Pihak Guldora. “Jenderaalll!” Prajurit garis depan bertubuh jangkung setengah coklat itu berlari terhuyun meski sesekali tersandung dan jatuh. suaranya yang serak bertambah habis ketika akhirnya langkahnya berhenti sepuluh meter di depan tenda salah satu jenderal pasukan Guldora yang menyerbu Selatan. Dia masih mengatur napasnya, membungkuk 90 derajat seperti orang rukuk, kemudian bersimpuh di hadapan pimpinannya. Wajahnya dirunduh ketakutan, dengan mata yang ragu dan bibir yang terus bergetar. “Jenderal.” ucapnya lagi. Busvu, Jenderal yang pemimpin penyerbuan batas selatan ini, berdiri dari kursinya. Matanya tajam, menatap lurus pada prajurit itu. “Sejak satu jam lalu, pasukan Zakaffa masih terus berdatangan, Jenderal. mereka semakin banyak dan semakin banyak. jika terus seperti ini,

