Lera menyajikan seduhan daun teh dengan irisan jeruk nipis untuk Naviza. Masih hangat. Dia memaksanya minum meski Naviza tampak menolak secara halus. Beberapa detik berikutnya, Lera datang lagi dengan dua lipatan pakaian bersih dan selimut hangat. Juga dengan sedikit paksaan agar Naviza mau mengganti pakaiannya yang basah kuyub. “Jadi?” tanya Lera dengan tatapan intens setelah mendaratkan tubuhnya di sofa di hadapan Naviza. “Tolong periksa kandunganku. Apakah mungkin jika aku menggugurkannya sekarang?” Tatapan Naviza penuh. Matanya berkaca, banjir buliran bening yang enggan jatuh ke pipinya. Hawa panas menyeruak begitu saja. Mengalir deras dari seluruh pembuluhnya, memenuhi seluruh ruang dalam dadanya. Debam kuat menggema dalam dirinya. Layaknya gong raksasa y

