelah keluar dari ruangan dosen pembimbingnya. Tersenyum hangat mencoba menghiburnya.
"Mau minum Milk Tea? Aku yang teraktir!" tawar Anggie melanjutkan.
Namun, tawaran itu sama sekali tak dipedulikan. Nyawa Risa seolah sudah mengambang di udara. Pikirannya masih pada saat dia bimbingan di ruang dosennya. Gundah dan tak bisa tenang.
Sementara itu, walaupun tak mendapat persetujuan Risa. Anggie tetap mentraktirnya Milk Tea. Dia bahkan mengantarnya pulang, tapi sampai di depan rumahnya.
Risa minta diturunkan di dekat pohon mangga besar di kompleks perumahan rumahnya. Anggie sebenarnya bingung dan khawatir, tapi tempat itu tinggal beberapa meter dari rumah sahabatnya, sehingga dia akhirnya menyerah dan pulang setelah mengantar Risa.
Hari mulai gelap ketika air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya, diikuti dengan bahunya yang bergetar dan dia segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gadis itu menangis sampai sesegukan.
"Huuaaa ... hik ... hik!" isaknya dengan suara tercekat di tenggorokan. "Jahat bangat sih, jadi dosen. Tidak boleh ditemui kalo gak benar ...."
Risa terus menangis tersedu-sedu, sampai sebuah telapak tangan dingin menyentuh bahunya. Gadis itu berhenti, meneguk ludahnya kasar dan tiba-tiba menjadi kaku. Dia pikir itu ulah makhluk gaib, mengingat waktu memang sudah menjelang malam dan matahari hampir sepenuhnya tenggelam, tapi setelah menoleh dia lebih kaget lagi.
Gadis itu hampir saja tersungkur, jika saja orang barusan tak sigap menarik dan menahan tubuhnya.
"Aku pikir tadi Jadi Jadian Penunggu Pohon ini. Ternyata kamu, Ris!" ucap Rafan seolah tak terjadi apa-apa, tapi beberapa detik setelahnya, wajah pria itu mulai mengamatinya dan tersenyum dengan seringai penuh ejekan. "Bisa juga, gadis tengil sepertimu nangis, mana sampai ingusnya muncrat!"
Mendengar hal itu, Risa menjadi sebal. Dia yang sudah berhenti menangis, mendorong Rafan menjauh, cemberut sambil memperlihatkan aura permusuhan di antara mereka.
Laki-laki itu sebenarnya adalah tetangganya, sejak keluarganya pindah ke kompleks tersebut. Namun, hubungan keduanya tak pernah baik.
Menurut Risa, Rafan itu menyebalkan, suka usil dan keterlaluan. Apalagi laki-laki pernah cepuin dia pada ayahnya karena bolos sekolah. Alhasil kejadian itu membuat Risa kena omel dan jajannya dipotong.
Namun, tak selesai di sana, Rafan juga kerap kali memalak jajanannya. Padahal Rafan itu jauh lebih tua darinya. Risa baru lahir, ketika laki-laki itu sudah bisa main bola. Tepatnya sembilan hampir sepuluh tahun jarak usia keduanya.
Akan tetapi, laki-laki itu sangat usil dan menurut Risa, sangat kekanakan juga, padahal harusnya dialah yang begitu. Mengingat usianya memang jauh lebih muda.
Hal itu membuat Risa sangat membencinya dan mereka menjadi musuh. Hidup Risa tak pernah tenang sejak mengenal Rafan, tapi lima tahun terakhir, tepat setelah laki-laki itu menikah, Risa tak pernah melihat, dan inilah pertemuan mereka setelah sekian lama.
"Biarin! Hik ... hik ... lagian siapa suruh kamu gangguin aku!" omel Risa meluapkan emosinya.
Sudah sejak dari ruangan dosen pembimbingnya, dan sekarang dia malah bertemu musuhnya. Waktu yang pas untuk menjadikannya pelampiasan. Lalu tanpa peringatan, Gadis itu menarik pakaian Rafan sambil mendekatkan wajahnya ke sana. Mengusap air mata sekaligus ingusnya tanpa tahu malu.
"Rasain! Kamu pantas dapat ingus ... jahat!" Risa berlari menjauh meninggalkan Rafan yang terbengong.
Rafan berdecak, tak mengejar, tapi terus memperhatikan Risa. "Ckck ... gadis itu, kok, malah salahku. Padahal cuma mau ngingetin. Sudah gelap bangat ngapain juga menangis di bawah pohon begini. Aneh-aneh saja. Risa ... Risa ... sudah lima tahun, tapi masih belum berubah."
*****