Angkasa abai. Tangan kanannya meremas gelas piala di hadapannya. Giginya bergemeretak kuat. Ada harga diri yang terluka oleh tatapan remeh mereka. “Lantas kalian mau apa? Kalian menertawai solusiku padahal berhari-hari duduk di sini tanpa hasil apapun. Kalian mau apa sekarang?” seru Angkasa dengan suara lantang. Dengan nada yang tenang, terkontrol dan menyimpan amarah. “Ke luar aliansi terasa tidak mungkin, Kakak. Itu hanya khayalan kita.” Faritzal menatap Angkasa intens. Dia menemukan netra Angkasa yang diliputi semangat sekaligus kecewa atas respon yang ia berikan. Faritzal mengatupkan bibirnya. Menarik napas dalam-dalam. Berusaha menampilkan wajah setegas mungkin. Dia ingin mempertegas bahwa ucapannya tidak boleh dibantah. “Yang Mulia benar, Ang

